Apartemen itu kini terasa sangat luas bagi Serena, namun terasa seperti sel yang mencekik bagi Ratna. Pukul enam lewat empat puluh lima menit pagi, udara Jakarta masih menyisakan sisa embun yang kotor, tetapi Ratna sudah berdiri di depan pintu unit griya tawang milik Serena. Di tangannya, sebuah gelas kertas dari kedai kopi ternama bergetar halus. Ratna, wanita yang dulunya menghabiskan pagi dengan senam yoga privat dan sarapan sarang burung walet, kini harus menelan harga dirinya bulat-bulat demi secangkir americano panas yang ia bawa mendaki lantai empat puluh.
Pintu terbuka otomatis. Serena berdiri di sana, hanya mengenakan jubah mandi sutra putih, rambutnya masih basah, wajahnya polos tanpa riasan namun memancarkan otoritas yang mematikan. Ia menatap gelas di tangan Ratna dengan tatapan menilai.
"Lima menit lebih awal, Ratna. Kamu belajar dengan cepat," ujar Serena dingin. Ia mengambil gelas itu, menyesapnya sedikit, lalu mengernyit. "Agak terlalu pahit. Besok, pastikan suhunya tepat 80 derajat saat sampai di tanganku. Masuklah."
Ratna melangkah masuk dengan bahu merosot. Di ruang tamu yang luas itu, ia melihat laptop Serena terbuka, menampilkan grafik aliran dana yang sangat ia kenali—itu adalah aset-aset milik suaminya, Sudarma Malvinas, yang kini bergerak lincah di bawah jemari Serena.
"Sudarma meneleponku semalam. Dia menangis," bisik Ratna, suaranya serak. "Dia bilang dia tidak tahan harus menghadap pimpinan partai dengan ancaman kaset rekaman itu di lehernya. Serena, cukup. Kamu sudah mengambil uang kami, rumah kami, harga diri kami. Apa lagi?"
Serena meletakkan gelas kopi itu di atas meja marmer tanpa suara. "Apa lagi? Aku baru saja memulai, Ratna. Kalian menghancurkan reputasiku selama setahun lebih. Kalian membuatku merasa seperti kotoran di bawah sepatu kalian. Sekarang, aku hanya ingin kalian merasakan bagaimana rasanya menjadi boneka. Katakan pada suamimu, jika dia ingin selamat dari audit internal bulan depan, dia harus menandatangani dokumen pengalihan proyek jembatan di Kalimantan itu kepada konsorsium yang sudah aku siapkan. Itu bukan negosiasi."
Sementara itu, di sudut kota yang berbeda, Kevin Malvinas berdiri di tepi selokan yang meluap di kawasan pemukiman padat Jakarta Utara. Sepatu bot karetnya terbenam dalam lumpur hitam yang berbau busuk. Di sampingnya, seorang mandor bangunan kiriman Serena mengawasi setiap gerakannya. Kevin, yang biasanya sibuk memamerkan jam tangan Richard Mille di kelab malam, kini harus memegang sekop untuk mengeruk sampah plastik yang menyumbat aliran air.
"Ayo cepat, Den Kevin! Kalau tidak selesai sebelum jam sepuluh, Bos Serena bilang jatah makan siangmu dipotong," terak sang mandor.
Kevin menggeram, tangannya yang halus kini mulai melepuh. Ia ingin mengumpat, ingin menelepon ayahnya agar mengerahkan pasukan polisi untuk menyeret Serena, namun ia teringat ancaman gadis itu. Serena memiliki video saat Kevin melakukan transaksi narkoba di balik toilet sebuah bar eksklusif enam bulan lalu. Video itu cukup untuk mengirim Kevin ke Nusa Kambangan seumur hidup. Di bawah terik matahari yang mulai menyengat, Kevin menyadari bahwa dunianya yang glamor hanyalah istana pasir yang telah tersapu ombak bernama Serena.
Di kantor kementerian, Sudarma Malvinas duduk di kursi kebesarannya, namun ia merasa seperti narapidana di kursi listrik. Setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu selalu pesan dari Serena. Kadang berisi instruksi kebijakan, kadang berisi foto Kevin yang sedang mandi keringat di selokan, atau foto Ratna yang sedang membersihkan debu di apartemen Serena.
Pukul satu siang, Serena memanggil Sudarma untuk bertemu di sebuah restoran terpencil di pinggiran kota. Sudarma datang dengan pengawalan minimal, wajahnya tampak tua sepuluh tahun hanya dalam hitungan hari.
"Duduklah, Sudarma," sapa Serena. Di depannya tersedia hidangan mewah, namun Sudarma tidak memiliki selera makan sedikit pun.
"Serena, tolong... hentikan permainan ini. Aku akan memberimu berapa pun yang kamu mau. Aku akan menceraikan Ratna dan menikahimu jika itu yang kamu incar sejak awal. Kita bisa lari ke Swiss, hidup tenang dengan sisa aset yang ada," mohon Sudarma dengan nada memelas.
Serena tertawa, sebuah tawa renyah yang terdengar mengerikan di telinga Sudarma. "Menikahimu? Setelah aku tahu betapa busuknya kamu memperlakukan wanita yang sudah menemanimu dari nol seperti Ratna? Kamu pikir aku serendah itu? Aku tidak butuh status 'Istri Pejabat'. Aku lebih suka menjadi 'Pemilik Pejabat'."
Serena mengeluarkan sebuah tablet, menggeser beberapa foto. "Lihat ini. Ini adalah daftar nama kolega-kolegamu yang ikut mencicipi uang proyek dermaga itu. Aku ingin kamu mengundang mereka semua ke pesta makan malam di rumahmu besok malam. Aku akan hadir sebagai 'konsultan' barumu."
