Semua karyawan di perusahaan Z Corp sepakat pada satu hal:
Bos mereka aneh.
Namanya Zayan Arka Pradipta, CEO termuda di kota itu, umur 23 tahun, wajahnya kayak anak SMA, tinggi cuma 165 cm, pipinya bulat, rambutnya selalu jatuh ke dahi. Kalau dia pakai hoodie dan sepatu putih, orang luar pasti ngira dia anak magang.
Masalahnya…
anak “imut” itu pemilik saham terbesar perusahaan.
Aku, Nara, baru kerja seminggu di bagian keuangan. Hari pertama aku datang, aku sempat nanya ke satpam:
“Pak, CEO-nya belum datang ya?”
Satpam cuma nyengir.
“Yang duduk sambil makan roti itu, Mbak.”
Aku nengok.
Cowok kecil lagi duduk di sofa lobby, kakinya goyang, sambil minum susu kotak.
Otakku nge-freeze.
Itu… bos?
Zayan di kantor: imut + menyebalkan
Zayan itu tipe bos yang:
Datang pakai hoodie
Bawa bekal bento karakter kucing
Sering bilang “eh” daripada “tolong”
Kalau marah, suaranya tetap lembut
Contoh: “Eh… laporan bulan ini salah. Ulang ya.”
Nada suaranya kayak minta tolong.
Tapi satu kesalahan angka…
langsung mutasi.
Jadi semua karyawan takut bukan karena suaranya, tapi karena keputusan cepatnya.
Dia nggak teriak.
Dia langsung bertindak.
Aku mulai curiga
Suatu malam, aku lembur. Jam 10 malam, kantor sepi.
Aku ke pantry, nemu Zayan lagi duduk sendirian, makan ramen cup.
“Kak… kok belum pulang?”
Dia nengok.
“Kalau aku pulang, siapa yang ngawasin uang perusahaan?”
Nada santai.
Tapi matanya dingin.
Terus dia nanya tanpa lihat laptop: “Neraca kamu kemarin, selisih 1,3 juta. Kenapa?”
Aku kaget.
“E-eh… mungkin salah input.”
Dia senyum kecil.
“Bukan. Supplier mark-up. Kamu belum sadar aja.”
Saat itu aku sadar:
Zayan bukan imut karena lemah.
Dia imut karena nggak perlu terlihat galak.
Skandal
Sebulan kemudian, ketahuan ada manajer senior korupsi.
Semua panik. Rapat darurat.
Zayan masuk ruangan rapat dengan:
Tas ransel kecil
Hoodie abu
Botol minum karakter panda
Orang luar pasti ngakak lihat dia.
Tapi dia buka laptop.
Nampilin bukti transfer, kontrak palsu, dan rekaman suara.
Tanpa teriak, tanpa emosi: “Kamu berhenti hari ini. Laporan ke polisi sudah jalan.”
Manajer itu jatuh terduduk.
Zayan cuma bilang: “Eh… maaf ya. Aku nggak suka orang curi-cuti dari masa depan.”
Sejak hari itu, semua orang ngerti: Zayan bukan bos imut.
Dia bos berwajah imut.
Hubungan kami berubah
Entah kenapa, dia sering manggil aku buat ngecek laporan.
“Nara, temenin aku makan siang.”
Kami makan di ruangannya.
Dia suka nugget, aku suka sambal.
Kadang dia ngeluh: “Aku capek dianggap bocah.”
Aku nyeletuk: “Ya, karena Kakak memang imut.”
Dia diem.
Terus ketawa kecil.
“Kalau aku jelek dan tinggi, mungkin hidup lebih gampang.”
Saat itu aku lihat sisi lain:
dia bukan bos yang menikmati kuasa,
dia anak yang keburu jadi dewasa.
Konflik puncak
Investor asing datang.
Mereka ngeremehin Zayan.
“Apakah tidak ada CEO dewasa yang bisa kami ajak bicara?”
Zayan cuma duduk sambil pegang pulpen.
Dia bilang pelan: “Yang dewasa itu keputusan, bukan umur.”
Dia jelasin strategi ekspansi 5 tahun ke depan.
Grafik, risiko, cadangan dana.
Investor itu terdiam.
Salah satu bilang: “…we underestimated you.”
Zayan cuma angkat bahu.
“Banyak yang begitu.”
Penutup
Sekarang semua orang tahu: Zayan itu:
Imut secara tampang
Kejam secara logika
Lembut secara bicara
Tegas secara keputusan
Dan aku paham satu hal:
Kadang yang paling berbahaya
bukan yang galak,
tapi yang terlihat nggak berbahaya