Sejak menikah dengan Park Jimin, aku belajar satu hal:
ketampanan itu bukan anugerah, tapi ujian sosial.
Ke minimarket, kasir lama ngitung.
Ke kondangan, tante-tante pura-pura nanya kabar padahal matanya nempel di dia.
Bahkan tetangga baru lebih sering nyapa suamiku daripada aku.
“Aku capek,” kataku suatu malam.
“Capek punya suami yang semua orang mau.”
Jimin menatapku, serius.
“Aku nikah sama kamu, bukan sama dunia.”
Besoknya, dia berhenti pakai baju ketat.
Topi selalu dipakai.
Kalau keluar rumah, tanganku digenggam lebih erat.
Bukan buat pamer.
Tapi buat bilang: aku sudah dipilih.
Dan di situlah aku sadar:
yang bikin suamiku pantas dicintai bukan wajahnya,
tapi caranya menutup pintu untuk orang lain.