Aku sudah delapan tahun menikah dengan Rina. Kami bertemu saat kuliah di UI, jatuh cinta karena dia yang selalu tertawa lepas setiap aku bercanda konyol. Sekarang Rina 32 tahun, kulitnya masih putih mulus seperti dulu, rambut hitam lurus sebahu, tubuhnya tetap kencang meski sudah melahirkan anak kami yang sekarang berusia enam tahun. Payudaranya masih kenyal, pinggulnya lebar pas, dan bokongnya yang bulat selalu membuat aku melirik diam-diam saat dia memakai celana pendek di rumah. Tapi akhir-akhir ini, seks kami jarang. Rutinitas kerja, anak, tagihan, dan kelelahan membuat kami hanya melakukannya satu-dua kali sebulan, itu pun cepat dan biasa saja. Aku sering merasa bersalah, tapi tidak tahu harus bagaimana.Aku kerja sebagai project manager di perusahaan konstruksi milik Pak Hendra. Bosku itu 52 tahun, duda kaya raya, tubuhnya masih atletis karena tiap pagi gym dan main golf tiap akhir pekan. Wajahnya tegas, rambutnya sudah banyak uban tapi justru membuatnya terlihat berwibawa. Di kantor dia kalem, jarang marah, tapi semua karyawan pria tahu reputasinya: suka “membantu” istri karyawan yang kesulitan finansial. Aku selalu menganggap itu gosip belaka. Sampai suatu hari.Empat bulan lalu, proyek kantor baru kami butuh desain interior. Pak Hendra tiba-tiba minta nomor WA Rina. “Biar lebih cepat koordinasi,” katanya sambil tersenyum. Aku kasih tanpa curiga. Rina kan desainer grafis freelance, kerja dari rumah. Awalnya memang profesional. Chat tentang warna cat, model meja, lampu. Tapi lama-lama Rina mulai sering senyum-senyum sendiri saat baca HP. Malam-malam dia bilang “ada meeting online sama klien besar, Mas. Jangan ganggu ya.” Aku percaya. Aku bahkan bangga, istriku dapat proyek gede.Tapi ada tanda-tanda kecil yang mulai mengganggu. Rina beli lingerie baru—yang hitam transparan yang dulu dia bilang “terlalu mahal”. Dia juga mulai rajin gym pagi, bilang “biar badan tetap fit buat kerja”. Dan yang paling aneh, dia sering pulang malam dengan bau parfum pria yang mahal—bukan parfumku. Aku diam saja. Mungkin overthinking.Malam itu, Jumat, aku pulang lebih awal. Meeting dengan klien di Surabaya dibatalkan mendadak karena cuaca buruk. Jam 8 malam aku sudah sampai rumah di kawasan Lenteng Agung. Mobil aku parkir di depan, tapi saat mau masuk garasi, aku lihat mobil hitam metalik parkir di gang belakang—plat nomor B 1234 HND. Mobil Pak Hendra. Jantungku langsung berdegup kencang.Rumah gelap. Hanya lampu kamar tidur utama yang menyala redup. Aku buka pintu pelan-pelan, sepatu dilepas di teras supaya tidak berisik. Anak sudah tidur di kamarnya sejak jam 7. Dari lorong menuju kamar, aku dengar suara. Desahan Rina yang aku hafal betul—suara yang biasanya hanya keluar saat aku berhasil membuatnya orgasme. Tapi kali ini lebih keras, lebih liar, campur suara pria yang dalam dan tenang.Pintu kamar setengah terbuka. Aku berdiri di kegelapan lorong, tangan gemetar memegang gagang pintu. Aku mengintip.Rina telanjang bulat di atas kasur. Rambutnya acak-acakan, keringat mengkilap di kulit putihnya. Dia berlutut di antara kaki Pak Hendra yang duduk di pinggir kasur. Celana bosku sudah turun ke mata kaki. Batangnya… Tuhan, batangnya besar. Tebal, berurat menonjol, kepalanya mengkilap karena air liur Rina. Lebih panjang dan lebih besar dari punyaku. Rina mengulumnya pelan-pelan, tangan kanannya memijat pangkal sambil tangan kirinya meremas buah zakar Pak Hendra.