Sapri adalah sebuah anomali di tengah gempuran sandwich generation. Di saat cowok-cowok seumurannya sibuk grinding sampai tipes demi cicilan paylater, Sapri hidup dengan prinsip "Life is short, but my list of rich aunties is long."
Secara visual, Sapri itu aesthetic. Rambut mullet rapi, wangi Dupe baccarat yang nyegrak, dan pembawaan yang tenang seolah-olah dia punya saham di SCBD. Padahal, isi dompetnya cuma kartu perpus dan struk tarik tunai yang saldonya "insufficient funds". Sapri adalah The King of Mokondo, seorang profesional dalam bidang "bertamu tapi gak bawa buah tangan, pulang malah dibawain sembako".
Targetnya kali ini adalah Clarissa, seorang beauty influencer yang punya engagement tinggi dan saldo rekening yang lebih tebal dari dosa-dosa Sapri.
"Babe, kayaknya kita butuh healing deh. Aku liat kamu burnout banget sama deadline brand kosmetik itu," ucap Sapri sambil mengelus tangan Clarissa di sebuah cafe hits. Tentu saja, kopi Sapri dipesan oleh Clarissa lewat aplikasi self-service.
"Iya sih, Pri. Tapi aku lagi banyak event," jawab Clarissa lesu.
"Gini aja, besok kita ke Bali. Aku udah liat villa yang vibes-nya quiet luxury banget. Kamu tinggal bawa badan, oke?" Sapri tersenyum manis. Very demure, very mindful.
Clarissa terharu. Akhirnya, punya cowok yang effort. Singkat cerita, mereka berangkat. Di bandara, Sapri mendadak panik pas mau check-in.
"Aduh babe, M-Banking aku lagi maintenance gara-gara update sistem. Padahal aku mau bayar upgrade ke Business Class buat kita," Sapri pasang muka sedih paling meyakinkan se-Kecamatan.
Clarissa, yang sudah dibutakan cinta dan algoritma, langsung mengeluarkan kartu kreditnya. "Udah, pake punya aku dulu aja, Pri. Nanti kamu ganti pas sistemnya bener."
Sapri tersenyum dalam hati. System maintenance adalah mantra paling ampuh dalam kitab suci Mokondo-nya.
Selama di Bali, Sapri benar-benar memanjakan Clarissa... dengan uang Clarissa. Dia yang pilih restoran paling mahal, dia yang pesan wine paling vintage, tapi setiap kali tagihan datang, Sapri mendadak dapet telepon penting dari "investor" atau mendadak mules kena Bali Belly.
Sampai pada malam terakhir. Sapri merasa ini puncaknya. Dia mengajak Clarissa makan malam romantis di pinggir pantai.
"Clar, aku mau jujur," Sapri menatap mata Clarissa dalam-dalam. "Aku gak mau kita kayak gini terus. Aku mau serius sama kamu."
Clarissa berkaca-kaca. "Maksud kamu?"
Sapri mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celana linennya (yang juga dibeliin Clarissa). "Aku mau invest di masa depan kita. Aku baru aja dapet info crypto yang bakal to the moon. Kalau aku masukin 500 juta sekarang, bulan depan kita bisa beli rumah di Canggu."
Sapri menghela napas berat. "Tapi modal aku ketahan di saham Amerika karena bursa lagi tutup. Kamu ada 200 juta gak buat nambahin? Nanti profitnya 80-20 buat kamu."
Clarissa terdiam. Dia menatap Sapri lama banget. Sapri udah pede banget bakal dapet "fresh money" buat bayar cicilan motornya yang nunggak tiga bulan.
Tiba-tiba, Clarissa tertawa. Bukan ketawa cantik, tapi ketawa ngakak sampai keselek oyster.
"Pri, Pri... lu telat," ucap Clarissa sambil mengelap air matanya.
"Maksudnya?" Sapri bingung. Plot hole mana yang dia lewati?
Clarissa mengeluarkan ponselnya. Dia membuka sebuah grup WhatsApp bernama "MOKONDO HUNTER INDONESIA". Di sana, foto Sapri terpampang nyata dengan caption: "DPO: Sapri Mullet. Modus: Maintenance M-Banking & Saham Amerika. Korban ke-12."
"Gue ini Beauty Influencer, Pri. Tapi lu lupa satu hal: Gue juga Brand Ambassador aplikasi detektif swasta digital," Clarissa tersenyum licik.
Mendadak, dari balik pohon kelapa, muncul tiga orang pria berbadan tegap pake kaos polisi. Sapri pucat. Jantungnya berasa mau log out.
"Sapri, kamu ditangkap atas dugaan penipuan dan penggelapan dana dari 11 mantan pacar kamu sebelumnya," ucap salah satu petugas.
Sapri gemetar. "Babe, ini pasti salah paham! Aku beneran sayang sama kamu!"
Clarissa berdiri, mengambil tas branded-nya, lalu menatap Sapri dengan tatapan paling cold.
"Oh iya, Pri. Villa ini, makan malam ini, sama tiket pulang kamu... semuanya udah gue refund. Jadi, selamat menikmati tidur di sel tanpa AC. Stay slaaaay!"
Sapri pun diseret pergi. Saat digiring ke mobil polisi, Sapri sempat menoleh ke arah pelayan cafe dan berbisik pelan, "Mas, titip kunci villa ya... BTW, boleh minta tethering gak? Mau cek saldo GoPay bentar."
Polisinya pun geleng-geleng. Benar kata pepatah Gen Z: "Ganteng doang, tapi ekonomi sulit, mending lu balik ke setelan pabrik."