Lampu sorot kamera tak lagi mengejar wajahnya. Kini, yang tersisa hanyalah lampu bohlam lima watt yang berkedip redup di langit-langit kamar kos sempit di pinggiran Jakarta. Platina Costarica, wanita yang dulu dikenal sebagai "The Golden Goddess" di layar kaca, sang pelakor kelas atas yang sanggup meruntuhkan rumah tangga konglomerat hanya dengan satu kerlingan mata, kini hanyalah seonggok daging yang terbungkus kulit pucat.
Tubuhnya yang dulu bernilai miliaran rupiah, yang dibalut gaun sutra dari butik-butik Paris, kini menyusut drastis. Tulang belulangnya menonjol tajam di balik daster katun murahan. Di atas meja kayu yang lapuk, berjajar botol-botol obat antiretroviral (ARV) yang mulai berdebu. Platina menatap cermin retak di depannya. Ia hampir tak mengenali sosok di sana. Bercak-bercak hitam mulai muncul di lengannya—tanda-tanda sarkoma kaposi yang menggerogoti sisa-sisa kecantikannya.
Pikirannya melayang ke masa kejayaan. Nama "Platina Costarica" adalah sinonim dari kemewahan dan dosa yang berkilau. Ia adalah ratu pesta yang tak tersentuh hukum moral. Ia bangga disebut pelakor; baginya, merebut suami orang adalah kompetisi, dan ia selalu menang. Uang, berlian, dan apartemen mewah adalah upeti yang ia terima dari pria-pria beristri yang mabuk kepayang. Ia menertawakan kutukan istri-istri sah. Ia merasa dirinya abadi.
Namun, dunia glamor itu ternyata hanyalah panggung sandiwara yang menunggu tirai ditutup. Satu per satu, teman-teman dalam lingkaran "setan"-nya tumbang. Riko, aktor laga yang sering tidur bersamanya, mati dalam kondisi mengenaskan yang disebut media sebagai "komplikasi". Lalu Shinta, model seksi yang sering berpesta narkoba dengannya, ditemukan tewas di apartemen dengan tubuh kurus kering akibat serangan virus yang sama: HIV/AIDS.
Platina mulai ketakutan, tapi ia menutupi ketakutannya dengan dosis alkohol dan pesta yang lebih gila. Hingga suatu hari, di tengah pemotretan majalah ternama, ia jatuh pingsan. Hasil tes laboratorium menghancurkan segalanya. Vonis itu datang seperti petir: Positif.
Seketika, "Platina Costarica" menjadi sampah industri. Kontrak dibatalkan, teman-teman artis menjauh seolah ia adalah monster berbisa. Para pria yang dulu menyembahnya mengganti nomor telepon. Hartanya ludes untuk biaya rumah sakit pribadi yang sangat mahal demi menutupi rasa malu, hingga akhirnya ia jatuh miskin. Benar-benar miskin.
Kini, di kamar kos yang pengap, Platina mendengar suara azan. Suara yang dulu ia anggap sebagai bising pengganggu tidurnya setelah pulang dari kelab malam. Namun sore itu, suara azan terdengar seperti tangan yang menggapai dari kedalaman jurang.
"Ya Allah... apakah aku masih punya tempat untuk pulang?" isaknya. Air matanya pedih, mengenai luka infeksi di pipinya yang dulu mulus tanpa pori.
Seorang wanita pemilik warung, Bu Siti, menjadi satu-satunya manusia yang masih sudi menyentuhnya tanpa rasa jijik. Ia membawakan mukena putih dan sebuah Al-Qur'an. "Dunia sudah meninggalkanmu, Platina. Tapi Penciptamu menunggu sejak lama," bisik Bu Siti.
Malam itu, dengan tenaga yang tersisa, Platina berwudu. Air yang menyentuh kulitnya terasa seperti api yang membakar namun sekaligus mendinginkan jiwa yang kotor. Ia bersujud. Ia tidak sanggup berdiri lama karena Pneumonia sudah merusak paru-parunya. Dalam sujud itu, ia membayangkan wajah-wajah wanita yang hatinya ia hancurkan demi uang dan gengsi. Ia meratap, memohon ampunan yang barangkali tak pantas ia dapatkan.
Sebelum ajalnya tiba di bangsal RSUD yang sesak, Platina menuliskan sesuatu di sebuah buku catatan kecil yang kumal. Ia menulis tentang kebusukan di balik gemerlap dunia artis, tentang teman-temannya yang mati tanpa sempat mengucap doa, dan tentang betapa hinanya menjadi penghancur kebahagiaan orang lain.
Epilog: Catatan yang Tertinggal
Dua minggu setelah Platina Costarica dimakamkan secara sederhana di pemakaman umum tanpa ada satu pun rekan artis yang datang, Bu Siti menemukan buku catatan itu di kolong tempat tidur kos. Buku itu kemudian viral secara anonim di media sosial.
Di halaman terakhir, Platina menulis:
"Jangan mengejar cahaya yang berasal dari api neraka. Aku adalah Platina Costarica, wanita yang memiliki segalanya namun sebenarnya tidak memiliki apa-apa. Jatuh miskin dan sakit ini adalah cara Tuhan menyelamatkanku dari diriku sendiri. Aku pergi dengan damai, meski tanpa mahkota."
Buku itu menjadi "kitab suci" bagi para artis muda yang mulai kehilangan arah, sebuah pengingat bahwa panggung sandiwara akan berakhir, dan yang tersisa hanyalah catatan amal di hadapan Sang Pemilik Nyawa. Platina Costarica telah padam sebagai bintang, namun ia lahir kembali sebagai pelajaran abadi tentang tobat yang tulus.