Identitas Baru, Aturan Baru...
Setelah Kairos pergi tanpa Berbasa-basi pun menanyakan apakah ada bagian tubuhnya yang sakit atau kabar lainnya, Desta atau Deris perlahan duduk dan bersandar. Ia memijat pelipisnya.
Di dunia sebelumnya, ia terjebak di bawah reruntuhan dan berjuang untuk hidup. Di dunia ini, ia malah terjebak di dalam sebuah keluarga yang secara emosional sudah runtuh jauh sebelum ia datang.
Ia telah mengingat potongan-potongan memori Desta yang asli.
Dia melakukan onar di sekolah, minum hingga mabuk, dan berkelahi hanya agar ayahnya mau menatap matanya dan berbicara kepadanya meski dengan kemarahan.
Cukup Tragis...
Desta asli mencari kasih sayang dan kehangatan di tempat yang sudah hancur semenjak ia kecil.
Deris menghela napas panjang. Tatapannya yang tadi sayu kini berubah menjadi tajam dan jernih.
"Kau ingin mendapatkan perhatian mereka dengan cara menjadi sampah, Desta?" bisik Asta pada dirinya sendiri di pantulan cermin
"Sayang sekali. Aku bukan tipe orang yang memohon untuk dilihat."
Asta berdiri, mengabaikan rasa pening yang menyerang. Jika keluarga Jeraya ingin mengabaikannya, maka ia akan memberikan mereka keheningan yang paling mematikan.
Ia tidak akan lagi menjadi 'anak nakal dan b*doh' yang mencari perhatian. Ia akan menjadi 'orang asing' yang sulit di jangkau.
Langkah Pertama di Labirin Jeraya...
Pintu kamar kembali terbuka. Kali ini, seorang gadis cantik dan imut dengan gaun berwarna baby blue, masuk dengan wajah sembab. Ia Leviana.
Di belakangnya, dua kakak Desta, gery dan Kairos, mengikuti dengan ekspresi jenuh, seolah menjenguk Desta adalah sebuah tugas administratif yang membosankan.
"Kak Desta... Kakak tidak apa-apa?"
suara Leviana bergetar, terdengar sangat tulus, namun di mata Desta yang baru, ia bisa melihat bagaimana kehadiran gadis ini selalu menjadi "panggung" bagi saudara-saudaranya untuk menunjukkan betapa buruknya Desta.
Desta atau Deris menatap mereka satu per satu.
Ia tidak berteriak..
Ia tidak memaki..
Ia hanya tersenyum tipis—senyuman formal yang biasa ia berikan pada rekan bisnis di kehidupan lamanya..
"Aku baik-baik saja," jawab Desta dengan suara yang tenang dan rendah, sangat berbeda dengan suara serak penuh emosi yang biasa mereka dengar.
"Terima kasih sudah mampir. Sekarang, bisakah kalian keluar dari sini? Aku butuh ketenangan."
Gery dan Kairos saling berpandangan. Ada sesuatu yang salah. Adik mereka yang biasanya akan mengamuk atau mencari pembelaan diri, kini menatap mereka seolah-olah mereka hanyalah seonggok sampah yang tidak penting.
❥Bersambung..