Hujan turun sejak sore.
Bukan hujan deras yang gaduh, melainkan gerimis panjang yang membuat kota terlihat seperti kenangan lama—kabur, lembut, dan sedikit menyedihkan.
Ara duduk di dekat jendela kamar kosnya, menatap layar ponsel yang tidak menyala.
22:41.
Ia tahu pesan itu tidak akan datang.
Tapi tetap saja… ia menunggu.
Sudah tiga hari sejak Damar berhenti membalas.
Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kata putus. Tidak ada penjelasan.
Hanya… diam.
Dan anehnya, justru itu yang paling menyakitkan.
---
Mereka bertemu enam bulan lalu.
Bukan lewat cara romantis.
Ara salah kirim pesan.
Ia berniat mengirim keluhan panjang tentang hidupnya pada sahabatnya, tapi nomor yang ia pilih ternyata milik orang lain.
> *“Aku capek pura-pura kuat.”*
Pesan itu terkirim.
Beberapa menit kemudian balasan datang.
> *“Kalau capek, istirahat dulu. Dunia nggak akan runtuh kok.”*
Ara hampir langsung meminta maaf.
Tapi entah kenapa, ia membalas lagi.
Dan percakapan itu… tidak pernah benar-benar berhenti sejak hari itu.
---
Damar bukan tipe orang yang banyak bicara.
Ia tidak pernah mengirim pesan panjang.
Namun selalu tahu harus mengatakan apa.
Saat Ara gagal interview kerja, dia ada.
Saat Ara sakit, dia mengingatkan makan.
Saat Ara menangis diam-diam tengah malam, notifikasi selalu muncul.
> *“Masih bangun?”*
Seolah dia tahu.
Seolah dia selalu tahu.
Mereka tidak pernah bertemu.
Tidak pernah video call.
Tidak pernah saling mengirim foto.
Aneh, tapi terasa aman.
Hubungan tanpa wajah.
Tanpa ekspektasi.
Hanya dua orang asing yang saling menjadi tempat pulang.
Sampai Ara mulai menyadari sesuatu yang berbahaya—
ia menunggu pesan Damar lebih dari apa pun.
---
23:02.
Ara membuka chat mereka.
Pesan terakhir berasal darinya.
> *“Aku kangen ngobrol sama kamu.”*
Tidak dibalas.
Ia membaca ulang percakapan lama.
Tawa kecilnya dulu terasa seperti milik orang lain.
Damar pernah berkata:
> *“Kalau suatu hari aku tiba-tiba hilang, kamu harus tetap baik-baik aja.”*
Saat itu Ara hanya mengirim emoji marah.
Ia pikir itu bercanda.
Sekarang kalimat itu terasa seperti peringatan.
---
Malam semakin larut.
Hujan berhenti.
Ara akhirnya menyerah dan meletakkan ponsel di samping bantal.
Matanya mulai terpejam ketika layar tiba-tiba menyala.
Notifikasi.
Nama itu muncul lagi.
**Damar.**
Jantungnya langsung berdebar keras.
Tangannya gemetar saat membuka pesan.
> *“Maaf baru balas.”*
Air mata langsung jatuh bahkan sebelum ia sadar.
> *“Kamu ke mana? Aku pikir kamu kenapa-kenapa…”*
Balasan datang lama.
Seolah diketik dengan hati-hati.
> *“Aku memang kenapa-kenapa.”*
Ara membeku.
> *“Aku cuma nggak tahu harus bilang dari mana.”*
Jeda panjang.
Lalu pesan berikutnya muncul.
> *“Aku di rumah sakit.”*
Dunia terasa sunyi.
> *“Sudah lama sebenarnya. Aku cuma… nggak mau kamu tahu.”*
Napas Ara tercekat.
> *“Sakit apa?”*
Tiga titik mengetik muncul.
Menghilang.
Muncul lagi.
> *“Yang nggak bisa lama.”*
Ara tidak langsung mengerti.
Sampai pesan berikutnya datang.
> *“Dokter bilang waktuku nggak banyak.”*
Tangannya dingin.
Air matanya jatuh tanpa suara.
---
> *“Kenapa kamu nggak bilang dari awal?”*
> *“Karena aku senang ngobrol sama kamu tanpa dikasihani.”*
Ara menutup mulutnya, mencoba menahan tangis.
> *“Aku cuma mau jadi orang biasa di hidup seseorang. Bukan pasien.”*
Pesan itu terasa terlalu jujur.
Terlalu manusia.
> *“Aku takut kamu pergi kalau tahu.”*
Ara langsung mengetik.
> *“Aku nggak akan pergi.”*
Balasan datang cepat.
> *“Aku tahu. Itu justru alasan aku harus pergi duluan.”*
Hatinya seperti diremas.
---
Waktu menunjukkan 23:47.
Percakapan mereka berjalan pelan.
Seperti dua orang yang tahu malam itu tidak akan terulang.
Mereka membicarakan hal kecil.
Makanan favorit.
Film yang belum sempat ditonton.
Hal-hal sederhana yang tiba-tiba terasa sangat berharga.
Lalu Damar mengirim pesan terakhir yang panjang.
> *“Ara, kamu orang pertama yang bikin aku lupa kalau aku sakit.”*
> *“Aku nggak pernah lihat wajahmu, tapi kamu rumah paling nyaman yang pernah aku punya.”*
> *“Terima kasih sudah salah kirim pesan hari itu.”*
Air mata Ara jatuh semakin deras.
> *“Jangan ngomong kayak mau pergi.”*
Beberapa detik berlalu.
23:59.
Pesan terakhir muncul.
> *“Kalau nanti kamu lihat hujan, anggap aja aku lagi nyapa.”*
Lalu satu pesan lagi.
> *“Selamat tinggal, Ara.”*
Jam berubah.
00:00.
Chat berhenti.
Tiga titik mengetik tidak pernah muncul lagi.
---
Pagi datang terlalu cepat.
Ara duduk di tempat yang sama, ponsel masih di tangannya.
Tidak ada pesan baru.
Tidak akan ada lagi.
Beberapa hari kemudian, nomor itu tidak aktif.
Tidak ada kabar lanjutan.
Tidak ada kepastian.
Hanya ruang kosong yang dulu diisi notifikasi kecil setiap malam.
Namun sejak hari itu, setiap kali hujan turun—
Ara tidak lagi merasa sendirian.
Ia masih membuka chat itu sesekali.
Membaca ulang pesan pertama.
> *“Kalau capek, istirahat dulu.”*
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar melakukannya.
Karena seseorang yang bahkan belum pernah ia temui…
pernah mencintainya cukup dalam untuk mengucapkan selamat tinggal.
Dan mungkin—
beberapa hubungan memang tidak ditakdirkan untuk panjang.
Hanya cukup singkat…
untuk mengubah hidup seseorang selamanya.
**— END —**