Penulis novel remaja, fantasi wanita, atau romansa terbiasa menulis pakai bahasa gaul nih. Meskipun cocok dan lumayan seru, menurutku itu rada berantakan. Apalagi kalau dipublikasi, dijilid, dan dicetak jadi buku. Karena cerita bagus berpotensi dibuat lebih terkenal dalam skala besar, seperti yang diterjemahkan ke bahasa asing.
Kalau kualitas tata bahasa dan bobotnya kurang secara internasional, aku pun malas baca dan ga tertarik untuk beli bukunya. Sebagai orang Indo yang tinggal di luar negeri, bukan cuma aku yang berpendapat semacam ini. Harapanku cuma satu. Semoga penulis di negeriku Indonesia mau belajar lebih lagi dalam menulis kata-kata yang cerdas, bermanfaat, bermakna, sesuai pendidikan moral, bukan plagiat atau tiruan, dan yang mencerminkan kehormatan bangsa. Amin.