Jam di ponselku selalu berbunyi tanpa alarm. 07.12.
Bukan karena aku disiplin, tapi karena tubuhku sudah hafal rindu.
Jakarta belum sepenuhnya sadar. Dari jendela apartemen studio di lantai dua belas, langit masih abu kebiruan. Gedung-gedung berdiri seperti barisan saksi bisu yang tak pernah benar-benar peduli pada siapa pun yang menangis di balik kacanya. Di bawah sana, suara TransJakarta mendesah pelan, ojek online mulai berkumpul di pinggir jalan, dan pedagang bubur berteriak lirih, “Bubur ayam… bubur…”
Aku duduk di tepi kasur. Rambut masih kusut. Air galon di dispenser belum sempat kupanaskan. Tapi tanganku sudah lebih dulu meraih ponsel.
07.12.
Namanya Arga.
Di layar, namanya selalu muncul dengan perbedaan waktu tujuh jam. Dia di Rotterdam—kota dengan sungai-sungai dingin dan langit yang terlalu pucat. Aku di Jakarta—kota yang bahkan hujannya pun terasa bising.
Pesan darinya sudah masuk tiga menit lalu.
**Arga:**
*Pagi, Nay. Kamu pasti baru bangun ya.*
Aku tersenyum tipis.
**Aku:**
*Kamu pasti belum tidur ya.*
Typing… berhenti. Typing lagi.
**Arga:**
*Baru pulang dari lab. Capek banget. Tapi nggak mau tidur sebelum bilang pagi ke kamu.*
Aku menatap layar lebih lama dari seharusnya. Kalimat itu sederhana, tapi dulu—di awal-awal LDR—aku bisa menangis hanya karena perhatian sekecil itu.
Sekarang aku hanya menarik napas panjang.
“Jangan terlalu berharap, Nay,” bisikku pada diri sendiri.
---
Namaku Nayla, 26 tahun, analis keuangan di sebuah perusahaan startup yang katanya sedang “menuju unicorn”. Kantorku di kawasan Sudirman, di antara kaca-kaca tinggi dan lift yang selalu penuh orang berpakaian rapi. Aku lahir dari keluarga sederhana di Depok. Ayah pensiunan guru, ibu membuka warung kecil di rumah.
Arga, 28 tahun, anak pengusaha properti di Bandung. Sekolahnya selalu yang terbaik. S2 di Belanda lewat jalur beasiswa—walau, jujur saja, tanpa beasiswa pun keluarganya mampu membiayai.
Kami bertemu lima tahun lalu, saat sama-sama ikut komunitas diskusi buku di Bandung. Dia bicara tentang Camus dan absurditas hidup dengan mata berbinar. Aku jatuh cinta bukan karena dia pintar, tapi karena dia mendengarkan saat aku berbicara.
Lalu hidup berjalan. Aku diterima kerja di Jakarta. Dia lolos beasiswa ke luar negeri.
“Kita kuat, kan?” katanya waktu itu, di peron stasiun, suara kereta menelan separuh kalimatnya.
Aku mengangguk terlalu cepat.
---
17.43 selalu berbeda.
Kalau 07.12 adalah janji kecil, 17.43 adalah ujian.
Sore ini Jakarta diguyur hujan tipis. Aku duduk di kursi dekat jendela kantor, pura-pura menyelesaikan laporan. Lampu-lampu gedung mulai menyala. Orang-orang bersiap pulang. Slack kantor berisik, tapi pikiranku kosong.
17.42.
Jantungku selalu berdebar menjelang satu menit itu. Seolah-olah semesta punya kebiasaan buruk menguji ekspektasi.
17.43.
Tak ada notifikasi.
Aku menatap layar.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Hujan makin deras. Di kaca jendela, bayanganku terlihat seperti orang lain—lebih lelah, lebih tua.
Akhirnya ponsel bergetar.
**Arga:**
*Sorry baru bales. Tadi dosen ngajak diskusi tambahan.*
Aku membaca pesan itu dua kali. Tidak ada emoji. Tidak ada panggilan sayang. Tidak ada “kangen”.
**Aku:**
*Oh. Seru?*
Lama sekali dia membalas.
**Arga:**
*Lumayan.*
Hanya itu.
---
“Hubungan jarak jauh itu bukan cuma soal kuat-kuatan, Nay,” kata Mama suatu malam, saat aku pulang ke Depok.
Kami duduk di ruang tamu kecil dengan kipas angin berdecit. Televisi menyala tanpa suara.
“Kamu sudah 26,” lanjutnya pelan. “Mama cuma takut kamu nunggu sesuatu yang belum tentu jelas.”
“Aku nggak nunggu, Ma,” jawabku defensif. “Kita sama-sama lagi ngejar cita-cita.”
Mama tersenyum tipis, senyum orang tua yang sudah lebih dulu paham luka.
“Cita-cita itu baik. Tapi hidup nggak cuma soal mimpi. Ada realita. Orang tuanya Arga gimana?”
Aku diam.
Aku pernah sekali bertemu orang tua Arga, sebelum dia berangkat. Ibunya ramah, tapi ada jarak tak kasat mata. Seperti tatapan yang menilai—pendidikan, keluarga, cara bicara.
“Nayla kerja di startup ya?” tanya ibunya waktu itu.
“Iya, Tante.”
“Oh… startup. Masih stabil belum perusahaannya?”
Pertanyaan yang terdengar biasa, tapi nadanya seperti garis tipis yang memisahkan dunia mereka dan duniaku.
Arga pernah bilang, “Mama Papa cuma khawatir masa depanku.”
