Semua cewek di sekolah suka Raka. Kakak kelas kelas 12, tinggi, putih, senyum manis. Tapi mereka cuma lihat bungkusnya.
Gue lihat isinya.
Hari pertama dia nyapa gue, gue mikir: oke, normal.
Hari ketiga, dia udah hafal jadwal pulang gue.
Hari kelima, dia nungguin di depan rumah.
“Ini kebetulan,” katanya sambil senyum.
Bohong.
Dia mulai ngatur:
– Gue gak boleh duduk sama temen cowok.
– Gue gak boleh balas chat siapa pun selain dia.
– Gue harus lapor tiap jam.
Waktu gue bilang, “Lu lebay,”
dia ketawa pelan.
“Lebay itu tanda sayang.”
Kalimat paling bahaya di dunia.
Suatu sore, gue sengaja pulang beda rute.
Dia tetap muncul di belakang gue, naik motor.
“Kenapa ngumpet?”
Matanya bukan marah.
Kosong.
Gue baru paham: ini bukan cinta.
Ini obsesi.
Besoknya gue bilang tegas,
“Berhenti ganggu gue.”
Dia diem lama.
Lalu senyum lagi.
“Kalau gue gak bisa punya lu…
orang lain juga gak boleh.”
Sejak itu gue pindah sekolah.
Raka tetap ganteng.
Tapi sekarang gue tahu:
cowok paling berbahaya bukan yang kasar,
tapi yang keliatan manis tapi mikir lu itu barang.