Metropolitan Jakarta di bawah siraman hujan badai tampak seperti kota yang sedang menangis, atau mungkin sedang mencuci darah yang bersiap tumpah. Di lantai tertinggi Menara Malvinas, Serena berdiri membelakangi pintu kaca ganda, menatap hamparan lampu kota yang berpendar buram. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi teh camomile hangat mengepulkan uap tipis. Dia tidak lagi butuh alkohol untuk menenangkan sarafnya; kekuasaan adalah candu yang jauh lebih mematkan.
Tiga bulan telah berlalu sejak Serena mengambil alih kendali atas dinasti Sudarma Malvinas. Dalam waktu sesingkat itu, dia telah mengubah peta kekuatan di balik layar kementerian. Sudarma kini hanyalah boneka yang menandatangani dokumen tanpa berani membaca isinya. Ratna telah menjadi pelayan setia yang mengatur jadwal pertemuan rahasia Serena dengan para istri pejabat lainnya. Sementara Kevin, pemuda yang dulu sombong itu, kini memiliki telapak tangan yang kasar dan penuh kapalan, jiwanya telah patah oleh kerja paksa di proyek-proyek sanitasi kumuh yang dipaksakan Serena.
Namun, Serena lupa satu hal tentang binatang yang terpojok: mereka tidak akan mati sebelum memberikan satu gigitan terakhir yang beracun.
Di sebuah gudang tua di pinggiran Bekasi, Sudarma Malvinas duduk berhadapan dengan seorang pria bermata satu yang dikenal sebagai 'Sang Kurir'. Pria itu adalah eksekutor bayaran paling rapi yang pernah dimiliki oleh jaringan hitam di negeri ini. Sudarma tidak menggunakan uangnya sendiri—yang sudah dipantau ketat oleh Serena—melainkan menggunakan simpanan emas batangan yang ia kubur di bawah fondasi rumah lamanya sepuluh tahun lalu. Sebuah rahasia yang bahkan Serena, dengan segala kecanggihannya, tidak berhasil temukan.
"Aku ingin dia hilang. Bukan hanya mati, tapi lenyap seolah dia tidak pernah ada," bisik Sudarma, suaranya parau oleh kebencian yang menahun.
"Harganya mahal untuk target seperti dia, Pak Pejabat. Dia punya pengamanan berlapis," jawab Sang Kurir datar.
"Ambil semuanya. Aku tidak peduli lagi dengan hartaku. Jika aku harus hancur, dia harus pergi lebih dulu ke neraka," balas Sudarma sambil menggeser sebuah tas berisi logam mulia itu.
Malam itu, Serena merasakan firasat yang aneh. Di apartemennya yang sunyi, sistem keamanan digitalnya mendadak berkedip merah. Server utamanya mengalami glitch. Itu adalah tanda bahwa seseorang sedang mencoba meretas sistem enkripsi yang dia banggakan. Namun, bukannya melarikan diri, Serena justru duduk tenang di kursi kebesarannya. Dia menyesap tehnya, matanya menatap pintu masuk dengan tajam.
Dia tahu ini akan datang. Seorang pemain catur yang cerdas selalu tahu kapan langkah skakmat akan tiba, entah dia yang memberikannya atau dia yang menerimanya.
Pintu apartemen terbuka tanpa suara ledakan. Seorang pria berpakaian hitam legam masuk dengan langkah seringan kucing. Di tangannya, sebuah pistol dengan peredam suara terarah tepat ke jantung Serena.
Serena tidak bergerak. Dia bahkan tersenyum tipis. "Sudarma akhirnya menemukan keberaniannya, ya? Atau ini ide Ratna yang sudah lelah mencuci kakiku?"
Pria itu tidak menjawab. Di dunia profesionalnya, kata-kata adalah limbah.
"Tunggu," ujar Serena tenang. "Sebelum kamu menarik pelatuk itu, ketahuilah bahwa aku sudah menekan tombol 'Send' pada sebuah protokol otomatis lima menit yang lalu. Kematianku tidak akan menyelamatkan mereka. Justru, kematianku adalah sumbu ledak yang akan meratakan seluruh sisa hidup keluarga Malvinas."
Puff.
Suara itu sangat pelan, hampir tenggelam oleh guntur di luar jendela. Sebuah lubang kecil muncul di dada kiri Serena, tepat di jantungnya. Gaun putih yang ia kenakan berubah warna dengan cepat, merah merambat seperti bunga mawar yang mekar dalam hitungan detik. Serena tersentak, punggungnya menegang, namun matanya tetap terbuka.
Dia merasakan dingin yang luar biasa merayap dari ujung kakinya. Teh di tangannya jatuh, pecah berkeping-keping di lantai marmer. Pria itu menembak sekali lagi, kali ini tepat di dahi, memastikan bahwa otak yang telah mengacak-acak tatanan korupsi itu tidak akan pernah berpikir lagi.
Serena jatuh terkulai. Kepalanya bersandar pada meja kerja, darahnya mengalir membasahi dokumen-dokumen penting yang ia gunakan untuk memeras Sudarma. Di saat-saat terakhirnya, sebuah senyum kemenangan yang ganjil terpatri di bibirnya yang mulai membiru.
Satu jam kemudian, di kediaman Malvinas, Sudarma menerima pesan singkat: 'Selesai.'
Sudarma tertawa lepas. Dia memanggil Ratna dan Kevin ke ruang tengah. Dia membuka botol sampanye paling mahal yang dia sembunyikan. "Dia sudah mati! Jalang itu sudah mati! Kita bebas!" serunya dengan mata melotot kegirangan.
