Ramadhan baru masuk hari ketiga. Di kelas VIII B, suasana sudah berubah drastis. Anak-anak jadi lebih pendiam… bukan karena makin alim, tapi karena lapar dan ngantuk berjamaah.
Kelompok sahabat yang dikenal dengan nama “Geng Sahur Terlambat”—Doni, Raka, Siti, dan Udin—duduk berjejer dengan wajah lesu. Mata mereka setengah terbuka, setengah lagi sudah libur.
“Eh,” bisik Raka pelan, “kalian sahur jam berapa?”
“Jam lima kurang satu menit,” jawab Doni bangga.
“Lah sama dong,” kata Udin.
Siti menatap mereka berdua sambil menghela napas. “Kalian sahur apa cuma minum air?”
Belum sempat dijawab, perut Doni berbunyi keras, “Grrrrrr”.
Seketika satu kelas menoleh.
“Tenang,” kata Doni sok kalem, “itu cuma… suara iman yang sedang diuji.”
Saat pelajaran berlangsung, guru menjelaskan panjang lebar. Namun di kepala Geng Sahur Terlambat, yang terdengar cuma suara gorengan imajiner dan es teh khayalan.
Raka tiba-tiba nyeletuk pelan, “Kalau buka puasa nanti, aku mau makan tiga piring.”
Udin mengangguk serius. “Aku lima.”
Siti menatap mereka. “Kalian ini niat puasa atau balas dendam sama nasi?”
Menjelang dzuhur, kesabaran benar-benar diuji. Doni salah menjawab soal, Raka menulis nama sendiri salah, dan Udin hampir bilang “selamat makan” ke guru.
Namun di balik semua kekonyolan itu, mereka tetap saling menguatkan. Kalau ada yang lemas, yang lain menyemangati. Kalau ada yang hampir menyerah, yang lain mengingatkan, “Sabar, tinggal beberapa jam lagi.”
Akhirnya, saat adzan magrib berkumandang, mereka berbuka bersama di mushola. Dengan senyum lebar dan segelas teh manis, Doni berkata,
“Ramadhan itu berat, tapi kalau dijalani bareng sahabat…”
Raka menyela, “Beratnya jadi lucu.”
Mereka tertawa bersama.
Perut kenyang, hati senang, dan persahabatan makin erat—meski dimulai dari rasa lapar.