Semua orang di gedung itu yakin CEO mereka adalah alpha dingin tanpa cela. Setelan hitam, suara rendah, dan keputusan yang memotong nasib ratusan orang sekali tanda tangan.
Tak ada yang tahu: dia omega.
Bukan omega rapuh. Dia menyembunyikan aromanya dengan disiplin militer dan menyusun strategi seperti catur hidup. Di dunia yang menganggap omega hanya cocok di belakang meja resepsionis, dia duduk di kursi tertinggi.
Suatu hari, dewan direksi mencoba menjatuhkannya. Mereka bocorkan rumor tentang “kelemahannya”.
Dia tak marah.
Dia rapat.
Dengan tenang, ia buka laporan keuangan, bukti korupsi, dan kontrak gelap satu per satu. Dalam satu pagi, tiga direktur jatuh. Bukan karena dia alpha. Tapi karena dia lebih siap.
Sore itu, asistennya—seorang alpha muda—berkata,
“Kalau mereka tahu Tuan itu omega…”
CEO itu tersenyum tipis.
“Justru karena aku omega, aku belajar mengendalikan dunia sebelum dunia mencoba mengendalikan aku.”
Dan sejak hari itu, gedung itu tak lagi dipimpin oleh mitos alpha.
Tapi oleh fakta:
yang bertahan hidup bukan yang paling kuat, tapi yang paling sadar posisi dan langkahnya.