Ratna menangis lega, memeluk Kevin yang tampak bingung. Mereka merasa beban berat yang menghimpit dada mereka selama berbulan-bulan telah terangkat. Mereka membayangkan esok hari mereka bisa kembali ke kehidupan lama mereka; berbelanja, berpesta, dan menindas orang lain.
Namun, kegembiraan itu hanya bertahan selama tujuh menit.
Tiba-tiba, seluruh televisi di rumah itu menyala secara otomatis. Bukan hanya di rumah mereka, tapi di seluruh stasiun televisi nasional yang sedang menyiarkan berita malam, gambar berganti menjadi sebuah video rekaman berkualitas tinggi.
Wajah Serena muncul di layar. Video itu telah direkam sehari sebelumnya sebagai pesan wasiat.
"Jika kalian menonton ini, berarti aku sudah mati di tangan keluarga Malvinas atau orang suruhan mereka," ujar Serena dalam video itu dengan nada bicara yang jernih dan tenang. "Banyak yang mengira aku hanya seorang wanita simpanan yang haus harta. Kalian salah. Aku adalah putri dari seorang kontraktor kecil yang bunuh diri sepuluh tahun lalu karena proyeknya disabotase dan anggarannya dikorupsi oleh Sudarma Malvinas."
Sudarma membeku. Gelas sampanyenya jatuh dan pecah.
"Malam ini, bukan hanya aku yang mati. Bersamaan dengan berhentinya detak jantungku, seluruh bukti korupsi, rekaman suap, foto-foto pencucian uang, dan daftar nama pejabat yang terlibat dalam jaringan Malvinas telah terkirim secara massal ke KPK, Kejaksaan Agung, dan Interpol. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Server itu berada di luar negeri dan tidak bisa diretas."
Layar televisi kemudian berganti menampilkan dokumen-dokumen rahasia yang bergulir cepat seperti daftar dosa. Nama Sudarma Malvinas berada di urutan paling atas dengan nilai korupsi mencapai triliunan rupiah.
Di luar rumah, suara sirine polisi mulai terdengar dari kejauhan. Bukan satu atau dua, tapi puluhan. Cahaya biru dan merah berkelebat di dinding pagar rumah mereka yang megah.
"Papa, apa yang terjadi?" tanya Kevin dengan suara gemetar.
"Kita harus lari! Cepat!" teriak Sudarma. Dia berlari menuju brankas rahasianya, namun saat ia membukanya, brankas itu kosong. Serena telah mengosongkannya berminggu-minggu lalu tanpa ia sadari.
Tiba-tiba, pintu depan didobrak paksa. Pasukan taktis bersenjata lengkap masuk, mengepung ruang tengah. Di belakang mereka, puluhan wartawan dengan kamera yang menyala terus mengambil gambar.
"Sudarma Malvinas, Anda ditahan atas dugaan korupsi, pencucian uang, dan perencanaan pembunuhan berencana terhadap Serena Maharani," ujar seorang petugas dengan tegas.
Ratna menjerit histeris saat tangannya diborgol. Kevin mencoba melawan, namun ia segera dijatuhkan ke lantai, wajahnya ditekan ke karpet mahal yang dulu ia banggakan. Sudarma hanya bisa berdiri mematung, menatap layar televisi yang kini menampilkan foto Serena yang sedang tersenyum—sebuah senyum yang seolah berkata, 'Sampai jumpa di neraka.'
Kehancuran itu bersifat total. Dalam waktu dua puluh empat jam, seluruh aset keluarga Malvinas disita oleh negara. Rumah megah itu disegel dengan garis polisi. Nama mereka menjadi noda paling hitam dalam sejarah birokrasi negeri. Para kolega yang dulu menghormati Sudarma kini berbalik menghujatnya demi menyelamatkan diri masing-masing.
Sudarma berakhir di sel isolasi, menunggu vonis mati yang membayang di depan mata. Ratna, yang terbiasa dengan sutra, kini harus mengenakan seragam oranye dan mendekam di penjara wanita yang sesak. Kevin, sang putra mahkota, terjebak dalam lingkaran kekerasan di penjara pemuda, di mana ia menjadi target perundungan yang jauh lebih kejam daripada yang pernah ia lakukan pada orang lain.
Serena memang terbunuh, tubuhnya terkubur di sebuah pemakaman umum tanpa nisan yang mewah. Namun, dia mati sebagai pemenang. Dia mengorbankan nyawanya untuk memastikan bahwa dinasti yang dibangun di atas darah dan air mata orang kecil itu runtuh hingga ke akar-akarnya.
Di apartemen Serena yang kini kosong dan gelap, hanya ada satu benda yang tersisa di atas meja kerjanya yang masih bercak darah. Sebuah bingkai foto kecil berisi foto seorang pria tua—ayahnya—dan seorang gadis kecil yang tersenyum lebar. Di belakang foto itu, tertulis sebuah kalimat pendek dengan tulisan tangan Serena yang rapi:
"Mahar untukmu, Ayah. Sudah lunas."
Malam itu, hujan berhenti. Jakarta kembali sunyi, namun kota itu tidak akan pernah melupakan nama seorang wanita yang pernah dihina sebagai pelakor, namun berakhir sebagai algojo bagi para raksasa yang korup. Serena telah pergi, meninggalkan puing-puing sebuah dinasti yang kini hanya menjadi dongeng pengingat tentang betapa mahalnya harga sebuah harga diri yang tertindas.