Langit sore itu berwarna kelabu, seperti menahan hujan yang tak kunjung jatuh. Arka duduk di tepi ranjangnya, menatap layar ponsel yang sejak tadi tak berhenti bergetar.
Satu juta tayangan.
Video berdurasi lima belas detik itu menampilkan dirinya yang menatap kamera dengan mata yang mencoba tegar.
“Gue nggak pernah gagal. Gue cuma nggak pernah dianggap cukup.”
Ia tak menyangka kalimat sederhana itu akan menjadi gema yang mengguncang rumahnya sendiri.
---
Semua bermula dari percakapan tiga malam sebelumnya.
“Ayah cuma mau kamu jadi lebih baik,” suara ayahnya terdengar berat.
“Lebih baik dari siapa, Yah?” Arka bertanya pelan. “Dari standar Ayah? Atau dari kemampuan Arka sendiri?”
Ayahnya menghela napas panjang. “Kamu itu terlalu sensitif. Dunia kerja nggak butuh orang yang baper.”
Arka tersenyum pahit. “Dunia kerja mungkin nggak butuh orang baper. Tapi anak Ayah butuh dihargai.”
Ruangan itu mendadak senyap. Ibu yang sejak tadi berdiri di dapur hanya mampu menggenggam ujung kerudungnya.
---
Kini, setelah video itu viral, ponselnya kembali berdering.
Nama yang tertera membuat dadanya menegang.
Ayah.
Ia menjawab dengan suara setenang mungkin. “Iya, Yah.”
“Apa maksud video kamu?” Suara itu tak meninggi, tapi ada getar yang tak biasa.
Arka menelan ludah. “Maksud yang mana, Yah?”
“Jangan pura-pura. Kamu menyinggung keluarga di depan jutaan orang.”
“Aku nggak sebut siapa-siapa.”
“Tapi orang bisa menebak!”
Arka terdiam sejenak, lalu berkata perlahan, “Kalau Ayah merasa tersinggung, mungkin karena Ayah tahu itu benar.”
Terdengar tarikan napas panjang di seberang sana. “Ayah membesarkan kamu bukan untuk dipermalukan.”
“Arka juga nggak hidup untuk merasa diperkecil terus, Yah.”
Telepon itu terputus.
Dan untuk pertama kalinya, Arka merasa bukan hanya marah—tapi juga hancur.
---
Dua hari kemudian, ia menerima panggilan dari perusahaan yang sejak lama diimpikannya.
“Kami mengapresiasi keterbukaan Anda di media sosial,” ujar suara HRD itu formal. “Namun kami khawatir stabilitas emosional Anda belum cukup matang untuk tekanan pekerjaan di sini.”
Stabilitas emosional.
Arka tersenyum getir setelah panggilan itu berakhir. Ia merasa seperti sedang dihukum karena jujur.
Malam itu, ibu masuk ke kamarnya tanpa suara. Membawa secangkir teh hangat.
“Kamu sedih?” tanya ibu lembut.
Arka tak menjawab. Ia hanya memandang jendela yang mulai diguyur hujan.
“Ibu tahu Ayah keras,” lanjut ibu pelan. “Tapi Ayah dibesarkan lebih keras lagi.”
“Lalu kenapa luka harus diwariskan, Bu?” suara Arka bergetar. “Kenapa nggak berhenti di generasi Ayah saja?”
Ibu terdiam. Ada kilau air mata di sudut matanya.
“Dulu Ayah ingin jadi arsitek. Tapi kakek memaksanya mengurus toko. Ia belajar menelan kecewa sendirian. Ia tak pernah diajari cara memeluk anaknya.”
Arka menunduk. Dadanya sesak.
“Jadi karena Ayah terluka, Arka harus kuat tanpa pelukan?”
Ibu menggenggam tangannya. “Bukan begitu… tapi mungkin Ayah tak tahu caranya mencintai tanpa melukai.”
---
Seminggu berlalu.
Video itu telah ditonton lebih dari lima juta kali. Dukungan datang dari orang-orang yang tak pernah dikenalnya.
Namun satu pesan membuat jantungnya berhenti sejenak.
Nomor tak dikenal.
“Maaf.”
Hanya satu kata.
Tak ada nama. Tapi Arka tahu. Ia mengenali gaya singkat dan kaku itu.
Malamnya, untuk pertama kali setelah sekian hari, ayah duduk di sampingnya di ruang tamu.
Tak ada televisi menyala. Tak ada suara sendok beradu.
Hanya dua lelaki dengan ego yang sama-sama rapuh.
“Ayah nggak pernah bermaksud bikin kamu merasa kecil,” ujar ayah tiba-tiba.
Arka menatap lurus ke depan. “Tapi Arka sering merasa begitu.”
Sunyi kembali hadir.
“Ayah cuma takut kamu kalah sama dunia,” lanjut ayah. “Dunia itu kejam.”
Arka menarik napas dalam. “Ayah… dunia memang kejam. Tapi rumah seharusnya nggak.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Untuk pertama kalinya, Arka melihat mata ayahnya berkaca-kaca.
“Maaf kalau Ayah salah cara.”
Tak ada pelukan dramatis. Tak ada tangisan keras.
Hanya jarak yang perlahan mencair.
---
Beberapa hari kemudian, Arka membuat video baru.
Wajahnya lebih tenang.
“Kadang orang tua nggak tahu cara bilang bangga. Jadi mereka bilang ‘kurang’ supaya kita terus berjalan.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan kadang kita nggak tahu cara bilang luka. Jadi kita memilih diam.”
Setelah menekan tombol unggah, Arka meletakkan ponselnya.
Ia berjalan ke ruang tamu.
Ayah sedang membaca koran.
Tanpa menoleh, ayah berkata pelan, “Kirim lagi lamaran kamu. Ayah punya teman yang bisa bantu.”
Arka duduk di sampingnya.
Tak ada kata-kata besar.
Namun untuk pertama kalinya, ia tak lagi merasa sendirian di rumahnya sendiri.
Dan mungkin, menjadi cukup bukan tentang pengakuan orang lain.
Melainkan tentang berani mengatakan yang tak pernah diucapkan.
---