Namaku Aruna. Hidupku biasa saja sampai aku kabur dari rumah pada umur tujuh belas tahun—bukan karena drama cinta, tapi karena aku muak dengan hidup yang ditentukan orang lain. Aku naik bus ke kota pelabuhan, tanpa tujuan jelas, cuma satu: bebas.
Di kota itu aku bekerja di kios buku bekas dekat dermaga. Di situlah aku bertemu Raka.
Raka bukan tipe pahlawan. Ia pelaut magang yang selalu pulang dengan tangan kotor oli dan mata lelah. Tapi ia selalu beli buku yang sama: buku peta dunia. Berkali-kali.
“Kenapa beli peta terus?” tanyaku suatu hari.
Ia menjawab, “Karena aku mau pergi ke tempat yang belum pernah kucapai.”
Logika aneh. Tapi jujur. Dan itu bikin aku diam.
Hari-hari kami jadi kebiasaan: aku menyeduh kopi, dia cerita tentang laut. Tentang badai. Tentang kapal yang hampir karam. Tentang bagaimana laut itu kejam tapi jujur—kalau salah langkah, mati.
Dari situ aku sadar:
Cinta itu mirip laut. Bukan soal indahnya, tapi soal berani masuk atau tidak.
Suatu malam badai besar datang. Kapal Raka harus berangkat darurat.
Ia berdiri di depan kiosku.
“Aku pergi. Lama. Mungkin setahun.”
Aku diam. Ini titik kritis.
Kalau aku bilang “jangan pergi”, aku egois.
Kalau aku bilang “pergi”, aku mungkin kehilangan dia.
Aku pilih jujur:
“Kalau kamu nggak pergi, kamu bakal nyesel. Kalau kamu pergi, aku yang bakal nunggu.”
Raka memelukku. Bukan romantis berlebihan. Pelukan orang yang tahu risikonya nyata.
Setahun berlalu. Surat datang sebulan sekali. Lalu berhenti.
Dua bulan. Tiga bulan.
Logika orang jatuh cinta lemah:
“Mungkin sibuk.”
“Mungkin sinyal.”
“Mungkin kapal rusak.”
Logika sehat bilang:
Ada kemungkinan dia hilang.
Aku berhenti menunggu kabar. Aku mulai menabung. Aku belajar navigasi dasar. Aku pindah kerja ke pelabuhan. Orang bilang aku gila.
“Ngapain cewek cari laut?”
Jawabanku pendek:
“Karena aku nggak mau cuma menunggu.”
Aku naik kapal kargo kecil. Bukan kapal Raka. Kapal lain.
Badai menghantam kami di tengah laut. Aku muntah, menangis, dan hampir menyesal. Tapi aku sadar:
Cinta tanpa keberanian itu cuma angan-angan.
Di pelabuhan asing, aku menemukan nama kapal Raka tercatat:
Karam.
Itu momen di mana cerita cinta normal akan berakhir.
Tapi ini petualangan.
Aku cari awak kapal yang selamat. Dari satu kota ke kota lain. Sampai akhirnya aku menemukan satu pelaut tua.
“Kau cari Raka?”
“Iya.”
“Dia hidup. Terjebak di pulau kecil. Kapalnya pecah.”
Aku menangis bukan karena sedih, tapi karena marah—karena aku hampir menyerah.
Aku ikut kapal nelayan menuju pulau itu.
Dan di sana aku melihat Raka: kurus, berjanggut, hidup dari hasil laut.
Dia kaget melihatku.
“Kau gila?”
“Ya,” jawabku. “Tapi aku gila dengan arah.”
Kami duduk di pantai. Tidak langsung pelukan. Tidak langsung drama. Kami bicara panjang:
Tentang takut.
Tentang salah.
Tentang kemungkinan tidak kembali.
Raka bilang:
“Aku pikir aku mati di sini.”
Aku jawab:
“Dan aku pikir aku hidup tanpa kamu. Ternyata dua-duanya salah.”
Kami pulang bersama. Tidak kaya. Tidak heroik. Tapi utuh.
Dan di situlah aku mengerti:
Cinta bukan tentang siapa paling setia, tapi siapa yang berani bergerak saat semuanya bisa gagal.