Giselle terbangun dengan perasaan seolah ia akan melangkah ke medan perang yang dipenuhi dengan aroma parfum Chanel No. 5 dan desas-desus tajam. Hari ini bukan lagi tentang mengolah data pemasaran di lantai 25 SCBD, melainkan tentang menghadapi dua raksasa dinasti Negeri X: Victoria Sarasvati Hartoyo dan Bramantyo Soekotjo Wiryo. Nama-nama itu bukan sekadar nama, melainkan entitas kekuasaan yang akarnya menjalar hingga ke fondasi ekonomi negara.
Pagi itu, di butik pribadi Victoria yang terletak di sayap kiri rumah Menteng, Giselle dipaksa berdiri di atas podium kecil. Victoria, sang fashionista akut, berjalan mengelilinginya dengan kacamata hitam yang bertengger di atas kepala. "Giselle, dengar. Keluarga Hartoyo tidak pernah tampil di depan publik dengan kain yang harganya di bawah lima puluh juta rupiah. Kamu adalah perpanjangan tanganku sekarang," ucap Victoria sambil menunjuk deretan gaun haute couture.
Giselle menelan ludah. "Tante Victoria, saya sangat menghargai tawaran ini. Tapi, bukankah Papa Bramantyo bilang saya boleh memilih tema seni untuk pesta malam ini?"
Victoria berhenti bergerak. Ia menatap Giselle dengan tatapan yang bisa membekukan air. "Seni, ya. Tapi jangan buat sesuatu yang memalukan. Ini adalah perjamuan jet set. Jangan bawa selera 'rakyat jelata' ke aula utama kami."
Namun, di dalam benak Giselle, sebuah rencana telah matang. Ia teringat pesan Abah Mansur tentang kejujuran dan ironi hidup yang ia pelajari dari pertemuannya dengan Aris sang wartawan. Ia ingin menunjukkan pada kaum jet set ini bahwa di balik kemewahan mereka, ada dunia yang sedang merintih—dunia yang juga memberikan kontribusi pada pundi-pundi kekayaan mereka.
Malam perjamuan tiba. Halaman rumah Mahendra-Wiryo berubah menjadi lautan mobil mewah: Bentley, Lamborghini, dan Rolls-Royce berjajar rapi. Bramantyo Soekotyo Wiryo berdiri di depan pintu besar, mengenakan setelan tuksedo yang sangat elegan, menyalami para menteri, duta besar, dan pengusaha kelas kakap. Bramantyo adalah pria yang auranya memerintah tanpa perlu bersuara. Baginya, setiap pesta adalah panggung diplomasi.
"Adrian, mana kekasihmu itu?" tanya Bramantyo saat Adrian menghampirinya. "Para kolektor seni sudah tidak sabar melihat 'instalasi' yang dia janjikan."
"Dia sedang mempersiapkannya di aula tengah, Pa. Dia bilang ini adalah kejutan," jawab Adrian, meski hatinya sendiri diliputi kecemasan.
Pintu aula tengah dibuka. Musik klasik yang tenang mengalun. Mama Victoria melangkah masuk dengan anggun, siap memamerkan seleranya yang tinggi. Namun, saat lampu sorot menyala, napas seluruh tamu undangan seolah terhenti serentak.
Alih-alih memajang lukisan abstrak mahal atau patung marmer tanpa makna, Giselle memajang sketsa-sketsa berukuran raksasa. Namun, subjeknya bukan Adrian. Sketsa pertama adalah wajah seorang kuli panggul pasar dengan peluh yang mengkristal di dahi, digambar dengan detail yang sangat emosional. Sketsa kedua adalah seorang ibu yang menyuapi anaknya nasi aking di bawah kolong jembatan—jembatan yang kebetulan dibangun oleh salah satu perusahaan konsorsium Bramantyo.
Sketsa-sketsa itu dikelilingi oleh bingkai emas murni milik keluarga Hartoyo. Kontras yang luar biasa antara bingkai mewah dan kemiskinan yang digambarkan di dalamnya menciptakan suasana yang sangat mencekam.
"Apa-apaan ini?" desis Victoria, wajahnya memucat di balik bedak mahalnya. "Giselle, kamu mempermalukan kami!"
