Di tengah upaya Giselle menyeimbangkan diri antara realitas rakyat jelata dan ekspektasi kaum jet set, sebuah bayangan masa lalu muncul dari balik kabut musim dingin Toronto. Maurine Felicya Soemarmo. Nama itu meluncur dari bibir Mama Victoria Sarasvati Hartoyo dengan nada kemenangan yang tak bisa disembunyikan. Maurine bukan sekadar wanita cantik; ia adalah putri tunggal konglomerat perbankan Soemarmo yang merupakan rekan bisnis abadi Bramantyo Soekotyo Wiryo.
Maurine adalah versi "sempurna" dari apa yang diinginkan Victoria untuk menjadi menantunya. Ia lulusan terbaik dari McGill University, memiliki gaya bicara yang teredam namun mendominasi, dan selera fashion yang setara dengan editor majalah Vogue. Kepulangannya ke Jakarta bukan sekadar untuk reuni, melainkan untuk mengambil kembali apa yang ia anggap sebagai miliknya: Adrian Mahendra.
Kehadiran Maurine pertama kali dirasakan Giselle saat ia sedang makan siang bersama Adrian di sebuah bistro privat di lantai 50. Pintu kaca terbuka, dan seorang wanita dengan setelan jas tweed berwarna krem dan sepatu stiletto merah menyala melangkah masuk tanpa ragu.
"Adrian, mon chéri. Kamu tidak berubah, masih tetap sibuk dengan angka-angka membosankan itu," ucap Maurine dengan aksen yang sangat terasah. Ia mengabaikan kehadiran Giselle sepenuhnya, seolah-olah gadis itu adalah bagian dari dekorasi interior restoran.
Adrian tampak membeku sesaat. "Maurine? Kapan kamu mendarat?"
"Tadi pagi. Dan Papa Bramantyo sendiri yang menyuruhku langsung menemuimu. Katanya, kita perlu mendiskusikan merger antara Mahendra dan Soemarmo di Kanada," Maurine duduk dengan anggun di kursi kosong, baru kemudian melirik Giselle dengan tatapan meremehkan. "Oh, maaf. Kamu pasti asisten baru Adrian? Bisa ambilkan aku air mineral? Sparkling, please."
Darah Giselle mendidih, namun ia menahan diri. Pelajaran dari lantai 25 SCBD adalah: jangan pernah terlihat emosional di depan musuh yang menggunakan ketenangan sebagai senjata.
"Saya Giselle, kekasih Adrian," ucap Giselle dengan senyum sopan namun mata yang tajam. "Dan asisten Adrian sedang di meja sebelah. Jika Anda haus, saya bisa menunjukkan jalan ke dispenser."
Maurine tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting es dalam gelas. "Oh, darling. Kamu sangat menggemaskan. Adrian, dari mana kamu menemukan gadis dengan keberanian... sekecil ini?"
Adrian segera menggenggam tangan Giselle di atas meja. "Maurine, jaga bicaramu. Giselle adalah wanita yang akan kunikahi. Dan mengenai merger itu, kita bicara di ruang rapat, bukan di waktu pribadiku."
Namun, Maurine tidak semudah itu menyerah. Dengan dukungan penuh dari Victoria Sarasvati Hartoyo, Maurine mulai masuk ke dalam kehidupan mereka bak parasit yang elegan. Ia hadir di setiap acara keluarga, ia selalu berada di samping Bramantyo saat rapat pemegang saham, dan ia menggunakan jargon-jargon bisnis internasional yang sengaja dibuat untuk membuat Giselle merasa terasing.
Ironinya memuncak saat Victoria mengadakan pesta kebun bertema "Versailles" di halaman rumah Menteng. Victoria secara sengaja menugaskan Maurine dan Giselle untuk bekerja sama dalam satu kepanitiaan. Ini adalah jebakan klasik.
