Cerpen : Lukamu, Lukaku, Luka Kita
POV : Vena
"Aaarrrrrggghhhh!!!" Aku berteriak memberontak dari dekapan pria tak ku kenal. Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan diri. Kakiku menendang-nendang ke segala arah.
Dia menggulingkan ku ke tanah berumput yang basah oleh hujan tadi sore. Menindih tubuh lemah ku. Menyeringai bagaikan monster yang menemukan mangsanya.
"Tolooong..." Teriakan ku semakin melemah. Tertelan gemuruh angin malam. Dalam sakit dan perih aku hanya mampu meneteskan air mata. Hilang sudah... Musnah...
___
Harusnya malam itu aku menerima tawaran temanku untuk mengantarkan ku pulang dari tempat kerja.
"Lepaskan aku!" teriak ku berulang kali. Wanita berkerudung hijau di depanku hanya menangis sesenggukan. Matanya bengkak. Ku lemparkan semua benda yang ada di atas tempat tidurku.
"Tenang, Nak... Jangan begini. Semua akan baik-baik saja," ucapnya menenangkan ku.
'Baik-baik saja? Baik-baik saja katanya?' batinku.
'Bagaimana aku akan baik-baik saja... Apa yang aku jaga telah hilang direnggut iblis bertampang manusia. Ah, bukan. Tampangnya juga iblis. Dengan codet di sepanjang garis wajahnya. Sangat menakutkan. Bau busuk yang menguar dari deru nafasnya pun belum bisa ku hilangkan dari ujung hidungku. Seolah menempel dengan erat sangat.'
"Tapi dia sudah mengambil satu-satunya yang aku punya, Ibu..." ku tumpahkan sudah tangisanku di atas pangkuannya. Dibelainya dengan penuh kelembutan kepalaku.
"Polisi akan menemukannya dan memberikan hukuman, Nak."
"Apa gunanya, Ibu. Semua tak akan kembali lagi seperti semula."
Dia pun menangis bersamaku. Memeluk ragaku yang tak berdaya. Hingga aku tertidur karena lelah.
Saat bangun, mataku langsung tertuju pada sebilah pisau buah yang tersedia di atas nakas di sebelah sepiring buah apel. Apel itu merah, semerah darah yang ku lihat malam itu dari sela-sela kakiku.
"Aarrgghhh!" Ku jambaki rambutku yang memang sudah awut-awutan. Ku ambil pisau itu dan tanpa pikir panjang...
Cairan merah kental berbau karat mengalir dari pergelangan tangan kiriku yang masih dibalut perban. Aku tersenyum tipis. Mataku memburam. Lagi.
___
POV : Inka
Aku buru-buru memakai jaket, lalu mengendarai motor ke rumah Vena, sahabatku. Sudah belasan tahun kami bersahabat. Kabar buruk yang datang ke telingaku membuatku syok.
"Vena!" pekikku melihatnya duduk dengan tatapan kosong. Ada perban lagi di atas perban di pergelangan tangannya.
Aku duduk di sampingnya. Kupeluk dia.
"Inka... Kamu di sini?" tanya Vena pelan.
Aku mengangguk, "Ya, ini aku, Ven."
"In... Aku... Aku... Hiks!" Vena menangis histeris di pelukanku.
Kutepuk-tepuk punggungnya pelan.
"Sssttt... Aku di sini, Ven. Jangan takut."
"Kamu kemarin di mana? Aku sendirian, In. Ada monster yang memakanku." Dia melepaskan pelukanku.
"Maafkan aku. Aku tidak ada di sampingmu sampai terjadi hal buruk ini. Maaf, Ven."
"Bukan salahmu, In. Seharusnya aku tidak menolak tawaran Fery untuk mengantarkanku pulang malam itu." Vena berusaha tersenyum untukku.
"Aku kehilangan satu-satunya yang aku jaga untuk masa depanku. Aku kotor, In. Aku jijik dengan tubuhku." Vena menggosok kuat tangan, kaki, dan seluruh tubuhnya.
"Berhenti, Ven. Jangan lakukan ini. Aku juga kotor. Kita sama." Aku menarik tangannya dan menggenggamnya erat.
"Apa maksudmu, In?" Vena tampak terkejut.
"Ya, aku juga kotor, Ven. Sama. Aku juga korban nafsu laki-laki. Bahkan aku lebih bodoh karena dengan sadar menyerahkan diriku untuk dimangsa."
"Aku tidak mengerti, In. Kamu bukan wanita seperti itu, aku tahu, In." Vena menggelengkan kepala.
"Kamu ingat, kan waktu dulu aku dirawat karena percobaan bunuh diri?"
"Ya, aku ingat. Itu karena Gani membatalkan rencana pernikahan kalian, bukan?"
"Ya. Tapi bukan hanya itu. Sebenarnya kalau hanya batal menikah, itu bukan masalah besar. Namun, nyatanya aku dalam keadaan hamil saat dia meninggalkanku. Itulah yang membuatku ingin mengakhiri hidup."
"Apa??" pekik Vena menutup mulutnya.
"Tapi setelah kejadian itu, aku melihat luka ibuku lebih besar. Aku ingat, orang tuaku menaruh harapan besar padaku. Aku masih punya masa depan untuk diperjuangkan. Aku punya orang tua yang selalu mendampingiku. Aku berusaha bangkit untuk mereka."
"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku In? Lalu dimana sekarang bayimu?"
"Aku keguguran karena banyaknya obat-obatan yang aku konsumsi. Setidaknya sudah tidak ada yang mengikatku dengan baj***an itu lagi." Aku tersenyum getir dengan kisahku sendiri.
"Inka... Aku takut, aku merasa masa depanku sudah hancur." Vena memelukku erat.
"Tidak, Ven. Lihat aku. Masa depan kita masih panjang, bukan berakhir di sini. Kelak pasti akan ada yang menerima kekurangan dan masa lalu kita. Kita punya orang tua. Kita punya orang-orang yang menyayangi kita. Kita harus bangkit untuk mereka, setidaknya.
Lukamu, lukaku, luka kita sama. Kita akan sembuh bersama." Kami berpelukan menyalurkan sesak dalam dada.
"Aku akan melanjutkan hidupku. Aku akan menuntut keadilan. Baj****n itu harus dihukum setimpal," ucap Vena.
"Aku di sampingmu," timpalku.
___***___