Setiap sore, Rina—tetangga depan rumah—selalu muncul pas suamiku pulang kerja. Bajunya selalu terlalu tipis untuk sekadar menyiram tanaman.
Awalnya aku pikir kebetulan. Tapi kebetulan yang terjadi tiap hari bukan kebetulan, itu pola.
“Mas, mampir dulu dong. AC rumahku rusak,” katanya suatu hari.
Suamiku menoleh ke aku. Ragu. Tapi tetap melangkah.
Sejak itu, gosip mulai hidup.
“Suamimu baik banget ya ke Rina.”
“Sering kelihatan berdua.”
Aku gak langsung marah. Aku observasi.
Sampai suatu malam, aku dengar Rina bilang dari pagar,
“Kalau capek sama istrimu, kamu tahu rumahku terbuka.”
Itu bukan candaan. Itu tawaran.
Aku gak teriak. Aku gak nangis.
Aku cuma tanya ke suamiku setelah pintu ditutup:
“Kamu mau jadi pria setia atau bahan hiburan tetangga?”
Dia diam lama.
“Aku gak ngapa-ngapain,” katanya.
“Masalahnya bukan apa yang sudah kamu lakukan,” jawabku,
“tapi apa yang kamu biarkan terjadi.”
Besoknya, dia pasang tirai tebal.
Berhenti mampir.
Berhenti senyum berlebihan.
Rina berhenti datang.
Bukan karena aku menang.
Tapi karena godaan cuma hidup kalau ada yang memberi ruang.