Pagi di Jakarta itu seperti cappucino buatan abang-abang starling: pekat, sedikit manis di awal, tapi bikin deg-degan kalau kelamaan didiemin. Di lantai 17 sebuah apartemen di bilangan Kuningan, aroma foamy kopi yang diseduh pakai moka pot mewah mulai beradu sama bau hot tempe mendoan dari dapur.
Alessandro Di Stefano, seorang pria Italia dengan jawline yang kayaknya dipahat langsung pakai palu Thor, berdiri di balkon, menatap macetnya jalan Rasuna Said. Dia puitis. Banget. Dia bisa baper cuma gara-gara ngeliat embun di kaca jendela. "Hujan tak pernah bertanya mengapa ia harus jatuh, Amore," gumamnya pelan, mengutip entah siapa.
Di dapur, Tania Putri Wulandari—cewek asli Jakarta yang ramah-ramah savage—lagi ngubek-ngubek sambal kacang. Dia denger gumaman suaminya. "Apaan sih, Al? Itu embunnya AC bocor, bukan hujan. Puitis-puitis amat, kayak pangeran jatuh dari kahyangan tapi landingnya di pasar minggu."
Ini dia sisi terang Alessandro: romantisnya itu bukan main. Dia bisa natap mata Tania berjam-jam cuma buat bilang kalau mata Tania itu "seperti telaga di kaki gunung Alpen yang paling sunyi." Sisi gelapnya? Rewelnya itu juga bukan main. Terutama kalau soal makanan. "Amore, scusa, aku lihat ada crimes against humanity di meja makan," kata Alessandro sambil berjalan masuk, hidungnya kembang-kempis kayak kelinci.
"Apaan sih? Itu mendoan, goks abis!" Tania nunjuk piring berisi gorengan.
Alessandro geleng-geleng kepala. "Minum cappucino lewat jam 11 siang adalah morte bagi jiwa, Tania. Tapi makan gorengan yang dimasak pakai minyak yang kayaknya sudah dipakai sejak zaman Majapahit? Itu adalah bunuh diri." Dia nunjuk sambal kacang. "And this? This brown goop? Apa ini?"
"Sambal kacang, honey! Glow upnya bumbu pecel."
Ini sisi gelap cewek Indonesia: suka meremehkan kesehatan demi rasa enak, dan kalau ngomong suka pakai kiasan yang bikin bingung orang asing. "Enak kok, Al. Coba deh, relate abis sama lidah semua orang."
Malamnya, mereka belanja di supermarket. Ini momen paling epic sekaligus triggering dalam pernikahan mereka. Sisi terang Tania muncul: dia jago nawar. Walaupun di supermarket fix price, dia bisa dapet promo beli satu gratis satu untuk sosis, cuma karena dia tersenyum flirty (bukan flirty gatel, tapi flirty dagang) sama abang spg-nya. "Mas, ini sosisnya kalau beli dua dapet apa? Hatiku?" kata Tania sambil ketawa renyah. Abangnya cuma bisa senyum malu.
Alessandro, di sisi lain, menampilkan sisi terangnya: apresiasi terhadap kualitas. Dia bisa milih tomat dari tumpukan tomat terburuk, dan tau tomat mana yang bakal bikin sugo (saus tomat) yang paling authentic. Dia megang satu tomat, matanya berbinar. "Tomat ini, Tania... ia seperti pipi seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Merah merona, segar, dan penuh janji."
Tania cuma rolling her eyes. "Al, itu tomatnya rada penyok sebelah. Sisi gelap lo itu terlalu picky, lo tau nggak? Tomat lo mahal banget, sementara di pasar tradisional dapet segentong."
Konflik pecah di lorong bumbu instan. Tania mau beli bumbu rendang instan, Alessandro mau beli rempah-rempah asli. "Tania, rendang adalah mahakarya. Tapi kita bisa buatnya dari nol! Kenapa harus instant? Itu seperti mendengarkan opera tapi pake speaker hp."
"Gue capek, Al! Gue yang masak! Lo mah enak puitis-puitis amat, gue yang harus ngulon bumbunya. Ini namanya efisiensi, Gen Z must know!"
Klimaks terjadi di hari Minggu. Alessandro mau masak lasagna "seperti yang dibuat Nonna (neneknya)". Tania setuju, tapi dia mau kasih twist lokal. "Al, lasagna kan cuma pasta, daging, saus, sama keju. Relate kan kalau kita tambahin sedikit keju parut yang murahan yang biasa dipake abang martabak?"
Alessandro natap Tania kayak Tania baru aja bilang kalau menara Pisa itu miring gara-gara kurang cozy. "Amore... parmigiano reggiano! Jangan nodai masakan ini dengan industrial cheese!"
Tania diam. Dia pura-pura nuruti. Alessandro mulai masak. Dia so dramatis saat numis daging, kayaknya lagi main di film musikal. "Daging ini, Tania... ia sedang berciuman dengan saus tomat..."
Tania berdiri di belakangnya. Dia liat Alessandro pusing cari oregano asli. "Nih, gue ada twisted oregano, Al," Tania kasih botol kecil berisi... bon cabe rasa ori. "Ini oregano dengan kick lokal. Slay abis."
Alessandro, yang pusing, langsung taburin bon cabe itu ke saus dagingnya dalam jumlah banyak, mikir itu oregano kering yang lebih hancur. Dia nggak cicipin. "Lasagna ini akan menjadi jembatan antara dua budaya, Amore."
Saat matang, aromanya goks abis. Gurih. Tapi saat disuap...
