Pemuda dengan julukan “tercepat dari yang terbaik", begitulah orang-orang memanggilnya ketika namanya muncul di layar besar. Nomor 81 tersemat di dadanya, kain tipisnya menempel pada kulit yang sudah basah bahkan sebelum peluit berbunyi. Tribun penuh. Spanduk dilambaikan. Uang berpindah tangan jauh sebelum garis putih disentuh siapa pun.
“Ayo terus lari, Bung! Jangan kau hamburkan uangku!” teriak seseorang yang suaranya pecah di antara ratusan suara lain yang menuntut hal serupa.
Peluit memekik.
Sepatu menyentuh tanah dengan bunyi ritmis yang teratur _tap, tap, tap_, membelah udara siang yang panas. Nomor 81 segera berada di sisi luar, bahunya sejajar dengan nomor 7. Angin mengusap wajahnya, menekan pipinya, membuat rambutnya tertarik ke belakang seperti bendera kecil yang menolak diam.
“Kontestan nomor 81 melewati nomor 7!” suara komentator menggulung di atas kepala para penonton.
Napasnya masuk dalam-dalam, keluar pendek. Dada naik turun seperti pompa yang dipaksa bekerja lebih cepat dari biasanya. Pandangannya lurus ke depan, ke punggung nomor 4 yang bergerak beberapa langkah di depannya. Otot betisnya mengeras seperti kawat yang ditarik terlalu kencang.
‘Sedikit lagi.’
Nomor 4 kini sejajar. Bahu bersentuhan sepersekian detik. Sorakan tribun berubah menjadi gelombang yang mendorong dari belakang. Nomor 81 condong ke depan, seolah-olah tubuhnya ingin lebih dulu mencapai pita dibanding kakinya sendiri.
“Nomor 4 terlewati! Lihat rambut 81, ia memimpin!”
Garis-garis lintasan seperti bergeser di bawahnya. Matahari memantul dari permukaan, membuat pandangannya bergetar. Dunia menyempit; hanya pita tipis di ujung sana, hanya suara jantung yang berdentam di telinga.
‘_Krackk_’
Sesuatu di bagian bawah tubuhnya berbunyi pendek, nyaris tertelan sorak. Langkah berikutnya tidak lagi seimbang. Tumit menyentuh tanah lebih dulu dari biasanya, lututnya bergetar seperti engsel berkarat yang dipaksa membuka. Rambutnya yang tadi melambai kini tersentak ke depan.
“Tiba-tiba gerakannya berubah!”
Lintasan yang tadi terasa datar mendadak seperti ombak yang bergelombang. Bayangannya sebelumnya panjang dan tipis, menyatu tepat di bawah tubuhnya. Ujung sepatunya menyeret, meninggalkan garis tipis di atas permukaan. Tubuhnya bergerak terlalu cepat untuk berhenti, terlalu berat untuk tetap tegak. Telapak tangan menghantam lintasan lebih dulu, disusul siku, bahu. Panas permukaan menyengat kulit. Gesekan kasar mengoyak kain dan kulit.
“Akkhhh!”
Sorakan pecah menjadi desis kolektif. Beberapa orang berdiri. Beberapa tertawa pendek, tidak yakin harus bersuara apa. Nomor-nomor lain melintas di sampingnya, bayangan mereka menyapu tubuhnya yang masih berusaha menekan tanah. Sepatu-sepatu berwarna cerah menembus garis pita satu per satu. Pita itu berkibar, tak lagi utuh, berkibar seperti mengejek.
Ia menarik lututnya ke bawah tubuhnya. Tangannya gemetar saat mencoba menopang beratnya sendiri. Satu langkah. Lututnya hampir menyentuh lagi, tapi ia menahan dengan gigi terkatup rapat. Satu langkah lagi. Setiap sentuhan kaki meninggalkan noda merah tipis yang segera memudar di bawah terik matahari.
Tribun yang tadi riuh kini hanya menyisakan suara kain spanduk yang terseret angin dan daun-daun yang saling bergesek. Komentator terdiam beberapa detik terlalu lama.
Nomor 81 bergerak melewati bekas pita yang kini terkulai di satu sisi. Bukan lagi diiringi sorak, bukan lagi dipanggil dengan julukan megah. Hanya bunyi napasnya yang patah-patah, gerakannya tidak lagi seperti ritme awal.
“Apa-apaan ini! Uangku!” teriak seseorang, kali ini tanpa semangat, lebih mirip gerutu.
“Tercepat dari yang terbaik? Puih!”
Kepalanya terangkat perlahan. Langit biru menyilaukan matanya yang berair. Bahunya naik turun. Bibirnya bergetar, tapi tak ada kata yang keluar. Air asin mengalir tanpa bisa ia tahan, menetes ke lintasan yang tadi ia kuasai. Kedua tangannya mengepal tanah, butiran halus masuk ke sela-sela kukunya. Tubuhnya merunduk, dahi hampir menyentuh permukaan yang panas, seolah meminta sesuatu yang tak pernah dijanjikan. Satu langkah lagi yang tidak mengkhianatinya.