Di sebuah padang rumput yang berbatasan dengan hutan kecil, hiduplah seekor burung pipit mungil bernama Pipi. Tubuhnya kecil, bulunya cokelat keemasan, dan suaranya nyaring seperti lonceng pagi.
Tak jauh dari sana, di pohon besar yang sudah tua, tinggal seekor burung gagak bernama Garo. Bulunya hitam legam, paruhnya tajam, dan suaranya serak. Banyak hewan lain takut padanya hanya karena penampilannya.
Suatu hari, angin kencang datang membawa badai. Sarang Pipi di semak-semak runtuh tersapu angin. Ia terjatuh dan hampir terseret air hujan.
“Cuit! Tolong!” teriaknya.
Garo yang sedang berteduh di cabang pohon mendengar suara itu. Tanpa banyak pikir, ia terbang turun menembus hujan, mencengkeram Pipi dengan hati-hati, lalu membawanya ke dahan pohon yang lebih aman.
Setelah badai reda, Pipi menunduk malu.
“Terima kasih… aku kira burung gagak itu menakutkan.”
Garo terkekeh pelan. “Dan aku kira burung pipit itu cerewet dan manja.”
Mereka saling menatap, lalu tertawa.
Sejak hari itu, Pipi sering terbang ke pohon besar tempat Garo tinggal. Pipi pandai menemukan biji-bijian kecil di ladang. Garo kuat dan tahu tempat makanan tersembunyi di hutan. Mereka mulai berbagi.
Namun persahabatan itu tidak mudah.
Burung-burung lain berbisik, “Mengapa pipit berteman dengan gagak? Warna mereka saja sudah berbeda.”
Pipi pernah merasa ragu. Ia melihat bulunya yang cokelat kecil di samping Garo yang besar dan hitam. “Apa kita aneh?” tanyanya.
Garo menjawab pelan, “Langit tidak pernah memilih warna awan sebelum menurunkan hujan. Mengapa kita harus memilih teman berdasarkan warna bulu?”
Kata-kata itu membuat Pipi tersenyum.
Suatu musim kemarau panjang datang. Makanan semakin sulit ditemukan. Pipi yang kecil kesulitan terbang jauh. Garo lalu menggendongnya secara bergantian, membawanya ke ladang yang masih tersisa biji.
Ketika pemburu datang memasang jebakan, Pipi yang lincah memperingatkan Garo lebih dulu. Mereka saling menyelamatkan, bukan karena warna bulu yang sama, tetapi karena hati yang saling percaya.
Akhirnya hewan-hewan lain mulai mengerti. Persahabatan mereka justru membuat keduanya lebih kuat.
Dan sejak saat itu, di pohon tua di tepi padang rumput, sering terdengar suara cuit ceria bercampur suara serak yang hangat.
Karena ternyata, persahabatan tidak pernah soal hitam atau cokelat.
Ia soal hati yang saling menjaga.
Tamat.