Aku tahu kalimat itu tidak pernah sepenuhnya netral.
---
Putus pertama kami terjadi di jam 17.43.
Hari itu dia tak mengabari sampai hampir satu jam. Aku sudah berjalan pulang dari halte, sepatu basah oleh genangan.
**Aku:**
*Kamu sibuk banget sampai nggak sempat bilang apa-apa?*
Balasannya datang cepat.
**Arga:**
*Jangan mulai, Nay. Aku capek.*
“Kamu capek? Aku juga capek, Ga,” gumamku di tengah trotoar.
**Aku:**
*Aku cuma pengin ngerasa kamu masih ada.*
Typing…
**Arga:**
*Kita ini LDR, Nay. Nggak bisa selalu kayak dulu.*
Aku berhenti melangkah.
**Aku:**
*Terus?*
Lama. Sangat lama.
**Arga:**
*Mungkin kita butuh jeda.*
Kalimat itu jatuh seperti hujan es.
Aku tidak menangis saat itu juga. Aku hanya menatap lampu merah yang memantul di aspal basah.
**Aku:**
*Jeda atau selesai?*
Tak ada jawaban malam itu.
---
Kami tak berbicara selama dua minggu.
Dua minggu terasa seperti kota tanpa listrik. Segalanya berjalan, tapi gelap.
Aku mencoba sibuk. Lembur. Nongkrong dengan teman kantor. Bahkan sempat menginstal aplikasi dating—hanya untuk melihat, bukan untuk memulai.
Tapi setiap pukul 07.12, tanganku tetap refleks meraih ponsel.
Kosong.
Sampai suatu pagi, 07.12 benar-benar berbunyi lagi.
**Arga:**
*Aku nggak bisa pura-pura nggak kangen.*
Aku tertawa kecil, setengah sinis, setengah lega.
**Aku:**
*Kita ini apa sih, Ga?*
Balasannya cepat.
**Arga:**
*Aku juga nggak tahu. Tapi kalau kamu pergi, rasanya lebih sepi dari negara ini.*
Dan begitulah. Kami kembali. Tanpa definisi jelas. Tanpa solusi nyata.
---
Orang tua Arga mulai lebih vokal.
Suatu malam, dia video call dengan wajah tegang.
“Papa nanya terus soal kamu,” katanya.
“Nanya apa?”
“Ya… rencana. Kamu serius nggak. Kapan nikah. Kamu siap pindah ke luar negeri nggak.”
Aku menelan ludah.
“Dan kamu jawab apa?”
Arga diam beberapa detik. “Aku bilang… kita masih proses.”
Proses.
Kata itu terdengar seperti ruang tunggu yang tak pernah memanggil nomor antrian kita.
“Kalau mereka nggak setuju?” tanyaku pelan.
Dia menarik napas. “Nay, hidup nggak sesederhana itu.”
“Aku tahu.”
“Tapi kamu juga harus realistis. Aku belum mapan. Karierku belum jelas. Kamu juga lagi bangun karier. Kita sama-sama belum stabil.”
“Jadi?”
“Jadi jangan tekan aku buat kepastian sekarang.”
Aku tertawa hambar. “Aku cuma pengin tahu aku ini masih bagian dari masa depanmu atau cuma nostalgia jarak jauh.”
Di seberang layar, wajahnya terlihat lebih dewasa, lebih keras.
“Kamu selalu bikin semuanya terdengar seperti ultimatum.”
---
Hubungan kami berubah menjadi putus-nyambung yang tak pernah benar-benar selesai.
Kadang hangat—bercanda soal cuaca, kirim foto kopi pagi, bahas mimpi buka usaha bareng.
Kadang dingin—balasan satu kata, panggilan tak terjawab, rasa curiga yang tak punya bukti.
Jakarta tetap sama: macet, bising, penuh ambisi. Rotterdam tetap jauh: dingin, tertata, terlalu rapi untuk menampung rindu yang berantakan.
Cita-cita kami masih menggantung. Dia ingin jadi peneliti yang diakui. Aku ingin naik jabatan, bantu orang tua renovasi rumah, punya tabungan cukup sebelum menikah.
Kami mencintai masa depan masing-masing. Tapi belum tentu masa depan itu saling memuat.
---
Sore ini, 17.43 lagi.
Aku duduk di lantai apartemen, lampu belum dinyalakan. Hanya cahaya jingga dari balik gedung.
Ponsel di tanganku terasa lebih berat dari biasanya.
17.43.
Notifikasi masuk.
**Arga:**
*Kita masih di sini, kan?*
Aku menatap kalimat itu lama sekali.
Masih di sini.
Bukan bersama. Bukan selesai.
Hanya… di sini.
Jariku mengetik pelan.
**Aku:**
*Kita masih proses.*
Titik tiga muncul. Menghilang. Muncul lagi.
Aku tidak tahu apakah besok 07.12 masih berbunyi dengan nama yang sama.
Aku tidak tahu apakah 17.43 akan membawa kabar baik atau jeda berikutnya.
Yang aku tahu, cinta kami belum mati.
Tapi juga belum hidup sepenuhnya.
Di luar, Jakarta menghitam perlahan. Lampu-lampu menyala satu per satu, seperti harapan kecil yang bertahan meski tahu malam akan panjang.
Ponselku kembali bergetar.
Aku belum membuka pesannya.
Jam di layar masih menunjukkan 17.43.
Dan kami—entah sedang memulai, atau perlahan mengakhiri—masih berdiri di antara dua waktu itu.