“Abang ke mana sih? Dari semalam nggak ada kabar…”
Tasya melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Wajahnya memberengut, bibirnya mengerucut kesal. Dadanya penuh dengan rasa sebal yang tak tahu harus dilampiaskan ke mana.
Namun tak sampai satu menit, benda pintar berwarna putih itu kembali ia raih.
Jempolnya bergerak cepat di atas layar.
Awas aja kalau belum balas juga, Serius aku abaikan!
Ia menghapusnya.
Mengetik lagi.
Katanya minta aku buka hati, katanya tungguin, katanya kasih perhatian.
Giliran aku turuti, malah ilang. Kesel!
Lagi-lagi ia hapus.
Tasya menjatuhkan ponselnya ke samping, lalu merebahkan tubuhnya.
Matanya terpejam rapat, mencoba mengatur napas yang terasa berat.
Dua hari.
Sudah dua hari Abang, lelaki yang dikenalnya dari dunia maya dan kini menjadi kekasih onlinenya, tidak memberi kabar.
Padahal dulu, Abang selalu memastikan dirinya baik-baik saja.
Abang datang di saat hati Tasya sedang rapuh.
Saat kepercayaan Tasya terhadap laki-laki berada di titik terendah.
Patah hati membuatnya membangun tembok tinggi.
Ia menjadi perempuan yang pemilih, berhati-hati, tak mudah memberi ruang.
Namun Abang berbeda.
Dengan caranya yang berisik, cerewet, dan tanpa basa-basi, ia mendekat.
Ia memastikan Tasya bukan milik siapa-siapa sebelum berani melangkah lebih jauh.
Dan entah bagaimana, Tasya membuka pintunya.
Abang itu sederhana,Apa adanya. Seperti buku terbuka yang isinya bisa dibaca bahkan dari kejauhan.
Ia tidak pernah mencoba terlihat sempurna.
Ia bercerita tentang pekerjaannya dengan jujur.
Tentang keluarganya.
Tentang mimpinya.
Tentang lelahnya.
Ia anak sulung, punya lima adik perempuan yang masih kecil-kecil.
Ayah dan ibunya menggantungkan banyak harapan di pundaknya.
Tak pernah sekalipun ia malu dengan keadaannya.
Justru di situlah Tasya jatuh hati.
Bagi Tasya, lelaki yang tak berpura-pura dan berani menunjukkan dirinya yang sebenarnya adalah sesuatu yang langka.
Dan ia menemukannya pada Abang...
Tasya meraih ponselnya lagi.
Masuk ke galeri, mencari foto Abang.
Dipandanginya lama.
Hanya pria biasa dengan wajah sederhana.
Senyum yang tidak dibuat-buat.
Tidak sempurna, tapi hangat.
Tasya teringat suatu malam.
Mereka sedang asyik mengobrol, tertawa lewat chat. Lalu tiba-tiba… Abang menghilang.
Pesannya diam tidak terbuka.
Berjam-jam tak ada kabar.
Tasya waktu itu kesal. Sangat kesal.
Namun beberapa jam kemudian, pesan masuk.
"Maaf ya sayang, HP-nya dipinjam adik."
Aneh.
Kesal Tasya langsung menguap begitu saja.
Di sudut hatinya yang paling dalam, justru tumbuh rasa hangat.
Abang peduli pada adik-adiknya.
Ia tidak pernah mengeluh soal tanggung jawabnya sebagai anak sulung.
Sejak saat itu, Tasya berusaha tidak protes jika Abang lama membalas.
Ia percaya selalu ada alasan, dan Abang pasti akan menjelaskan.
Pernah juga ponsel Abang rusak, dilempar adiknya dari lantai dua. LCD kena dan mati total.
Abang menghubungi Tasya lewat ponsel ibunya.
Menjelaskan dengan nada lelah dan cemas tapi tertawa.
Tasya terharu saat itu.
Di tengah kekacauan, Abang tetap mengingatnya.
Abang menganggapnya ada.
Tapi sekarang?
Dua hari.
Sunyi.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada pesan.
Tidak ada tanda-tanda.
Tasya overthinking.
Apakah Abang bosan? Apakah ada perempuan lain? Apakah ia salah bicara?
Ia ingin marah.
Namun lebih dari itu, ia takut.
Tasya menggenggam ponselnya erat-erat.
Ia yakin… entah kenapa ia yakin, Abang akan menghubunginya.
Bukankah Abang mencintainya?
Siang itu, notifikasi berbunyi.
Nama yang ia tunggu muncul di layar.
"Abang."
Jantung Tasya berdegup lebih cepat.
Pesan masuk.
"Maaf…"
Tasya membaca, tapi tidak membalas.
Ada ego kecil yang ingin membalas rasa sebalnya.
Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya masuk.
"Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Maaf baru bisa on. Ayah aku berpulang ke Rahmatullah… "
Dunia Tasya seperti berhenti.
Tangannya melemas.
Dadanya sesak.
"Ayah Abang… meninggal?"
Air matanya jatuh tanpa izin.
Jadi… saat ia mengomel dalam hati karena merasa diabaikan, Abang sedang di rumah sakit? Sedang kalut? Sedang menghadapi kehilangan terbesar dalam hidupnya?
"Ya Tuhan…"
Tasya menutup mulutnya, menahan isak.
Ia membayangkan Abang.
Anak sulung.
B
Dengan lima adik perempuan yang masih kecil-kecil.
Kini ayahnya tiada.
Pundaknya yang sudah berat… kini harus menanggung lebih banyak lagi.
Betapa hancurnya hati Abang saat ini.
Dan ia… malah sibuk merasa diabaikan.
Rasa bersalah menggerogoti dada Tasya.
Jempolnya gemetar saat mulai mengetik.
Tak ada lagi ego.
Tak ada lagi amarah.
Hanya cinta dan kepedulian yang tersisa.
"Sini… aku peluk Abang."
Di balik layar yang memisahkan jarak, Tasya berharap pelukannya bisa sampai.
Walau hanya lewat kata.
Walau hanya lewat doa.
Karena kini ia tahu, mencintai seseorang bukan hanya soal ditunggu dan diperhatikan.
Tapi juga tentang berdiri di sampingnya, terutama saat dunianya runtuh.
( Cerpen ini saya dedikasikan buat seseorang yang baru saja kehilangan sosok ayah yang jadi panutannya. Yang sabar ya sayang, yang kuat untukmu, untuk Ibu dan untuk adik-adik.)
With love🤍