Iwan mendekat, wajahnya merah padam.
"Pergih! dari rumah ini, Desta! Detik ini juga, kau bukan lagi seorang Jeraya!"
Kebenaran yang Terlambat..
Desta atau Deris tidak melawan. Ia justru terkekeh kecil, suara kekehan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Ia melepaskan tangan Kairos dari kerahnya dengan sekali sentak.
"Terima kasih, Tuan Iwan Jeraya yang terhormat. Itu kata-kata yang sudah lama aku tunggu."
Desta mengeluarkan sebuah tablet dari saku jasnya.
"Sebelum aku pergi, mungkin kalian ingin melihat sebuah 'pertunjukan' kecil dari sudut pandang kamera tersembunyi yang kupasang di koridor kamar Renaya. Aku tahu dia licik, tapi aku tidak menyangka dia seputus asa itu."
Layar besar di aula itu tiba-tiba menampilkan rekaman Renaya yang sedang merobek gaunnya sendiri dengan gunting sambil tersenyum licik di depan cermin, lalu memukul wajahnya sendiri agar terlihat memar.
Hening dan sunyi yang mencekam menyelimuti ruangan tersebut.
Wajah Renaya pucat pasi, tubuhnya gemetar.
"Aku sudah lama muak dengan drama ini," ucap Desta sambil melemparkan pin keluarga Jeraya ke lantai.
"Kalian memberikan cinta pada seorang penipu, dan membuang darah daging kalian sendiri. Silakan simpan dia. Dia sangat cocok untuk keluarga yang buta dan b*doh seperti kalian."
Mereka yang berada di dalam ruangan itu, lebih tepatnya keluarga Jeraya, mereka terdiam membisu.
Renaya hanya bisa pura' menangis dengan mimik wajah yang polos.
Desta pun berjal keluar dari ruangan tersebut dengan hati yang lega dan beban yang berada di pundak nya pun telah bhilang entah kemana. Desta pun pergi dari keluarga Jeraya dan tak kan kembali.
•
•
•
•
•
•
Langit yang Berbeda..
Tiga tahun telah berlalu..
Keluarga Jeraya sedang berada di ambang kebangkrutan setelah Renaya membawa lari sebagian besar aset perusahaan bersama kekasih gelapnya.
Mereka kini mencari sosok Desta yang telah menghilang.
Mereka menemukannya, namun bukan di klub malam atau arena balap.
Nama Desta Giovano kini tercatat sebagai CEO dari Derista-Corp, perusahaan raksasa teknologi baru yang sedang menguasai pasar global.
Iwan dan kedua putranya mendatangi kantor Desta, memohon agar ia kembali dan menyelamatkan nama Jeraya. Mereka berdiri di depan meja kerja Desta dengan wajah penuh penyesalan.
"Desta, maafkan Papa... Nak, kami salah. Pulanglah, Nak," ucap Iwan dengan suara parau.
Desta, yang sedang menatap pemandangan kota dari balik kaca besar, tidak berbalik. Ia menyesap kopinya—aroma yang sama dengan kafe tempat ia 'mati' dulu.
"Desta Jeraya sudah mati di bawah reruntuhan kafe itu," ucapnya dingin.
"Yang berdiri di sini adalah Deris Giovano. Dan bagi Deris, kalian hanyalah orang asing yang pernah kutemui di sebuah makan malam yang sangat buruk"
Ia menelepon sang sekretaris.
"Sekretaris, tolong antar orang-orang ini keluar. Saya ada rapat penting."
Keluarga Jeraya keluar dengan bahu merosot, menyadari bahwa mereka tidak hanya kehilangan seorang anak nakal, tetapi mereka telah membuang sebuah berlian yang pernah mereka miliki.
Desta menatap langit senja, merasa beban di dadanya akhirnya terangkat. Hidup ini singkat, dan kali ini, ia akan menjalaninya dengan caranya sendiri.
TAMAT..
•
•
•
•
•
Bagaimana menurutmu tentang akhir cerita ini?