Di bawah temaram lampu kawasan SCBD yang tidak pernah tidur, Giselle berdiri mematung di depan mesin kopi otomatis lantai 25. Gadis itu menghela napas panjang, merapikan kuncir kudanya yang mulai berantakan setelah berkutat sepuluh jam dengan data pemasaran yang seolah tidak ada habisnya. Bagi Giselle, SCBD bukan sekadar singkatan Sudirman Central Business District, tapi "Sudah Capek Banget Deh". Di tengah kerumunan budak korporat yang menenteng kopi star-bucks dan memakai lanyard bermerek, Giselle hanyalah "rakyat jelata" yang lebih sering memikirkan promo makanan di aplikasi ojek online daripada memikirkan saham. Namun, ada satu hal yang membuatnya betah bertahan di kantor fintech raksasa bernama PT. Dirgantara Global: sosok Adrian Mahendra.
Adrian adalah definisi dari tokoh utama pria di Webtoon yang keluar ke dunia nyata. Tinggi, rahang tegas, dan tatapan mata sedingin kutub utara yang sanggup membuat seluruh staf perempuan di kantor menahan napas setiap kali ia melintas. Adrian adalah CEO muda, pewaris tunggal kerajaan bisnis Mahendra, yang dikenal sebagai "The Robot". Ia tidak pernah berkencan, tidak pernah tersenyum, dan kabarnya, jantungnya terbuat dari sirkuit komputer karena ia hanya memikirkan efisiensi dan laba. Giselle, yang secara teknis berada di bawah departemen yang jaraknya sepuluh kasta dari ruangan Adrian, hanya bisa mengaguminya dari kejauhan. Setiap jam lima sore, Giselle akan berpura-pura mengambil air minum di dekat lobi lift privat hanya untuk melihat sekilas punggung Adrian yang dibalut setelan jas custom-made seharga satu unit mobil mewah.
Giselle memiliki sebuah rahasia besar. Di dalam tasnya, terselip sebuah buku sketsa kecil yang sampulnya sudah agak kusam. Isinya bukan tentang strategi pemasaran atau catatan rapat, melainkan ratusan gambar Adrian Mahendra dalam berbagai ekspresi yang pernah Giselle tangkap secara diam-diam. Ada sketsa Adrian saat sedang mengerutkan kening membaca laporan, Adrian saat sedang memperbaiki letak jam tangan mahalnya, hingga Adrian yang sedang menatap jendela besar kantornya. Bagi Giselle, menggambar Adrian adalah terapi setelah lelah dimarahi manajer. Ia adalah pengagum rahasia yang paling gigih, yang sadar betul bahwa kemungkinannya untuk bersanding dengan Adrian adalah 0,0001\%.
Suatu malam, badai tiba-tiba mengamuk di Jakarta. Langit seolah tumpah, membuat kawasan SCBD lumpuh total. Giselle yang baru saja menyelesaikan lembur pukul sepuluh malam berdiri menggigil di lobi gedung. Aplikasi ojek online-nya menunjukkan angka yang tidak masuk akal, dan tidak ada pengemudi yang mau mengambil pesanannya. Saat ia sedang meratapi nasib sambil memeluk tasnya erat-erat, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam berhenti tepat di depannya. Pintu belakang terbuka perlahan, mengeluarkan aroma parfum kayu cendana dan citrus yang sangat mahal.
"Naik," suara berat itu terdengar di tengah deru hujan.
Giselle hampir melompat kaget. Di dalam mobil itu, duduk Adrian Mahendra yang sedang menatap tabletnya. Cahaya dari layar tablet menyinari wajahnya, membuatnya tampak seperti dewa Yunani yang turun ke bumi. Giselle membeku, lidahnya kelu. "Eh, Pak Adrian? Maaf, Pak... saya... saya tunggu jemputan saja."
Adrian akhirnya menoleh, menatap Giselle dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Tidak akan ada jemputan di cuaca seperti ini. Kamu mau pingsan karena hipotermia di depan gedung saya? Itu akan merusak citra perusahaan. Masuk sekarang."
Giselle tidak punya pilihan. Dengan kaki gemetar dan pakaian yang sedikit basah, ia duduk di pojok jok kulit yang sangat empuk, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari sang bos. Suasana di dalam mobil sangat sunyi, hanya ada suara rintik hujan yang menghantam kaca kedap suara. Adrian kembali sibuk dengan pekerjaannya, atau setidaknya begitulah kelihatannya. Namun, guncangan tiba-tiba saat mobil menghindari lubang membuat tas Giselle yang resletingnya terbuka terjatuh ke lantai mobil.
Buku sketsa kecil itu tergelincir keluar.
Giselle panik luar biasa. Jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. "Jangan!" teriaknya kecil saat melihat tangan Adrian meraih buku itu. Tapi terlambat. Adrian sudah memegang buku itu dan membukanya tepat di halaman tengah. Sebuah sketsa detail wajah Adrian yang sedang tersenyum tipis—ekspresi yang sebenarnya hanya ada dalam imajinasi Giselle—terpampang dengan jelas di sana.
Adrian terdiam lama. Ia membalik halaman demi halaman. Sketsa-sketsa itu sangat indah, penuh dengan detail yang menunjukkan bahwa sang penggambar sangat memperhatikan setiap inci subjeknya. Giselle ingin sekali menghilang dari bumi saat itu juga. Ia sudah membayangkan besok pagi ia akan dipanggil ke HRD dengan tuduhan pelecehan atau penguntitan terhadap CEO.
"Ini... kamu yang gambar?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari buku itu.