“Pelan-pelan dulu, Sayang… nikmati,” kata Pak Hendra sambil mengelus rambut Rina dengan lembut, seperti sedang memuji desain bagus. Suaranya tenang, tapi ada nada kuasa di dalamnya.Rina menarik mulutnya sebentar. Benang air liur menghubungkan bibirnya dengan kepala batang itu. “Pak… gede banget… aku nggak biasa…” katanya serak, lalu kembali mengulum lebih dalam. Aku lihat tenggorokannya bergerak saat dia mencoba menelan separuhnya. Rina mengerang, matanya berkaca-kaca karena penuh, tapi dia tidak berhenti. Lidahnya berputar di kepala, menghisap pelan, lalu cepat. Pak Hendra mendesah pelan, pinggulnya naik sedikit, mendorong lebih dalam.Aku berdiri di sana hampir sepuluh menit, tidak bisa bergerak. Kemaluan aku sudah keras sekali di dalam celana, sakit karena tertekan. Aku merasa marah, sakit hati, tapi juga… terangsang. Sangat terangsang.Pak Hendra menarik Rina naik. “Sekarang giliran kamu di atas.” Rina naik ke pangkuannya, posisi cowgirl. Dia memegang batang Pak Hendra dengan tangan gemetar, mengarahkan ke vaginanya yang sudah basah mengkilap. Aku bisa lihat dari samping—bibir vaginanya merah dan bengkak, sudah siap. Rina turun pelan-pelan. “Aduh… Pak… pelan… gede banget…” Dia menggigit bibir bawah, wajahnya menahan sakit bercampur nikmat saat kepala masuk. Lalu dia turun lebih dalam, pelan sekali, sampai akhirnya bokongnya menyentuh paha Pak Hendra. Seluruh batang itu hilang di dalam tubuh istriku.Rina mulai naik-turun. Awalnya pelan, mencari ritme. Payudaranya yang kenyal bergoyang-goyang mengikuti gerakan. Pak Hendra meremas keduanya, jempolnya memilin puting yang sudah keras. “Bagus… gerakkan pinggulmu seperti itu… ya, seperti itu.” Rina semakin cepat. Desahannya berubah jadi erangan. “Pak… enak… lebih dalam… ahh!” Suara benturan kulit basah terdengar jelas di kamar yang sunyi.Pak Hendra lalu membalik posisi. Dia tarik Rina telentang, angkat kedua kaki Rina ke bahunya. Sekarang aku lihat semuanya jelas—batangnya yang mengkilap keluar-masuk vaginanya dengan ritme cepat dan kuat. Setiap dorongan membuat Rina menjerit kecil. “Pak… lagi… lebih keras… suamiku nggak pernah segini…” Kata-kata itu seperti pisau, tapi malah membuat kemaluanku berdenyut lebih keras.Pak Hendra mempercepat. Tangannya menekan paha Rina, pinggulnya menghantam tanpa ampun. Rina orgasme pertama—tubuhnya mengejang hebat, kakinya menggigil, mulutnya terbuka lebar tanpa suara selama beberapa detik. Air matanya mengalir. Pak Hendra tidak berhenti. Dia terus dorong, mengubah sudut sedikit, dan Rina orgasme lagi—kali ini lebih keras, vaginanya menyemprot sedikit cairan bening yang membasahi perut Pak Hendra.“Pak… aku nggak kuat lagi…” rengek Rina lemah.Pak Hendra tersenyum. “Satu lagi, Sayang.” Dia tarik keluar, balik Rina ke posisi doggy. Bokong Rina yang bulat terangkat tinggi. Pak Hendra masuk lagi dari belakang—satu dorongan kuat sampai pangkal. Rina menjerit ke bantal. Gerakannya sekarang brutal, cepat, tangannya menampar bokong Rina pelan-pelan. “Ini yang kamu mau kan? Yang besar, yang kuat, yang bisa bikin kamu lupa suami?”