Gue Alifa, putri pertama emak bapak gue, umur 19 tahun. Sama kayak para dara di luar sana, gue juga lagi menjalani ritual paling sakral anak muda zaman sekarang: rebahan di kamar sambil scroll media sosial tanpa tujuan hidup yang jelas.
Dari aplikasi Youtub*, pindah ke Instagr*m. Scroll. Like. Scroll lagi. Ketawa dikit. Scroll lagi.
Eh, malah ketemu konten pasangan.
Yang nonton? Ya jelas… 99% jomblo.
Komentarnya juga nggak kalah menyayat hati.
"When ya?"
"My kisah kapan?"
"Allah aku juga mau begini."
Gue nyengir sendiri.
“Ya Allah… algoritma kenapa nyerang personal begini sih.”
Scroll lagi.
Muncul video lain. Caption-nya gede banget:
“Scroll terus! Keluar kamar sana, jodoh kalian udah nunggu tuh di depan pintu.”
Gue langsung ngakak.
“Kalo jodoh gue depan pintu, paling juga kurir paket,” gumam gue sambil lanjut baca komentar netizen yang makin absurd.
Baru juga mau lanjut scroll—
DUK! DUK! DUK!
Pintu kamar gue digedor keras banget sampai gue yakin sekrupnya ikut trauma.
“Astaga! Iya bentar, Ma!” teriak gue. “Anak gadismu ini masih hidup kok!”
Udah pasti emak gue. Siapa lagi yang bisa hampir ngerusak barang tapi nggak pernah kena omel?
Gue jalan ke pintu sambil benerin rambut seadanya, lalu membukanya.
Dan…
Otak gue langsung freeze.
Di depan gue berdiri makhluk ciptaan Tuhan yang… terlalu rupawan buat berdiri di depan kamar gue yang berantakan ini.
Tinggi. Kulit putih bersih. Rahang tegas. Mata sipit tajam.
Spek gege-gege China drama romantis.
Ya Allah… emak gue culik cowok dari mana ini?
Gue masih bengong menikmati visual gratis di depan mata—
BRUK!
Emak tiba-tiba dorong cowok itu masuk ke kamar gue sampai gue mundur beberapa langkah.
“Nih suami lu. Mulai sekarang kamar lu kamar dia juga!” ucap emak gue santai.
Lalu—
PINTU DITUTUP.
Dan… suara langkah kaki emak menjauh.
Kabur.
Gue berdiri kaku.
Cowok itu berdiri di depan gue.
Kamar gue berantakan.
Otak gue loading.
“…Hah?”
Gue langsung panik.
“Eee… abang lagi dikerjain mama aku ya? Maaf banget ya, mama emang hobi prank manusia,” kata gue sambil cengar-cengir gugup.
Sumpah malu banget. Ada cowok ganteng masuk kamar gue yang isinya baju numpuk kayak gunung.
Cowok itu malah terlihat tenang.
“Enggak kok.”
Gue mengernyit.
“Enggak… maksudnya?”
Dia menatap gue lurus.
“Iya. Aku suami kamu.”
…
Otak gue resmi shutdown.
Gue tepuk pelan pundaknya.
“Haha… abangnya lucu juga ya. Kerja sama sama mama aku kan?”
Dia nggak ketawa.
Malah mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan cincin di jari manis.
Gue langsung menunjuk.
“Nah kan! Itu abang yang nikah, bukan a—”
Belum selesai gue ngomong, dia narik pelan tangan kanan gue.
“Eh—?”
Sebuah cincin yang sama persis dipasangkan ke jari manis gue.
Pas.
“Nah,” katanya santai sambil menggenggam tangan gue, “sekarang kamu istri aku.”
Jantung gue langsung lomba lari.
Gue menatap cincin itu. Terus ke dia. Terus ke pintu. Terus balik lagi ke dia.
“Be-beneran…? Ini bukan mimpi kan?” suara gue kecil, tangan mulai dingin.
Dia tersenyum tipis.
“Iya, sayang.”
…
Lima menit lalu gue masih scroll konten when ya.
Sekarang gue malah langsung dapat jawabannya.
Tiba-tiba digedor.
Tiba-tiba ketemu gege ganteng.
Tiba-tiba… jadi istri orang.
Gue menghela napas panjang.
Ya… mungkin takdir emang suka plot twist.
Dan jujur aja…
Gue nggak keberatan sih.
Orangnya ganteng. Kelihatan mapan lagi.
Dalam hati gue langsung ngomong:
Terima kasih, ibunda ratu. Anakmu menerima takdir ini dengan penuh rasa syukur.
Kayaknya nanti gue harus sungkem beneran.