"Giselle, kamu urus bagian katering lokal saja. Sesuatu yang... sesuai kapasitasmu. Biar aku yang mengurus kurasi fine dining dan tamu-tamu VIP dari luar negeri," ucap Maurine sambil membolak-balik tabletnya. "Kita tidak ingin ada tamu dari Kedutaan Besar yang tersedak makanan berminyak, bukan?"
Giselle hanya diam, ia justru sibuk dengan buku sketsanya. Ia menggambar sosok Maurine—namun bukan kecantikannya, melainkan ekspresi kegelisahan yang tersembunyi di balik senyum palsunya. Giselle menyadari satu hal: Maurine sedang berakting. Wanita itu tidak benar-benar mencintai Adrian; ia hanya mencintai kekuasaan yang akan didapat dari penggabungan dua dinasti.
Malam pesta tiba. Maurine tampil memukau dengan gaun custom yang berkilau di bawah lampu taman. Ia terus menempel pada Adrian, membicarakan masa lalu mereka di Kanada, tentang salju pertama di Toronto dan pesta-pesta rahasia di gedung pencakar langit. Ia mencoba membangun tembok kenangan yang tidak bisa dimasuki oleh Giselle.
Namun, kejutan terjadi saat sesi pidato. Victoria memberikan panggung pada Maurine untuk mempresentasikan "Visi Baru Mahendra-Soemarmo". Maurine berdiri dengan angkuh, memaparkan rencana ambisius yang hanya menguntungkan kaum elit.
Tiba-tiba, layar besar di belakang panggung berubah. Bukan menampilkan grafik saham, melainkan sketsa digital karya Giselle. Sketsa itu menggambarkan Maurine dan Adrian di masa lalu, namun di sisi lain layar, terdapat gambaran nyata tentang apa yang terjadi jika merger itu dilakukan: ribuan karyawan tingkat bawah akan dirumahkan demi "efisiensi" yang sering dibicarakan Maurine.
"Apa ini?" teriak Maurine, wajahnya memerah.
Giselle melangkah maju. "Seni adalah tentang kejujuran, Maurine. Kamu bicara tentang kemajuan, tapi kamu menyembunyikan harga yang harus dibayar oleh orang-orang kecil. Adrian tidak mencintai masa lalu yang kamu tawarkan, karena masa lalu itu egois."
Adrian berdiri di samping Giselle, menatap ayahnya, Bramantyo Soekotyo Wiryo. "Pa, aku tidak akan melakukan merger ini jika syaratnya adalah membuang nurani demi mengikuti ambisi keluarga Soemarmo. Aku memilih cara Giselle—membangun dari bawah, dengan integritas."
Bramantyo, yang mulai menyadari bahwa Maurine dan ayahnya terlalu rakus bahkan untuk standar kaum jet set, mengangguk perlahan. "Sepertinya ide merger ini perlu ditinjau ulang. Dan Maurine, mungkin Kanada lebih merindukanmu daripada Jakarta."
Maurine terdiam, harga dirinya hancur berkeping-keping di depan para tamu jet set. Ia melihat ke arah Victoria, namun Mama Adrian itu hanya bisa membuang muka, menyadari bahwa taruhannya kali ini kalah telak oleh seorang gadis dengan buku sketsa.
Malam itu, di bawah bintang-bintang SCBD, Giselle dan Adrian berdiri di balkon. Ancaman dari Kanada telah berlalu, namun mereka tahu tantangan baru akan selalu ada.
"Kenapa kamu menggambarnya dengan sangat detail?" tanya Adrian tentang sketsa Maurine.
"Karena untuk mengalahkan seseorang, kita harus mengerti ketakutannya," jawab Giselle. "Maurine takut dilupakan. Dan aku baru saja memastikan bahwa dia akan diingat... sebagai pelajaran bagi kita semua."
Adrian tertawa dan mengecup kening Giselle. Di dunia yang penuh dengan drama sekelas drakor dan persaingan bisnis yang kejam, mereka telah membuktikan bahwa cinta yang tulus dan kejujuran tetap merupakan saham paling berharga yang tidak akan pernah mengalami inflasi.
---