Alessandro langsung merah padam. Dia bukan cuma kepedasan, jiwanya terguncang. Dia langsung minum air putih sebotol. "Tania! Che cazzo?! Apa ini?!" Dia melotot. Sisi gelap Italia muncul: dramatis yang pol-polan, seakan-akan kiamat sudah dekat. "Ini bukan lasagna, ini adalah siksaan api neraka! Aku bisa dengar Nonna menangis di surga!"
Tania ketawa sampai ngik-ngik. "Al, lo harus liat muka lo! Tadi kan puitis, sekarang kayak villain di kartun. Enak kan? Ada spicenya! Itu sisi terang cewek Indonesia: kita bisa bikin apa aja jadi fire!"
Sisi gelap Tania muncul: dia nggak mau kalah dan suka gaslighting kalau dia yang salah. "Al, lo nya aja yang kurang terbuka sama fusion. Don't be so dramatic!"
Alessandro natap Tania. Dia masih kepedasan, tapi di saat bersamaan, dia liat mata Tania yang lagi ketawa bebas. "Tania," katanya pelan, metafora-metafora kepuitisan mulai hilang. "Mungkin kau benar. Tapi cara kau 'membuka' pikiranku ini sedikit... ekstrem."
Malam itu, mereka duduk di balkon lagi. Gagal lasagna, akhirnya mereka pesen martabak manis. Tania yang request martabak keju susu, sementara Alessandro menatap martabak itu dengan pandangan 'penghinaan terhadap seni'. "Itu bukan kue, Tania. Itu adalah sugar overdose berbentuk roti."
"Diam, Al! Coba relate dikit sama kegemaran lokal." Tania suapin Alessandro sepotong besar martabak.
Alessandro makan. Matanya melebar. Ternyata... enak. "Ini... manis yang overpowering, tapi di saat bersamaan..."
"Enak kan? Glow upnya roti?"
Alessandro senyum. Romantisnya balik lagi. Sisi gelap dan terang mereka berdua, dalam sehari penuh drama, akhirnya meluruh di bawah langit malam Jakarta yang selalu penuh debu tapi juga penuh harapan. Alessandro peluk Tania dari belakang. "Cinta adalah moko pot yang mendidih di atas kompor, Tania. Kadang ia panas, kadang ia tumpah, tapi aroma yang dihasilkannya..."
"Apaan aromanya, Al? Bau keju susu martabak lo itu?" celetuk Tania.
Alessandro ketawa. Sisi terang Tania muncul: ramah dan santai, bisa mencairkan suasana. "Tania, aku tau sisi gelapmu adalah kau suka meremehkan kesehatan demi keju martabak murahan. Dan sisi gelapku adalah aku terlalu rigid soal cappucino. Tapi terangmu, Tania... terangmu adalah tawamu yang bisa bikin macet Jakarta terasa seperti melodi biolanya Vivaldi."
Tania diem sebentar. Kata-kata Alessandro hits different. "Al... lo tau nggak sisi terang lo? Lo puitisnya nggak kaleng-kaleng, Al. Gue yang asli Jakarta ini jadi baper terus."
Tania natap suaminya. "Tapi tolong ya, Al, jangan puitis-puitis amat kalau kita lagi di pasar. Gue maluuu kalau lo bilang cabe rawit itu seperti 'matahari-matahari kecil yang penuh semangat'."
Alessandro ketawa lagi. "Hujan tak pernah bertanya mengapa ia harus jatuh, Amore... dan aku tak pernah bertanya mengapa aku harus mencintaimu, Tania Putri Wulandari, cewek asli Jakarta yang suka bon cabe, relate sama gorengan, tapi bisa bikin lasagna Nonna jadi fusion neraka. Amore di balik mendoan, itu cinta kita."
Malam semakin larut. Di balkon lantai 17, sepasang suami istri—Alessandro Di Stefano yang terlalu puitis dan Tania Putri Wulandari yang terlalu savage—akhirnya tertidur, merenungkan cinta mereka yang seperti martabak: manisnya bikin baper, tapi juga red flag buat kesehatan. Dan itu, dalam keanehannya yang paling murni, adalah hal yang paling goks yang pernah mereka miliki.
Tania bangkit sebentar dari tempat tidur. Dia liat ponselnya. Ada notifikasi dari grup WhatsApp keluarga besar Wulandari. "Mbak, tempe mendoannya tadi enak nggak?" Tania ngetik, "Enak, nduk. Tapi suamiku yang bule puitis itu bilang kalau minyak gorengnya Majapahit. Must look minyak yang slay sedikit lah kita."
Alessandro, di sampingnya, mengigau pelan. "Amore... parmigiano... oregano... nonna... jangan pake cheese abang martabak..."
Tania ketawa pelan. "Dasar bulenya abis gaslighting puitis, pas tidur balik lagi rewel." Dia matikan ponselnya, tapi sebelum dia tidur, dia tatap Alessandro yang lagi tidur nyenyak. Matanya masih kayak pangeran jatuh dari kahyangan. "Tapi jujur sih, Al," gumam Tania, suaranya pelan, puitis ala Pujangga tapi pake kata Gen Z. "Kau itu seperti sunlight di tengah red flag kehidupan gue. Terang banget, relate abis."
Tania taruh kepalanya di bantal, siap untuk mimpi tentang cappucino lewat jam 11 siang, karena hidup terlalu singkat untuk mengikuti aturan kaku seorang bule Italia puitis, selama dia masih puitis dan ganteng. Dan itu, fix cinta.