“Iya… Pak… iya… aku milik Pak sekarang…” jawab Rina sambil menangis nikmat.Aku hampir tidak tahan. Tangan aku sudah memegang kemaluan sendiri di luar celana, mengocok pelan tanpa sadar.Pak Hendra akhirnya menarik keluar. Dia berdiri di pinggir kasur, mengocok batangnya yang mengkilap cairan Rina. “Buka mulut.” Rina berlutut cepat, lidahnya terjulur. Pak Hendra menyemprotkan—banyak, kental, putih. Beberapa mengenai wajah Rina, sebagian besar masuk ke mulutnya. Rina menelan dengan lahap, sisanya dia gosok ke payudaranya seperti lotion.Pak Hendra mengelus kepala Rina. “Bagus. Besok lagi ya.” Lalu dia berpakaian santai.Saat dia berbalik ke pintu, matanya langsung bertemu mataku. Dia tidak kaget. Malah tersenyum tipis, seperti sudah tahu aku ada di sana sejak tadi.“Masuklah, Mas. Istri kamu masih basah. Masih pengen lagi.”Aku melangkah masuk, kaki seperti kapas. Rina melihatku, matanya melebar sebentar karena malu, tapi lalu dia tersenyum lemah. Wajahnya lengket cairan Pak Hendra, vaginanya masih terbuka sedikit, cairannya menetes ke sprei.“Mas… maaf… aku… aku nggak tahan…” bisiknya.Pak Hendra menepuk pundakku pelan sebelum keluar kamar. “Tenang saja. Ini cuma kesepakatan bisnis. Kamu naik jabatan bulan depan, gaji naik 40 persen. Anggap saja… bonus spesial. Dan kalau Mas mau ikut… pintu selalu terbuka.”Dia pergi. Pintu depan tertutup pelan.Aku berdiri di depan Rina. Dia merangkak mendekat, tangannya meraih celanaku. “Mas… aku tahu Mas lihat semuanya. Mas marah?” Tapi tangannya sudah membuka resletingku. Kemaluan aku yang sudah keras sekali melompat keluar. Rina langsung mengulumnya—mulutnya masih hangat dan lengket bekas Pak Hendra.Aku mendorong kepalanya lebih dalam. “Ceritain… detailnya… sambil hisap.”Rina mengerang di batangku. Dia cerita sambil mengulum—bagaimana Pak Hendra pertama kali chat mesum dua bulan lalu, bagaimana dia ketemu di hotel dua minggu sekali, bagaimana batang Pak Hendra selalu membuatnya orgasme berkali-kali sampai pingsan. Aku dengar semua sambil menyetubuhi mulutnya.Lalu aku tarik Rina ke kasur, telentang di tempat yang masih hangat bekas Pak Hendra. Aku masuk ke dalamnya—licin sekali karena campuran cairannya dan Pak Hendra. Rina mengerang lebih liar daripada biasanya. “Mas… rasanya beda… Mas lebih kecil tapi… aku suka karena Mas tahu…”Aku menyetubuhinya keras, membayangkan semua yang aku lihat tadi. Rina orgasme lagi di bawahku, kali ini sambil memelukku erat. Aku keluar di dalamnya—campur dengan sisa Pak Hendra.Kami berbaring lelah. Rina memelukku. “Mas… mau aku berhenti?”Aku diam lama. Lalu jawab, “Besok… kalau Pak Hendra datang lagi… aku mau lihat dari dekat. Dan mungkin… ikut.”Rina tersenyum, mencium bibirku. “Aku cinta Mas. Tapi… aku juga butuh ini.”Malam itu kami tidur dengan tubuh saling menempel, sprei basah keringat dan cairan.Dan aku tahu, mulai besok, rumah kami tidak akan pernah sama lagi.Aku bukan suami yang lemah.
Aku hanya suami yang akhirnya menemukan gairah yang hilang—lewat cara yang paling gelap dan paling nikmat.