Gelak tawa itu masih menggantung di udara, bercampur dengan aroma espresso yang tajam dan manisnya kepulan uap susu. Deris baru saja hendak membalas lelucon Rendi.
Seketika dunia mendadak kehilangan keseimbangannya.
Gelas di atas meja berdenting liar sebelum akhirnya terjatuh dan pecah di lantai. Suara tawa berganti dengan teriakan panik. Langit-langit kafe yang estetik itu kini pada berjatuhan karena
Guncangan yang sangat kencang.
"Keluar! Cepat Deris!" teriak Rendi sambil menarik lengan baju Deris.
Namun, Deris terdiam dan terpaku. Detik itu terasa melambat. Ia melihat teman-temannya berlari menuju pintu kaca yang bergetar hebat, mengikuti arus manusia yang panik. Deris mencoba melangkah, namun kaki nya lemas.
Tepat saat ia mencapai pilar tengah, sebuah suara gemeretak beton yang memekakkan telinga.
Dunia mendadak menjadi gelap, tertutup debu debu semen yang menyesakkan, dan diakhiri dengan dentuman yang mematikan segala suara, di bawah Keheningan yang berat
Hening...
Bukan hening yang menenangkan, melainkan kesunyian pekat yang menekan gendang telinga. Deris tersedak. Setiap tarikan napasnya terasa seperti menghirup serpihan kaca; debu tebal menyumbat tenggorokannya. Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya, namun rasa sakit yang tajam dari goresan serpihan kaca lampu, menjalar dari bahu hingga ke ujung jari.
Deris terjebak.
Cahaya lampu kafe yang hangat dan terang telah digantikan oleh kegelapan total. Di atasnya, balok kayu dekoratif dan reruntuhan plafon.
"Rendi...?" suaranya hanya keluar berupa bisikan.
Hening, tidak ada jawaban. Hanya ada suara gesekan beton di kejauhan dan tetesan air dari pipa yang pecah—tik, tik, tik—seperti detak jam yang menghitung sisa waktunya.
Deris merasakan cairan hangat mengalir dari pelipis, pundak dan lengannya. Bau amis darah mulai mengalahkan aroma kopi yang tadi ia nikmati.
Ia dan beberapa pelayan dan pengunjung lainnya terjebak di kegelapan reruntuhan.
Deris mencoba mengatur napasnya yang pendek-pendek. Panik adalah musuh terbesarnya sekarang. Ia teringat ponselnya. Dengan sisa tenaga yang Ia punya, ia meraba saku celananya dengan tangan kirinya yang masih bebas.
Jarinya menyentuh benda persegi panjang itu. Retak dan sedikit hancur, tapi masih utuh. Saat layar menyala, cahaya putihnya, Ia melihat notifikasi peringatan bahwa baterai akan habis dalam waktu 20 detik.
Rasa sakit dari sekebujur tubuhnya mulai memudar, berganti dengan sensasi dingin yang menusuk ke sumsum tulang. Cahaya ponsel yang tadi kini benar-benar padam, bersamaan dengan detak jantungnya yang melambat hingga berhenti total di bawah reruntuhan yang membisu.
Namun, kegelapan itu tidak berlangsung lama.
Sebuah tarikan napas pendek yang tajam menyentak paru-parunya. Deris membuka mata, namun ia tidak lagi mencium bau debu semen atau bau amis. Sebaliknya, indra penciumannya disambut oleh aroma bunga yang berasal dari penghar dan keheningan sebuah ruangan mewah yang dingin.
Deris mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk dan bersandar. Ia mulai menggerakkan kepala nya ke kiri dan ke kanan untuk melihat isi dari seluruh ruangan tersebut. Namun,terhenti ketika ia menoleh ke arah cermin besar di sudut kanan ruangan tersebut, ia tersentak.
❥Bersambung...
Terimakasih sudah membaca ♡