Nama samaran itu “Raven”. Di kartu identitas palsu, pekerjaanku: pembunuh bayaran. Di dunia nyata, aku penyelidik yang disuruh masuk ke jaringan kriminal dari dalam.
Klien pertamaku—secara pura-pura—meminta satu hal: menyingkirkan saksi. Aku terima, bukan karena ingin membunuh, tapi karena ingin tahu siapa yang menyuruh.
Di gudang tua, targetku datang sendiri. Wajahnya pucat, tangannya gemetar.
“Aku tahu kamu datang untuk aku,” katanya.
Aku diam. Kalau terlalu lembut, topengku runtuh. Kalau terlalu kejam, aku kehilangan arah.
“Aku datang untuk mendengar,” jawabku akhirnya.
Ia menyerahkan rekaman: suara bos jaringan itu memerintahkan pembunuhan. Bukti lengkap. Saat itu aku sadar, peranku hampir selesai.
Malam itu aku menembakkan pistol—ke dinding, bukan ke tubuh. Suara tembakan jadi tanda untuk timku. Polisi masuk, gudang dipenuhi lampu biru.
Di laporan resmi, Raven adalah pembunuh bayaran yang kabur.
Di dunia nyata, aku pulang tanpa nama pahlawan.
Karena penyamaran terbaik bukan yang terlihat paling gelap,
tapi yang tahu kapan harus berhenti jadi gelap.