"Kamu gila! Mereka orang-orang kuat. Kalau mereka tahu kamu memegang rahasia mereka, mereka akan menghabisimu!" Sudarma memperingatkan dengan ngeri.
"Oh, mereka tidak akan menghabisiku. Karena jika jantungku berhenti berdetak, atau jika aku tidak masuk ke akun cloud-ku dalam waktu dua puluh empat jam, seluruh data itu akan terkirim secara otomatis ke email sepuluh media internasional dan KPK. Aku adalah asuransi nyawaku sendiri, Sudarma. Dan kamu adalah tamengku."
Malam pesta itu tiba. Rumah mewah keluarga Malvinas kembali terang benderang, namun suasananya jauh dari kata ceria. Ratna berdiri di pintu masuk, menyapa tamu-tamu tinggi dengan senyum plastik yang dipaksakan. Kevin berdiri di sudut ruangan, mengenakan kemeja murah dan berusaha menutupi luka lecet di tangannya dengan sarung tangan kulit.
Saat Serena masuk, ruangan mendadak sunyi. Ia mengenakan gaun merah darah yang kontras dengan dekorasi rumah yang serba emas. Ia berjalan langsung menuju pusat ruangan, tempat Sudarma sedang berbicara dengan seorang jenderal bintang dua dan seorang pengusaha batu bara.
"Selamat malam, Bapak-bapak," suara Serena mengalun tenang namun penuh penekanan. "Saya Serena, konsultan strategi Bapak Sudarma Malvinas. Saya di sini untuk memastikan bahwa kerja sama kita ke depannya akan jauh lebih... transparan."
Sudarma memperkenalkan Serena dengan suara bergetar. Sepanjang malam, Serena bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain, membisikkan satu atau dua detail kecil tentang transaksi masa lalu mereka yang seharusnya terkubur dalam-dalam. Ia tidak mengancam secara terang-terangan; ia hanya membiarkan mereka tahu bahwa ia tahu. Satu per satu, orang-orang paling berkuasa di negeri itu menatap Serena dengan campuran rasa takut dan hormat yang terpaksa.
Setelah tamu terakhir pulang, keluarga Malvinas berkumpul di ruang tengah. Mereka tampak layu, habis terbakar oleh ketegangan malam itu.
"Apa tujuan akhirmu, Serena?" tanya Ratna dengan suara hampa. "Kamu sudah memiliki kami. Kamu sudah mulai memegang orang-orang besar itu. Sampai kapan ini akan berakhir?"
Serena berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah kota. Cahaya lampu Jakarta berkelap-kelip di bawah sana, tampak seperti hamparan perhiasan yang tak bertuan.
"Ini akan berakhir saat aku merasa keadilan sudah terpenuhi," jawab Serena tanpa menoleh. "Kalian tahu apa yang paling menyakitkan saat aku menjadi simpananmu, Sudarma? Bukan saat kamu mengabaikanku, tapi saat kamu dan keluargamu menganggap bahwa orang-orang kecil seperti aku tidak punya hak untuk membalas. Kalian merasa uang bisa menghapus air mata, dan kekuasaan bisa membungkam kebenaran."
Serena berbalik, menatap mereka bertiga dengan pandangan yang membuat Kevin gemetar. "Kalian akan tetap menjadi keluarga Malvinas yang agung di mata publik. Kalian akan tetap tinggal di rumah ini. Tapi mulai malam ini, rumah ini bukan lagi milik kalian. Ini adalah kantor pusat operasional pribadiku. Kalian adalah stafku tanpa gaji. Dan setiap sen yang kalian kumpulkan dari hasil korupsi masa lalu akan aku gunakan untuk membangun kembali apa yang telah kalian hancurkan."
"Kamu akan menghancurkan sistem ini dari dalam?" tanya Sudarma, mulai memahami skala rencana Serena.
"Aku tidak ingin menghancurkan sistemnya, Sudarma. Aku ingin memilikinya. Aku ingin membuktikan bahwa seorang wanita yang pernah kalian ludahi bisa menjadi orang yang menarik tali kekang di leher kalian."
Serena berjalan menuju pintu keluar, namun ia berhenti di samping Kevin. Ia merapikan kerah kemeja Kevin yang berantakan. "Besok jam tujuh pagi, Kevin. Selokan di daerah Penjaringan menunggu. Jangan terlambat."
Saat Serena melangkah keluar dari gerbang rumah Malvinas, ia merasakan angin malam yang dingin menyapu wajahnya. Ia tahu bahwa perjalanannya masih panjang. Orang-orang besar yang ia temui malam ini pasti akan mencoba melawannya. Namun, Serena tidak takut. Ia telah belajar dari para predator terbaik di negeri ini tentang cara memburu, dan sekarang, ia adalah predator puncak yang sesungguhnya.
Di dalam rumah, Ratna terduduk di lantai, menangis tanpa suara. Sudarma menuangkan wiski ke gelasnya dengan tangan yang tak henti gemetar, sementara Kevin hanya menatap kosong ke arah langit-langit yang dihiasi lampu kristal mahal—lampu yang kini terasa seperti beban ribuan ton yang siap jatuh menimpanya kapan saja.
Kehidupan mereka sebagai penguasa telah berakhir. Kini, mereka hanyalah pion dalam papan catur yang dikendalikan oleh seorang wanita yang dulu mereka anggap tidak berharga. Dan bagi Serena, itu adalah mahar paling indah yang pernah ia terima.