Malam itu, meja makan keluarga Jeraya terasa seperti pengadilan. Di ujung meja, sang kepala keluarga, Iwan Jeraya, duduk dengan wibawa. Di sampingnya, Renaya duduk dengan gaun sutra Putih bersih, tampak seperti permata yang dijaga oleh tiga singa: Iwan Jeraya, Kairos, dan Gery.
Desta atau Deris masuk ke ruang makan. Ia tidak lagi memakai jaket kulit penuh coretan. Ia mengenakan kemeja hitam polos, kancing atas terbuka, dengan rambut berantakan nya.
Langkahnya tenang, tidak ada lagi. langkah kaki yang dihentak-hentakkan untuk mencari perhatian.
"Kau terlambat tujuh menit," tegur Gery, si anak kedua yang merupakan seorang jaksa dingin.
"Maaf," jawab Desta singkat.
Ia duduk di kursi paling ujung, paling jauh dari ayahnya. Ia mulai makan dengan tenang, gerakan sendok dan garpunya sangat rapih etika dari kehidupan Deris sebelumnya.
Renaya merasa ada yang salah dan berbeda. Biasanya, Desta akan menyindirnya atau sengaja membuat keributan agar Papa memarahinya. Tapi hari ini, Desta menganggapnya tidak ada.
"Kak Desta," suara Renaya mendayu, matanya berkaca-kaca.
"Maafkan aku ya, gara-gara aku ingin Kakak sembuh, Kakak jadi tidak bisa ikut tauran lagi. Papa sudah menetapkan bodyguard di dekat Kakak, ini demi kebaikan Kakak."
Ia menunggu ledakan amarah Desta. Ia sudah menyiapkan skenario: Desta membentaknya, Papa marah, dan Desta diusir malam ini juga.
Namun, Desta hanya meletakkan garpunya pelan. Ia menatap Renaya datar.
"ohh oke"
Suasana meja makan membeku dan sunyi. Iwan menghentikan acara makannya.
"Kau tidak marah?"
"Untuk apa, Pa?" Desta menatap ayahnya langsung ke mata, sesuatu keberanian yang tidak pernah Desta asli lakukan.
"Jika Papa ingin menaruh penjagaan, menyita barang-barang ku, silahkan,aku tidak peduli"
•
•
•
•
Rencana Sang Serigala Berbulu Domba
Minggu-minggu berikutnya, Renaya semakin panik. Sekenario yang Ia susun untuk sang "korban" miliknya tidak bekerja karena sang "korban" tidak pernah lagi menyerangnya.
Desta justru menghilang setiap pagi dan pulang larut malam.
Diam-diam, Desta atau Deris menggunakan kecerdasannya dari dunia lama. Ia mulai bermain di pasar saham dengan sisa tabungan Desta yang tidak seberapa, membangun koneksi bawah tanah yang tidak diketahui keluarga Jeraya.
Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun perusahaan Jeraya. Renaya berencana menjatuhkan Desta untuk selamanya. Ia merobek gaun mahalnya sendiri, mengacak-acak rambutnya, dan berlari ke aula utama sambil menangis, menunjuk ke arah Desta yang berdiri di balkon.
"Kak Desta... tolong jangan lakukan itu lagi! Aku hanya ingin menyayangimu!" teriak Renaya di depan ratusan tamu terpandang.
Kairos dan Gery langsung menerjang Desta dengan membabibuta.
"Kau benar-benar tidak tahu malu! Menyentuh adikmu sendiri?!" geram Kairos sambil mencengkeram kerah baju Desta.
❥Bersambung..
Trimakasih sudah membaca..