Di sebuah perumahan kecil di Batam, tinggal seorang gadis bernama Sabiru Anatasya. Orang-orang yang baru melihatnya selalu punya kesan yang sama: pendiam, lembut, dan sedikit polos. Rambut panjangnya sering dibiarkan terurai, dan senyumnya selalu malu-malu.
Tetangga hanya tahu satu hal — dia mahasiswi yang baru pindah dan jarang keluar rumah.
“Anak itu pasti tipe rajin belajar,” kata ibu-ibu kompleks.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi setiap malam setelah lampu kamarnya redup.
Begitu pintu kamar tertutup, Sabiru Anatasya duduk di depan laptopnya, mengenakan headset hitam besar. Matanya yang tadi terlihat lembut berubah fokus tajam.
Layar game menyala.
Username yang muncul bukan Sabiru.
QueenSab.
Nama itu terkenal di komunitas game online. Pemain yang terkenal dingin, strategi tajam, dan hampir tak pernah kalah. Banyak yang mengira QueenSab adalah gamer pria profesional karena gaya mainnya terlalu rapi dan taktis.
“Tim ikut aku. Jangan maju sendiri,” ucapnya tenang melalui voice chat.
Pertandingan dimulai.
Musuh menyerang cepat, tapi Sabiru membaca pola mereka seperti membaca buku cerita. Ia memutar arah timnya, memasang jebakan, lalu—
Victory.
Chat langsung ramai.
“QueenSab MVP lagi?!”
“Ini orang manusia apa AI?”
“Tutor dong!”
Sabiru hanya tertawa kecil.
Tak ada yang tahu bahwa ratu gamers itu sebenarnya gadis yang siangnya membeli sayur di warung sambil tersenyum sopan ke tetangga.
Suatu malam, pemain baru masuk ke timnya.
Username: SadewaR.
Cara mainnya familiar.
“Eh… gaya rotasi kamu kayak temen lama aku,” kata pemain itu.
Sabiru terdiam sebentar.
Jantungnya berdetak cepat.
“Bisa jadi,” jawabnya santai.
Pertandingan berjalan sengit. Saat Sabiru hampir kalah, pemain itu tidak marah. Ia malah berkata pelan,
“Pelan aja. Ambil posisi belakang. Kamu pasti bisa.”
Kalimat itu.
Kalimat yang sama seperti dua tahun lalu.
Sabiru tersenyum.
Ternyata, bahkan ratu gamers pun masih punya satu orang yang mengingat dirinya bukan karena kemenangan… tapi karena kebersamaan.
Di luar kamar, dunia melihatnya sebagai gadis biasa.
Namun di dunia digital, ia adalah legenda.
Gadis lugu itu ternyata seorang ratu.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia bermain bukan hanya untuk menang — tapi untuk pulang pada kenangan lama.