Tahun 1996 di sebuah sudut kota yang sedang angkuh dengan pembangunan, Jakarta menyimpan rahasia di balik gemerlap lampu neonnya. Di sebuah rumah tua bergaya kolonial di kawasan Menteng yang sedikit melipir ke arah gang sempit, tinggal seorang wanita bernama Suminah. Ia adalah seorang penjahit kebaya langganan para istri pejabat, namun hidupnya berakhir dalam sebuah tragedi yang hingga kini masih menyisakan bau anyir darah dan aroma bunga sedap malam yang mencekam.
Tragedi ini bermula ketika Suminah ditemukan tewas di ruang tamunya dengan kondisi yang tidak masuk akal. Tubuhnya kaku, duduk tegak di kursi jahit, dengan mata terbuka lebar menatap jendela yang terkunci dari dalam. Tidak ada tanda kekerasan fisik yang kasat mata, namun seluruh helai rambutnya memutih dalam semalam. Gegerlah seluruh ibu kota. Polisi menyebutnya serangan jantung, namun rakyat berbisik tentang hal lain: Kriminalisasi Gaib.
Kambing Hitam di Balik Jeruji
Hanya dalam waktu tiga hari, polisi menangkap Giman, seorang kuli panggul pasar yang sering lewat di depan rumah Suminah. Alibinya patah oleh kesaksian seorang pria misterius berjas safari yang mengaku melihat Giman keluar dari rumah korban pada malam kejadian. Giman, pria lugu yang bahkan tidak tahu cara membaca surat penangkapan, dipaksa mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya.
Di dalam sel tahanan Polres yang lembap, Giman mengalami siksaan yang melampaui batas kemanusiaan. Namun, misteri horor dimulai di sini. Setiap malam Jumat Kliwon, ruang sel Giman akan dipenuhi oleh ribuan ulat bulu hitam yang muncul dari sela-sela dinding beton. Para tahanan lain bersumpah mereka mendengar suara mesin jahit tua menderu dari arah sel Giman, padahal di sana hanya ada satu dipan semen dan satu botol air mineral.
"Bukan saya, Pak... Suminah mati karena 'Pesanan'..." ratap Giman di depan penyidik yang hanya membalasnya dengan hantaman gagang pistol.
Benang Merah Sang Pejabat
Seorang jurnalis investigasi muda bernama Bimo merasa ada yang janggal. Ia menelusuri buku catatan pelanggan Suminah yang sempat disita namun "hilang" dari barang bukti. Bimo menemukan satu nama yang dicoret berkali-kali: Nyonya Hardianto, istri dari seorang jenderal berpengaruh saat itu.
Bimo nekat mendatangi rumah Suminah yang sudah dipasang garis polisi. Di sana, ia menemukan fakta horor. Suminah ternyata sedang menjahit sebuah kebaya pengantin yang dipesan oleh Nyonya Hardianto untuk selingkuhan suaminya—sebuah bentuk "santet bungkus" agar sang selingkuhan mati perlahan saat mengenakan kebaya tersebut. Namun, Suminah yang taat agama menolak melanjutkan jahitan itu dan mengancam akan membongkar praktik ilmu hitam sang nyonya.
Malam itu, Suminah tidak dibunuh oleh manusia. Ia dibunuh oleh "Kiriman" yang seharusnya ditujukan untuk orang lain. Namun, untuk menutupi jejak keterlibatan sang istri pejabat dalam praktik dukun hitam, Giman dikriminalisasi. Ia dijadikan tumbal hukum demi menjaga nama baik sebuah dinasti.
Horor yang Tak Berakhir
Malam sebelum eksekusi hukuman mati Giman (yang diputuskan dengan sangat cepat), sebuah kejadian mengguncang markas kepolisian. Pria berjas safari yang menjadi saksi kunci ditemukan tewas di kamar hotelnya dengan mulut penuh dengan benang jahit berwarna merah darah. Di lehernya, terdapat bekas jeratan halus, sehalus benang sutra.
Siksaan batin bagi para pelaku kriminalisasi tidak berhenti di situ. Nyonya Hardianto mulai kehilangan akal sehatnya. Ia terus-menerus merasa kulitnya tertusuk ribuan jarum jahit tak kasat mata. Setiap kali ia bercermin, ia tidak melihat wajahnya sendiri, melainkan wajah Suminah yang sedang menjahit mulutnya sendiri.
Giman akhirnya meninggal di penjara sebelum dieksekusi, konon karena ketakutan melihat sesosok wanita berkebaya merah yang berdiri di sudut selnya setiap malam. Kasus ini ditutup, berkasnya "dimakan rayap", dan nama Giman tetap bersih hanya di mata Tuhan.
Amanah dari Masa Lalu
Tragedi Suminah dan Giman adalah potret kelam tahun 90-an di Indonesia, di mana hukum bisa dipesan seperti kebaya, dan nyawa orang kecil hanyalah perca kain yang bisa dibuang. Misteri horor ini mengingatkan kita bahwa ketika keadilan di dunia dibungkam oleh kriminalisasi, maka "alam lain" yang akan menuntut balas dengan caranya sendiri.
Hingga hari ini, warga di sekitar rumah tua itu konon masih sering mendengar suara mesin jahit di tengah malam. Dan jika Anda lewat di sana dan mencium aroma bunga sedap malam yang sangat menyengat, itu tandanya Suminah sedang menyelesaikan "Jahitan Keadilan" yang tertunda.
---