Para tamu mulai berbisik. "Apakah ini protes politik?" "Kenapa ada wajah pengemis di pesta Mahendra?"
Bramantyo berjalan perlahan menuju sketsa ibu dan anak di kolong jembatan. Matanya menatap tajam setiap garis pensil yang ditarik Giselle. Ia tahu jembatan itu. Ia tahu proyek itu bermasalah karena dana yang dikorupsi oleh orang-orang seperti Baskoro di masa lalu.
Giselle melangkah maju ke tengah ruangan, mengenakan gaun sutra pemberian Victoria, namun matanya memancarkan keberanian staf pemasaran yang terbiasa menghadapi tantangan.
"Selamat malam, Bapak dan Ibu yang terhormat," suara Giselle terdengar jernih melalui pengeras suara. "Seni seringkali dianggap sebagai pelarian dari kenyataan. Namun malam ini, saya ingin seni menjadi cermin. Kemewahan yang kita nikmati di ruangan ini—termasuk berlian yang saya pakai dan sampanye yang Bapak Ibu pegang—berdiri di atas pundak orang-orang dalam gambar ini. Mereka adalah fondasi dari ekonomi kita. Saya menampilkan mereka di sini bukan untuk merusak pesta, tapi agar kita tidak lupa untuk tetap membumi."
Keheningan yang mencekam menyelimuti aula. Victoria Sarasvati Hartoyo merasa ingin pingsan. Ia membayangkan tajuk berita besok: SKANDAL MENTENG: CALON MENANTU MAHENDRA MENGHUJAT KAUM JET SET.
Namun, kejutan terjadi. Bramantyo Soekotyo Wiryo tiba-tiba bertepuk tangan. Lambat, namun bertenaga.
"Luar biasa," ucap Bramantyo, suaranya menggema. "Selama tiga puluh tahun saya mengadakan pesta, ini adalah pertama kalinya seseorang berani menampar wajah saya dengan kenyataan di rumah saya sendiri. Kamu benar, Giselle. Kita terlalu sering melihat ke atas sampai lupa menginjak bumi."
Victoria terbelalak. "Bram? Kamu mendukungnya?"
Bramantyo menoleh pada istrinya. "Victoria, bukankah kamu selalu bilang seni harus memiliki 'jiwa'? Inilah jiwa itu. Kejujuran yang menyakitkan." Bramantyo lalu menatap para tamunya. "Malam ini, bukan hanya perjamuan charity biasa. Saya akan menggandakan sumbangan perusahaan saya untuk pemukiman di bawah jembatan itu. Dan saya ingin Giselle yang mengawasi distribusinya."
Adrian menghampiri Giselle dan memeluknya di depan semua orang. "Kamu gila, tapi aku bangga," bisiknya.
Giselle tersenyum. Ia tahu ia baru saja melakukan langkah yang sangat berisiko. Victoria mungkin masih membencinya secara diam-diam karena telah merusak estetika pesta glamornya, namun Bramantyo telah memberikan rasa hormat yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Malam itu, di tengah kemewahan Menteng, sebuah narasi baru tercipta. Bahwa cinta antara sang CEO dan karyawannya bukan hanya tentang dongeng romantis ala drakor, tapi tentang bagaimana dua dunia yang berbeda bisa saling memberi pelajaran. Giselle tidak berubah menjadi sosialita palsu; ia justru membawa sedikit "realitas" ke dalam istana kaca yang selama ini tertutup rapat.
Victoria mungkin akan tetap menjadi fashionista yang akut, dan Bramantyo akan tetap menjadi jet set yang terpandang, namun mereka kini tahu satu hal: Giselle bukan sekadar gadis dari lantai 25 SCBD. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap digit kekayaan, ada kemanusiaan yang harus tetap dijaga.
Cerita mereka pun berlanjut. Bukan di atas panggung pesta, melainkan di jalanan Jakarta, di mana Adrian mulai menemani Giselle membagikan makanan dan melihat dunia dengan mata yang baru—mata yang diajarkan oleh sketsa-sketsa jujur seorang gadis pengagum rahasia.
---