Kematian Yusuf meninggalkan lubang menganga di dinding sel isolasi Alejandro. Kesunyian yang biasanya diisi oleh gumaman doa kini digantikan oleh denging frekuensi tinggi yang sengaja diputar oleh sipir melalui pengeras suara—salah satu teknik interogasi agar tahanan tidak bisa tidur. Alejandro duduk meringkuk, menempelkan telinganya ke beton dingin, berharap masih ada sisa-sisa gema suara Yusuf yang tertinggal. Namun, yang ada hanyalah kegelapan.
Ujian sesungguhnya datang seminggu kemudian. Seorang sipir baru bernama Miller, pria dengan tatapan sadis yang membenci segala sesuatu yang berbau keyakinan, menyadari perubahan pada diri sang mantan Sicario. Ia melihat Alejandro tidak lagi memaki atau menyerang jeruji. Ia melihat Alejandro mencoba meniru gerakan sujud yang dulu sering dilakukan Yusuf.
"Kau pikir dengan menyembah Tuhan si teroris itu, kau akan selamat, Meksiko?" Miller meludah ke lantai sel Alejandro. "Di sini, akulah tuhanmu."
Penyiksaan fisik dimulai. Alejandro dipaksa berdiri dalam posisi stres—tangan dibelenggu ke langit-langit—selama delapan belas jam sehari di bawah guyuran air es yang membekukan tulang. Setiap kali ia hampir pingsan, Miller akan membisikkan godaan iblis di telinganya.
"Kembalilah menjadi anjing kartel, Alejandro. Beri kami nama-nama koneksimu di perbatasan, dan aku akan memberimu kasur empuk, steak panas, dan pengampunan. Untuk apa kau membela iman seorang pria yang mati seperti tikus di sel sebelah?"
Di tengah rasa sakit yang luar biasa, Alejandro memejamkan mata. Bayangan masa lalunya muncul: jeritan korban-korbannya, bau mesiu, dan tumpukan uang yang kini terasa seperti sampah. Namun, bayangan itu perlahan digantikan oleh wajah tenang Yusuf saat membagi rotinya.
"Tuhan... jika Kau benar-benar ada seperti yang dikatakan Yusuf," bisik Alejandro dengan bibir pecah-pecah, "jangan biarkan aku kembali menjadi monster. Biarkan aku mati sebagai manusia yang merdeka."
Ujian semakin menjepit ketika kartel lamanya di luar sana berhasil mengirimkan pesan melalui oknum sipir yang korup. Sebuah ancaman: “Kembali atau keluargamu di Michoacán akan menanggung akibatnya.” Alejandro terjepit di antara dua neraka. Miller menekannya dengan siksaan fisik, sementara masa lalunya mengancam dengan nyawa orang-orang yang tersisa di hidupnya.
Suatu malam, di bawah lampu neon yang berkedip menyakitkan, Alejandro mencapai titik nadirnya. Ia merasa tidak sanggup lagi. Namun, di bawah lantai beton dekat celah udara, ia menemukan sesuatu yang terselip. Sebuah sobekan kain kecil milik Yusuf yang bertuliskan satu kalimat dalam bahasa Arab dan terjemahan bahasa Spanyol kasar yang pernah Yusuf ajarkan: "Laa Tahzan, Innallaha Ma'ana"—Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.
Kekuatan misterius merayap di nadinya. Saat Miller datang lagi untuk melakukan waterboarding, Alejandro tidak melawan dengan kemarahan. Ia menatap mata sipir itu dengan ketenangan yang menakutkan.
"Kau bisa menenggelamkan tubuhku, Miller," suara Alejandro parau namun stabil. "Tapi kau tidak bisa menenggelamkan jiwaku. Dia sudah pergi ke tempat yang tidak bisa kau jangkau."
Berhari-hari ia disiksa, namun semakin keras Miller memukul, semakin kuat Alejandro bersujud dalam hatinya. Ia mulai menghafal setiap sudut gelap selnya sebagai tempat ibadah. Rasa lapar dan haus ia anggap sebagai puasa penebusan dosa atas setiap nyawa yang pernah ia cabut di masa lalu.
Keajaiban terjadi ketika sebuah komite hak asasi manusia internasional melakukan inspeksi mendadak ke blok isolasi tersebut. Mereka menemukan Alejandro dalam kondisi memprihatinkan namun dengan sorot mata yang jernih—kontras dengan narapidana lain yang sudah gila. Keteguhan Alejandro menarik perhatian seorang pengacara pro-bono yang mulai menyelidiki kasusnya, menyadari bahwa sang Sicario ini telah mengalami transformasi yang mustahil secara nalar manusia.
Di balik jeruji yang menjepitnya, Alejandro kini bukan lagi mangsa. Ia adalah pemburu kedamaian. Ia menyadari bahwa ujian yang semakin berat bukanlah hukuman, melainkan cara Tuhan untuk mengikis habis sisa-sisa kerak kartel di hatinya hingga yang tersisa hanyalah kemurnian.