Sore itu, rumah terasa seperti set film horor yang low-budget tapi disturbing. Ayah belum pulang, masih di jalan lintas kota mencari nafkah yang habisnya entah ke mana. Nizam (7 tahun) adalah ghost di rumahnya sendiri. Dia belajar seni menghilang—merapatkan tubuh ke dinding, mengatur napas agar tak terdengar, dan menjadi sekadar bayangan.
Dia hanya ingin mengambil action figure Iron Man-nya yang tertinggal di dekat dapur. Mainan retak itu adalah satu-satunya "teman" yang tidak pernah membentaknya.
Namun, saat melewati lorong dekat kamar belakang, vibe rumah berubah drastis. Ada suara tawa tertahan yang cringe dan menjijikkan. Pintu kamar itu sedikit terbuka, menyisakan celah cahaya kuning yang menyolok mata.
Nizam, didorong oleh rasa ingin tahu anak kecil yang murni, mengintip.
Glitch. Pikirannya seolah nge-lag.
Di dalam sana, Ibu Tirinya—perempuan yang selalu menatapnya seolah dia adalah kotoran di sepatu—sedang tertawa genit. Dia tidak sendirian. Dia duduk di pangkuan Rian, abang angkat Nizam yang bertubuh kekar, yang tangannya bertato dan selalu bau rokok murah. Rian adalah orang yang sama yang dua hari lalu menendang rusuk Nizam hanya karena Nizam "terlalu lama" berjalan di depannya.
Mereka tidak sedang berdebat tentang uang belanja. Mereka sedang berbagi keintiman yang kotor, di rumah di mana Nizam bahkan tidak diperbolehkan memeluk bantal di ruang tamu.
Kreeek.
Ubin tua di bawah kaki telanjang Nizam berkhianat. Suaranya kecil, tapi di keheningan itu, dentumannya seperti bom.
Mata Ibu Tiri beralih dari Rian ke celah pintu. Pupil matanya melebar, bukan karena malu, tapi karena murka yang murni. Tatapan itu dingin, mematikan, seperti melihat serangga yang harus segera diinjak sampai hancur.
"Rian," desisnya, suaranya flat tapi mengerikan.
Rian berdiri, tubuh kekarnya memblokir cahaya dari dalam kamar. Dia berjalan ke pintu, membukanya lebar-lebar, dan menatap ke bawah, ke arah Nizam yang membeku, mencengkeram Iron Man-nya erat-erat sampai kuku-kukunya memutih.
Game over.
---
Sejak sore itu, rumah itu bukan lagi sekadar musim dingin; itu adalah toxic wasteland.
Ibu Tiri dan Rian tidak lagi repot-repot menyembunyikan kekejaman mereka di depan Nizam saat Ayah tidak ada. Tapi yang paling mengerikan bukanlah pukulan fisiknya—walaupun itu semakin sering terjadi, meninggalkan lebam-lebam aesthetic yang menyakitkan di balik baju oversize Nizam. Yang paling menyiksa adalah silent psychological terror.
Mereka bekerja sama. Rian akan duduk di ruang tamu, bermain game di HP-nya dengan volume penuh, sementara Ibu Tiri menyudutkan Nizam di dapur.
"Kalau kamu bilang Ayah," Ibu Tiri berbisik tepat di telinga Nizam, napasnya bau kopi pahit, "Ibu akan pastikan Ayah nggak akan pernah pulang lagi. Kamu mau jadi anak yatim piatu total?"
Rian akan menoleh, tersenyum menyeringai, lalu membuat gerakan memotong leher dengan jarinya.
Nizam terisolasi total. Tidak ada teman untuk di-dm, tidak ada support system. Dia tidak berani menatap mata Ayahnya saat Ayah pulang, takut kalau tatapannya akan membocorkan rahasia itu. Dia merasa seperti sedang membawa bom waktu di dadanya.
Kecemasannya menjadi overwhelming. Setiap kali Ibu Tiri mendekat, napas Nizam tersengal, dadanya sesak, persis seperti panic attack yang sering dibicarakan orang-orang di internet—bedanya, Nizam tidak punya istilah untuk itu. Dia hanya tahu dia tidak bisa bernapas.
Dia mulai berhenti makan. Tubuhnya yang kurus semakin kerontang, kuncup bunga yang perlahan membusuk dari dalam karena ketakutan yang beracun.
---
Malam itu, hujan turun deras di Sukabumi, membilas jalanan tapi tidak kotoran di rumah itu. Ayah sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan selama dua hari. Itu adalah malam di mana "badai" mencapai puncaknya.
Nizam, dalam kondisi demam tinggi, mengigau. Dalam tidurnya yang tidak tenang, dia menggumamkan nama ibu kandungnya, lalu... dia menggumamkan nama Rian dan Ibu Tiri.
Ibu Tiri yang sedang lewat di depan kamarnya mendengar itu. Panik. Rahasianya terancam oleh racauan seorang anak yang sekarat.
Pintu kamar Nizam didorong kasar. Rian masuk di belakangnya.
"Dia tahu terlalu banyak," kata Ibu Tiri, suaranya bergetar antara takut dan marah.
Nizam terbangun, matanya buram karena demam dan air mata. Dia melihat dua bayangan besar mendekatinya. Dia tidak punya energi untuk lari. Dia bahkan tidak punya energi untuk menangis. Dia hanya meringkuk, mencoba melindungi Iron Man-nya untuk terakhir kali.
Dia merasa tangan-tangan kekar mencengkeramnya. Dia merasakan sakit yang unreal, rasa sakit yang melampaui batas kemampuan tubuh kecilnya untuk menahan. Dunianya mulai fading to black.
Dalam detik-detik terakhir itu, anehnya, ketakutan itu hilang. Digantikan oleh perasaan relief yang aneh.
Akhirnya, aku nggak perlu takut lagi, pikirnya. Akhirnya, aku bisa pulang ke tempat di mana ubinnya nggak dingin.
Kuncup bunga itu akhirnya patah, bukan karena angin, tapi karena diinjak secara sadar oleh mereka yang seharusnya merawatnya.
Beberapa hari kemudian, polisi garis kuning terpasang di depan rumah itu. Tetangga-tetangga berkumpul, wajah mereka penuh penyesalan yang terlambat, beberapa merekam kejadian itu untuk konten TikTok mereka dengan caption "Viral: Tragis Anak di Sukabumi".
Ibu Tiri dan Rian dibawa pergi dengan tangan terborgol. Mereka mencoba berbohong, bilang Nizam jatuh atau sakit biasa, tapi medical report tidak bisa berbohong. Lebam lama, luka baru, dan tanda-tanda malnutrisi adalah bukti digital di tubuh Nizam yang tak terbantahkan.
Ayah tersungkur di halaman, dunianya runtuh. Dia baru sadar bahwa rumah yang dia bangun dengan susah payah ternyata adalah neraka bagi darah dagingnya sendiri.
Nizam kini menjadi angka dalam statistik kekerasan anak. Kisahnya trending di media sosial, memicu diskusi tentang perlindungan anak dan mental health. Semua orang merasa relate dengan kesedihannya, tapi tidak ada yang benar-benar ada di sana saat dia membutuhkan trust yang sesungguhnya.
Kini, dia tidak lagi merasakan dingin. Di suatu tempat yang jauh, di mana musim semi abadi, Nizam akhirnya bisa tumbuh tanpa rasa takut diinjak lagi. No more glitches. No more pain. Just peace.