Sumiati melangkah keluar dari gerbang besi raksasa itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Di tangannya, sebuah tas jinjing berisi beberapa potong baju dan martabat yang masih utuh. Matahari sore di Jakarta terasa menyengat, namun hawa panas itu tak sebanding dengan gejolak di dadanya. Ia telah menolak dunia yang ditawarkan Baskoro—sebuah dunia yang berkilau di luar, namun busuk di dalam.
Baginya, Baskoro bukan lagi majikan yang gagah. Pria itu hanyalah seorang tawanan dari nafsunya sendiri, yang mengira bahwa setiap inci kesetiaan bisa ditukar dengan lembaran rupiah. Sumiati terus berjalan menuju terminal bus, menghirup udara kebebasan yang terasa jauh lebih murni daripada aroma parfum sandalwood di rumah mewah tadi.
Seminggu di kampung halaman tak membuat Sumiati tenang. Ia butuh pekerjaan, bukan hanya untuk menyambung hidup keluarganya, tapi untuk membuktikan bahwa ia bisa berdiri tegak tanpa harus menjadi simpanan siapa pun. Lewat seorang kenalan lama yang bekerja di agen penyalur tenaga kerja elit, Sumiati mendapatkan tawaran baru.
"Ini rumah besar juga, Sumi. Gajinya lebih tinggi dari tempat Pak Baskoro. Tapi majikannya... sedikit kaku. Namanya Pak Anggito," ujar sang agen.
Sumiati menerima tawaran itu tanpa ragu. Ia tidak tahu bahwa nama "Anggito" adalah nama yang sanggup membuat rahang Baskoro mengeras setiap kali mendengarnya di pertemuan bisnis. Anggito adalah rival abadi Baskoro—pria yang selalu memenangkan tender-tender besar yang gagal diraih Baskoro, pria yang memiliki ketenangan yang tak bisa digapai oleh emosi meledak-ledak sang mantan majikannya.
Hari pertama di rumah Anggito, Sumiati terpaku. Rumah ini tidak seeksotis rumah Baskoro yang penuh dengan pameran kekayaan. Rumah Anggito lebih minimalis, dingin, namun fungsional. Anggito sendiri adalah pria berusia 42 tahun yang tampak lebih tertutup. Jika Baskoro adalah api yang membara, Anggito adalah es yang dalam.
Suatu sore, saat Sumiati sedang menata perpustakaan pribadi di rumah itu, pintu terbuka. Anggito masuk dengan setelan jas hitam yang rapi. Ia berhenti sejenak, menatap Sumiati yang sedang memegang buku tua.
"Kamu yang bernama Sumiati?" tanya Anggito datar.
"Iya, Tuan."
Anggito berjalan mendekat, bukan dengan tatapan lapar seperti Baskoro, melainkan dengan tatapan menyelidik yang tajam. "Saya tahu kamu bekerja di rumah Baskoro sebelumnya. Saya juga tahu kamu keluar secara mendadak saat istrinya sedang di luar negeri. Apa yang terjadi?"
Sumiati terdiam. Jantungnya berdegup. Apakah ia akan dihakimi? Apakah Anggito akan menganggapnya sebagai pengganggu rumah tangga orang?
"Saya keluar karena prinsip, Tuan. Ada hal-hal yang tidak bisa saya kerjakan di sana," jawab Sumiati dengan suara yang tidak bergetar sedikit pun.
Anggito menarik sudut bibirnya sedikit, hampir menyerupai senyuman tipis yang misterius. "Prinsip. Kata yang langka di dunia bisnis saya, dan ternyata lebih langka lagi di rumah seorang Baskoro. Dia pria yang terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan dengan otot dan uangnya."
Anggito mengambil buku dari tangan Sumiati. "Dia menawarimu sesuatu, bukan? Dan kamu menolaknya. Itu sebabnya saya menerimamu di sini. Saya butuh orang-orang yang tidak bisa dibeli. Karena di rumah ini, kamu akan memegang kunci-kunci yang jauh lebih berharga daripada sekadar kunci lemari pakaian."
Sumiati baru menyadari bahwa ia kini berada di pusat badai yang berbeda. Anggito bukan pria yang akan merayu dengan kata-kata manis di dapur. Anggito adalah pria yang menghargai integritas sebagai senjata.
Beberapa minggu kemudian, sebuah pesta jamuan bisnis diadakan di rumah Anggito. Sumiati, yang kini mengenakan seragam baru yang lebih elegan, bertugas membantu menyajikan minuman. Saat ia membawa nampan berisi gelas-gelas kristal ke ruang tengah, langkahnya terhenti.
Di sana, di antara para tamu penting, berdiri Pak Baskoro.
Pria itu tampak sangat gagah dengan jas abu-abu, tertawa di samping istrinya yang baru pulang dari Singapura. Namun, saat mata Baskoro menangkap sosok Sumiati yang keluar dari dapur rumah Anggito, tawa itu lenyap seketika. Gelas di tangannya bergetar.
Baskoro terpaku melihat Sumiati yang tampak jauh lebih bersinar, jauh lebih bermartabat, dan yang paling menyakitkan baginya: Sumiati kini berada di bawah perlindungan rival terbesarnya.
Sumiati berjalan melewati Baskoro dengan langkah tenang. Ia tidak menunduk. Ia tidak takut. Ia menyajikan minuman kepada Anggito, yang kemudian menepuk pundaknya dengan gerakan penuh hormat di depan semua tamu, termasuk Baskoro.
"Terima kasih, Sumiati. Pekerjaanmu selalu luar biasa," ujar Anggito dengan suara yang cukup keras untuk didengar Baskoro.
Baskoro hanya bisa mengepalkan tangan di balik sakunya. Ia menyadari bahwa rayuan dan tubuh kekarnya tempo hari tidak hanya gagal menaklukkan seorang ART, tapi justru telah mengirimkan "saksi hidup" akan kebusukannya tepat ke jantung pertahanan musuh bebuyutannya.
Sumiati kembali ke dapur dengan perasaan ringan. Ia tahu, di dunia ini, kecantikan dan kekuasaan bisa saja menipu, namun keteguhan hati adalah mata uang yang nilainya tak akan pernah turun. Ia telah memilih untuk menjadi subjek dalam ceritanya sendiri, bukan sekadar objek dalam fantasi pria yang merasa bisa memiliki segalanya.
Sumiati telah menang. Tanpa perlu mahar siri, tanpa perlu menjadi ratu di tempat gelap. Ia adalah ratu atas dirinya sendiri.