Di Seoul bagian utara, ada satu organisasi yang gak pernah muncul di berita: Black Swan Syndicate. Polisi tahu mereka ada. Jaksa tahu mereka kuat. Tapi gak ada yang pernah bisa nyentuh puncaknya.
Puncaknya bukan satu orang.
Puncaknya tujuh.
Orang-orang nyebut mereka: BTS.
Namjoon adalah otak.
Dia gak pegang pistol, tapi pegang peta kekuasaan: pelabuhan, jalur logistik, rumah sakit, perusahaan ekspor. Dia tahu di mana uang mengalir dan di mana nyawa bisa diputus.
“Peluru itu murah,” katanya suatu malam.
“Kesalahan itu mahal.”
Seokjin urus citra.
Restoran mewah, hotel, yayasan amal. Wajah tampan, senyum ramah.
Kalau publik lihat dia, mereka lihat dermawan.
Kalau musuh lihat dia… mereka lihat akhir dari negosiasi.
Dia gak teriak.
Dia cuma bilang, “Kalau kamu salah, kamu pergi dengan cara yang elegan. Atau cara yang cepat.”
Yoongi adalah algojo ekonomi.
Dia ngancurin organisasi lain bukan dengan bom, tapi dengan hutang, manipulasi pasar, dan kontrak palsu.
Kalau Yoongi masuk ke hidup lo, bisnis lo mati pelan-pelan.
“Orang miskin mati karena lapar,” katanya.
“Orang serakah mati karena percaya diri.”
Hoseok urus lapangan.
Gudang, senjata, pergerakan orang. Senyumnya cerah, tapi tangannya gak pernah ragu.
Dia yang turun langsung kalau rencana gagal.
“Aku bukan kejam,” katanya ke anak buah baru.
“Aku cuma cepat. Dunia gak nunggu belas kasihan.”
Jimin adalah wajah gelap.
Dia negosiator untuk musuh yang masih bisa diselamatkan.
Kalau Jimin datang, itu artinya:
masih ada kesempatan hidup.
Tapi kalau negosiasi gagal…
dia yang pertama menandatangani perintah eksekusi.
Taehyung adalah bayangan.
Intelijen, penyamaran, pembunuhan senyap.
Orang sering salah sangka dia polos.
Padahal dia yang paling sering melihat darah.
“Aku gak benci siapa pun,” katanya.
“Aku cuma gak terikat.”
Dan Jungkook…
dia yang paling muda.
Dia belajar nembak sebelum lulus sekolah.
Dia belajar menyiksa sebelum belajar jatuh cinta.
Semua bilang dia monster.
Padahal dia cuma produk dari sistem yang dibangun Namjoon.
Suatu hari, lo masuk ke hidup mereka.
Bukan sebagai korban.
Bukan sebagai kekasih.
Tapi sebagai akuntan negara yang gak sengaja nemu transaksi aneh di yayasan Seokjin.
Kesalahan lo:
lo gak lapor.
Lo nyelidik sendiri.
Malam itu, mobil lo berhenti di lampu merah.
Lampu mati.
Ketukan di kaca.
Bukan pistol.
Cuma kartu nama.
Jin Group Foundation
Besoknya, lo dibawa ke gedung tertinggi.
Namjoon sendiri yang ngomong:
“Lo punya dua pilihan.
Tutupi ini dan hidup.
Atau buka ini dan mati.”
Lo jawab:
“Kalau gue tutup mata, orang lain mati.”
Ruangan jadi dingin.
Yoongi nyengir tipis.
“Romantis.”
Hoseok ngeretakkan jari.
“Naif.”
Jimin nutup mata sebentar.
“Dia gak salah.”
Namjoon mikir lama.
“Masukin dia ke sistem.”
Dan sejak hari itu, lo jadi bagian dari mereka.
Lo lihat semuanya.
Pelabuhan ilegal.
Anak-anak dijual.
Uang dicuci lewat rumah sakit.
Tapi lo juga lihat sisi lain:
Mereka bunuh mafia lain yang jual anak.
Mereka jatuhin politisi korup.
Mereka ngerusak kartel obat.
Mereka bukan pahlawan.
Mereka bukan penjahat murni.
Mereka keseimbangan paksa.
Suatu malam, lo tanya Jungkook: “Kenapa lo masih di sini?”
Dia jawab pelan: “Karena kalau gue keluar, orang lain mati.”
Itu bukan loyalitas.
Itu hukuman seumur hidup.
Akhir cerita bukan pelarian.
Bukan cinta.
Bukan pengkhianatan.
Akhirnya:
lo sadar,
dingin mereka bukan sifat.
Itu mekanisme bertahan hidup.
Dan sekarang,
lo juga mulai dingin.