"Saya minta maaf, Pak! Benar-benar minta maaf! Saya tidak bermaksud jahat. Saya cuma... saya suka menggambar dan Bapak adalah model yang menarik secara visual. Saya akan mengundurkan diri besok pagi, Pak, tolong jangan laporkan saya ke polisi," cerocos Giselle dengan air mata yang mulai menggenang.
Adrian menutup buku itu perlahan, lalu ia melakukan sesuatu yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di kantor: ia tertawa kecil. Bukan tawa mengejek, tapi tawa yang tulus dan hangat. "Mengundurkan diri? Kenapa?"
Giselle bingung. "Karena... saya menguntit Bapak lewat gambar?"
Adrian menatap Giselle dalam-dalam, membuat napas gadis itu tertahan. "Kamu tahu, Giselle? Saya sudah tahu tentang kamu sejak lama. Staf pemasaran yang selalu berdiri di dekat lift pukul lima sore, yang selalu membawa botol minum berwarna kuning, dan yang selalu menunduk setiap kali saya lewat. Saya pikir kamu membenci saya karena saya sering memberikan lembur pada departemenmu."
"Hah?" Giselle melongo. "Bapak tahu nama saya?"
"Saya CEO, saya tahu aset paling berharga di perusahaan saya. Termasuk karyawan yang punya bakat seni luar biasa," ucap Adrian sambil mengembalikan buku itu. "Gambar-gambar ini... mereka membuat saya tampak lebih 'manusia'. Saya suka."
Percakapan malam itu berlanjut dengan cara yang sangat tidak terduga. Adrian tidak menurunkan Giselle di kosannya yang sempit di belakang gedung-gedung mewah. Ia justru membawa Giselle ke sebuah gerai ramen kecil yang tersembunyi namun sangat populer di kalangan foodie. Di sana, sang CEO miliarder melepas jasnya, menggulung lengan kemejanya, dan makan ramen dengan lahap bersama seorang staf biasa.
"Jadi, kenapa saya?" tanya Adrian di sela-sela uap panas ramen.
Giselle, yang sudah mulai merasa santai berkat kepribadian Adrian yang ternyata sangat berbeda dari rumor, menjawab jujur. "Bapak itu seperti karakter utama di drama-drama yang saya tonton. Tampak sempurna tapi terlihat kesepian. Lewat gambar, saya ingin memberi Bapak sedikit 'warna' yang mungkin hilang karena terlalu sibuk bekerja."
Adrian tertegun. Selama ini, semua orang mendekatinya karena uang, kekuasaan, atau kepentingan bisnis. Tidak ada yang pernah berpikir bahwa ia kesepian. Sejak malam itu, kehidupan Giselle berubah total. Keesokan harinya, sebuah buket bunga mawar putih besar mendarat di meja kerjanya dengan kartu kecil bertuliskan: "Terima kasih untuk warnanya. Temui saya di lantai 50 jam makan siang."
Giselle menjadi pusat perhatian seluruh kantor. Gosip menyebar lebih cepat daripada koneksi internet 5G. Banyak yang iri, banyak yang mencibir, menyebutnya sedang melakukan strategi "pansos" tingkat dewa. Namun, Adrian tidak peduli. Ia justru sering turun ke lantai 25 hanya untuk membawakan kopi atau sekadar menyapa Giselle, membuat para manajer berkeringat dingin setiap kali sang CEO melintas.
Puncaknya adalah saat perayaan ulang tahun perusahaan. Di depan ribuan karyawan dan tamu undangan penting, Adrian naik ke atas panggung. Bukannya memberikan pidato membosankan tentang target tahun depan, ia justru menampilkan sebuah video singkat. Video itu berisi kompilasi sketsa-sketsa karya Giselle yang telah didigitalisasi dengan sangat indah.
"Perusahaan ini besar bukan karena saya," ucap Adrian melalui mik, matanya mencari sosok Giselle di kerumunan. "Tapi karena orang-orang di dalamnya yang bekerja dengan hati. Ada seseorang yang mengingatkan saya bahwa hidup bukan hanya tentang angka, tapi tentang bagaimana kita melihat dunia melalui mata yang tulus. Giselle, terima kasih sudah menjadi pengagum rahasia yang paling berani."
Giselle berdiri dengan wajah semerah tomat saat lampu sorot mengarah kepadanya. Adrian turun dari panggung, berjalan membelah kerumunan, dan mengulurkan tangannya di depan Giselle. "Giselle, saya tidak butuh pengagum rahasia lagi. Saya butuh seseorang yang mau menggambar masa depan bersama saya secara terbuka. Will you be my partner, in life and in art?"
Riuh tepuk tangan dan teriakan histeris memenuhi ruangan. Giselle tersenyum, menyadari bahwa hidupnya kini benar-benar seperti adegan puncak dalam sebuah film drakor yang sering ia tonton sambil makan mi instan. Ia menyambut tangan Adrian, merasakan genggaman hangat yang meyakinkannya bahwa ini bukan mimpi.
Di SCBD yang dingin dan penuh kompetisi, sebuah sketsa kecil telah meruntuhkan tembok es seorang miliarder. Cinta ternyata tidak butuh skenario yang rumit; terkadang ia hanya butuh keberanian untuk menunjukkan siapa kita yang sebenarnya, bahkan jika itu hanya lewat coretan pensil di atas kertas kusam. Giselle bukan lagi semut di lantai 25, dan Adrian bukan lagi robot di lantai 50. Mereka adalah dua jiwa yang menemukan ritme yang sama di tengah kebisingan Jakarta.
---