Bagi Taufik, jarak antara Samarinda dan Labuan Batu bukan sekadar ribuan kilometer di atas peta, melainkan bentangan doa dan harapan yang ia rapalkan setiap malam. Di usianya yang ke-23, ia menemukan dunianya terpaku pada layar ponsel, pada sosok Talenta Alexandria, gadis lima belas tahun yang dikenalnya lewat jagat maya Facebook.
Mereka adalah dua kutub yang dipisahkan oleh segalanya: usia yang terpaut jauh, keyakinan yang tak searah, hingga zona waktu yang berbeda. Namun, Taufik adalah nahkoda yang keras kepala. Baginya, Talenta adalah pelabuhan terakhirnya. Sembilan bulan lamanya, ia merajut sabar, menenun perhatian, dan membangun pondasi komitmen yang ia kira cukup kokoh untuk menahan badai.
Namun, badai itu tidak datang dalam bentuk gelombang besar, melainkan dalam sosok remaja sebaya bernama Candika.
Candika hadir dengan membawa apa yang tidak dimiliki Taufik: kedekatan usia dan realita yang nyata. Pria berusia 16 tahun itu mulai menyusup ke celah-celah hubungan mereka, membisikkan janji-janji manis yang lebih masuk akal bagi seorang gadis remaja seperti Talenta. Candika bukan hanya ingin masuk, ia ingin meruntuhkan seluruh istana yang dibangun Taufik dengan susah payah.
Perlahan tapi pasti, tembok pertahanan Talenta retak. Rayuan Candika mulai terasa lebih hangat dibanding ketikan pesan dari Samarinda. Taufik hanya bisa menatap nanar saat komunikasinya mulai mendingin, hingga akhirnya, istana yang ia bangun dengan tetesan air mata dan kesabaran itu runtuh berkeping-keping. Talenta memilih pergi, meninggalkan Taufik yang terkubur dalam puing-puing kenangan sepihak.
Kalimat Penutup
"Taufik akhirnya menyadari bahwa mencintai seseorang yang belum selesai dengan dunianya adalah cara paling sunyi untuk patah hati; ia berjuang melawan jarak, namun akhirnya kalah oleh dia yang lebih dekat."