Cahaya dari gedung-gedung pencakar langit SCBD memantul di kaca jendela kantor baru Sapri. Di meja kerjanya, sebuah papan nama akrilik bertuliskan "Sapri - Head of Anti-Fraud Specialist" tampak berkilat. Hidup Sapri berubah 180 derajat. Ia tak lagi perlu merayu tante girang untuk sekadar makan steak. Ia punya gaji tetap, asuransi kesehatan buat Ibunya, dan Laras sudah kembali sekolah dengan seragam baru yang rapi.
Namun, di dunia gelap yang pernah Sapri huni, utang nyawa tidak semudah itu lunas dengan royalti buku.
"Pri, lo dipanggil Clarissa ke parkiran basement. Katanya ada hal darurat soal investor baru kita," ucap seorang rekan kantornya sore itu.
Sapri bergegas. Ia merasa berutang budi pada Clarissa, wanita yang menjebloskannya ke penjara tapi juga mengangkatnya dari selokan. Saat kakinya melangkah masuk ke area parkir P4 yang sepi dan remang-remang, firasatnya mendadak buruk. Aroma parfum Baccarat yang dulu ia puja kini tercium samar, bercampur dengan bau bensin yang menyengat.
Di sana, Clarissa tidak sendirian.
Dia berdiri gemetar di samping sebuah mobil SUV hitam yang kacanya pecah. Di depan Clarissa, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan wajah merah padam. Itu adalah Pak Hendra—mantan suami dari salah satu "Tante" yang pernah Sapri poroti hingga bangkrut dan bercerai dua tahun lalu.
"Oh, ini dia sang bintang TikTok kita," suara Pak Hendra berat, penuh dendam yang sudah mengental. "Si Mokondo yang sekarang sok jadi pahlawan wanita."
"Pak Hendra, tolong lepasin Clarissa. Dia nggak tahu apa-apa," Sapri mencoba tenang, gaya bicara public speaking-nya keluar secara otomatis.
"Nggak tahu apa-apa? Dia yang bikin lu jadi terkenal! Gara-gara tipu muslihat lu, istri gue bawa lari setengah aset perusahaan gue buat lu, lalu dia depresi dan bunuh diri setelah lu tinggalin!" Pak Hendra mengeluarkan sebilah pisau lipat yang berkilau di bawah lampu neon. "Gue kehilangan segalanya, Pri. Istri, rumah, harga diri. Dan lu? Lu malah enak-enakan dapet jabatan mentereng?"
"Gue mau ganti, Pak! Gue lagi nyicil semua kerugian itu!" Sapri berteriak, keringat dingin mulai membanjiri kemejanya.
"Uang nggak bisa balikin nyawa istri gue!" Pak Hendra menerjang.
Clarissa mencoba melerai, namun ia didorong hingga terjatuh dan kepalanya membentur pilar semen. Sapri panik melihat Clarissa pingsan. Saat ia lengah, Pak Hendra menghunjamkan pisau itu tepat ke perut Sapri.
Jleb.
Dunia Sapri seolah melambat. Dingin baja itu menembus kulitnya, merobek harapan yang baru saja ia bangun. Pak Hendra menarik pisaunya dan lari menghilang ke dalam kegelapan basement, meninggalkan Sapri yang ambruk bersimbah darah di samping Clarissa.
Sapri terengah-engah. Darah merah pekat mengalir deras, membasahi kemeja kerjanya yang baru dicuci Ibunya pagi tadi. Ia meraba sakunya, mengeluarkan ponselnya yang layarnya retak. Bukan untuk menelepon ambulans, tapi ia melihat sebuah notifikasi pesan masuk dari Laras.
"Kak, aku baru aja dapet nilai A buat tugas pariwisata aku. Makasih ya udah jadi kakak yang hebat. Aku sayang Kakak."
Air mata Sapri jatuh, bercampur dengan anyir darah. Ia tersenyum getir. Ia menyadari bahwa takdir tidak pernah benar-benar membiarkan seorang pendosa pergi tanpa membayar harga yang sepadan. Kemiskinan mungkin bisa diatasi dengan kerja keras, tapi masa lalu yang dibangun di atas penderitaan orang lain adalah hantu yang akan selalu menuntut balas.
Di detik-detik terakhirnya, pandangan Sapri mengabur. Ia melihat bayangan Ibunya yang sedang menunggunya pulang dengan sepiring nasi hangat di pinggiran rel kereta.
"Bu... Sapri... udah nggak mokondo lagi..." bisiknya nyaris tak terdengar.
Tangannya terkulai lemas di atas lantai beton dingin. Ponselnya terus bergetar, menampilkan foto profil Ibunya yang menelepon karena khawatir anaknya belum sampai rumah. Namun, Sang Raja Mokondo itu sudah tidak akan pernah mengangkat telepon itu lagi. Sapri mati di tempat yang paling ia mimpikan—SCBD—namun bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai korban dari karma yang ia ciptakan sendiri.
Keesokan harinya, berita tentang kematiannya tenggelam oleh algoritma TikTok yang baru. Netizen hanya berkomentar singkat: "Mokondo akhirnya kena batunya. Stay slay." Tanpa ada yang tahu, di sebuah rumah reyot di pinggir rel, seorang Ibu dan anak gadisnya menangis sejadi-jadinya, meratapi satu-satunya harapan mereka yang kini telah pulang dalam peti kayu yang dingin.