Di SMA Nusantara, sebuah mikrokosmos kaum elite di jantung Jakarta, nama Arkana Samuel adalah sebuah legenda hidup. Ia bukan sekadar cowok kaya yang mengendarai mobil sport ke sekolah. Di belakang namanya, mengalir darah biru dari klan Samuel—sebuah keluarga bangsawan industri yang memiliki akar kuat hingga ke Luxembourg. Jika remaja lain pamer tentang liburan ke Bali, Arkana adalah tipe cowok yang menghabiskan musim panasnya di sebuah kastil peninggalan abad ke-18 di tebing-tebing lembah Alzette.
Namun, bagi Lala, Arkana adalah sebuah peringatan berjalan. Di balik jas almamaternya yang selalu rapi dan wangi parfum oud yang eksklusif, Lala mencium aroma kesedihan yang pekat.
Sore itu, perpustakaan sekolah yang sepi menjadi saksi bisu pertemuan mereka. Arkana duduk di sudut, jemarinya yang panjang mengelus permukaan buku tua tentang arsitektur Eropa.
"Kenapa lo selalu ngelihat gue seolah-olah gue ini pasien rumah sakit, La?" suara Arkana memecah kesunyian. Berat dan tenang.
Lala yang sedang merapikan buku di rak terdekat tertegun. "Aku nggak ngelihat kamu kayak gitu, Arkan."
Arkana menutup bukunya, lalu menatap Lala dengan mata tajam yang menyimpan luka dalam. "Semua cewek di sini pengen ada di posisi lo. Gue kasih perhatian, gue kasih barang yang mereka mimpikan, tapi lo? Lo malah mundur setiap kali gue mendekat. Apa gue semenakutkan itu?"
Lala menghela napas, ia meletakkan buku di tangannya dan duduk di hadapan Arkana. "Bukan takut padamu, Arkan. Aku takut pada duniamu. Aku takut menjadi korban perasaan dari seseorang yang bahkan tidak tahu cara mencintai dirinya sendiri."
Arkana tertawa getir. "Dunia gue? Lo tahu apa tentang dunia gue?"
"Aku tahu kamu pernah tinggal di Luxembourg," ucap Lala pelan. "Aku pernah dengar kamu cerita ke guru sejarah tentang Kastil Vianden. Kamu bilang, tempat itu indah tapi dingin."
Mendengar kata "Vianden", sorot mata Arkana melunak, namun juga tampak jauh, melintasi ribuan mil menuju benua biru.
"Luxembourg itu memang indah, La," gumam Arkana. "Gue tumbuh di sana. Di sebuah kastil milik keluarga besar Samuel yang dikelilingi kabut setiap pagi. Dari jendela kamar, gue bisa lihat lembah hijau yang sangat luas dan menara-menara kuno yang mencakar langit. Semuanya kelihatan seperti negeri dongeng. Kastil Beaufort, jalanan berbatu di kota tua Grund... semuanya sempurna."
Arkana menjeda kalimatnya, tangannya mengepal.
"Tapi di dalam istana itu, La, nggak ada kehangatan. Ayah gue terlalu sibuk dengan ekspansi bisnisnya di Eropa, dan Ibu gue... dia lebih memilih pesta sosialita di Paris daripada dengerin gue cerita tentang sekolah. Gue punya kastil, tapi gue nggak punya rumah. Gue punya kasta, tapi gue nggak punya cinta. Di sana, gue cuma jadi pajangan buat mempercantik citra keluarga Samuel."
Lala menatap Arkana dengan iba, tapi ia tetap pada pendiriannya. "Itu dia alasannya, Arkan. Kamu datang dari tempat yang penuh kastil megah tapi kosong. Kamu terbiasa melihat cinta sebagai transaksi atau sekadar 'pajangan'. Sekarang, kamu pindah ke Jakarta, membawa luka itu, dan mencoba menaruhnya di bahuku."
"Gue sayang sama lo, La! Gue serius," potong Arkana, suaranya sedikit meninggi.
"Kamu sayang padaku, atau kamu cuma butuh seseorang untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan orang tuamu di Luxembourg?" tanya Lala tenang. "Aku takut, Arkan. Aku takut kalau aku menyerah pada perasaan ini, aku cuma bakal jadi pengganti dari kasih sayang yang nggak kamu dapetin dari keluargamu. Aku takut saat kamu nanti bosan, atau saat kamu menemukan 'pajangan' lain yang lebih mewah, aku bakal dibuang kayak mainan tua."
Arkana terdiam. Di luar, hujan Jakarta mulai turun, membasahi kaca perpustakaan yang besar.
"Di Luxembourg," lanjut Arkana dengan suara lirih, "ada sebuah tradisi kecil di desa dekat kastil gue. Kalau kita sayang sama seseorang, kita kasih mereka kunci tua yang sudah tidak dipakai. Artinya, kita kasih mereka akses ke bagian paling rahasia di hati kita. Gue nggak punya kunci fisik itu sekarang, La. Tapi gue punya kejujuran gue."
Lala berdiri, ia merapikan rok seragamnya. "Simpan kejujuran itu buat dirimu sendiri dulu, Arkan. Sembuhin trauma broken home itu. Jangan jadikan aku obat, karena aku bukan tenaga medis. Aku cuma remaja biasa yang pengen cinta monyet yang sederhana, yang bikin baper karena hal-hal kecil, bukan yang berat karena drama keluarga miliarder."
Arkana menatap kepergian Lala dengan tatapan kosong. Untuk pertama kalinya, kekayaannya, nama besar Samuel, dan kenangan indah tentang kastil-kastil di Luxembourg tidak bisa membantunya mendapatkan apa yang paling ia inginkan.
Lala berjalan menyusuri koridor sekolah, air matanya jatuh satu per satu. Ia tahu ia menyukai Arkana. Siapa yang tidak akan baper dengan cowok seperti itu? Tapi ia jauh lebih mencintai kewarasannya. Di kota besar yang keras ini, ia belajar bahwa harta yang paling berharga bukan terletak di dalam brankas bank di Luxembourg, melainkan di dalam kemampuan untuk menjaga hati agar tidak hancur oleh luka orang lain.
Lala terus melangkah, meninggalkan pangeran kastil itu sendirian dalam kemegahannya yang sunyi. Ia memilih untuk tetap menjadi dirinya sendiri, meskipun itu artinya ia harus menahan perih karena takut menjadi korban perasaan.