Di Negeri X, hukum hanyalah sebuah saran yang bisa dinegosiasikan di balik pintu mahoni yang harum cerutu dan pendingin ruangan yang menusuk tulang. Di negeri ini, Baskoro bukan sekadar manusia; ia adalah sebuah institusi, sebuah monumen hidup dari kerakusan yang dilegalkan. Selama dua dekade, ia menjabat sebagai "penjaga gerbang" proyek strategis nasional, sosok yang menentukan siapa yang boleh kaya dan siapa yang harus tetap melata. Baginya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara adalah prasmanan pribadi yang tak pernah habis, dan rakyat hanyalah angka statistik di atas kertas buram yang bisa ditenangkan dengan janji-janji manis setiap lima tahun sekali di layar televisi.
Baskoro memulai paginya dengan ritual yang sama: menyesap kopi luwak langka di teras rumahnya yang seluas lapangan bola, sementara di luar gerbang besinya yang menjulang, dunia sedang merintih. Pagi itu, Negeri X sedang dicekik krisis pangan. Harga beras melonjak melampaui nalar akibat distribusi yang dimonopoli oleh kroni-kroni Baskoro. Di pinggiran kota, seorang ibu muda tampak memeras sisa nasi aking untuk diberikan kepada anaknya yang terus menangis karena lambungnya perih. Di pasar-pasar tradisional, kericuhan pecah hanya karena sebutir telur yang pecah. Namun, di meja makan Baskoro, terdapat piring-piring perak berisi kaviar dan daging wagyu yang didatangkan langsung dengan pesawat pribadi. Ironi itu nyata, tajam, dan berbau amis, namun Baskoro terlalu sibuk menghitung angka di balik layar tabletnya untuk peduli pada bau busuk kemiskinan yang mengepung istananya.
Mantra hidup Baskoro sangat sederhana: "Segala sesuatu memiliki label harga." Ia percaya bahwa integritas adalah barang mewah yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang belum pernah melihat koper berisi uang tunai. Jaksa yang haus? Beri segepok dollar. Hakim yang butuh rumah baru? Beri kunci villa di Bali. Polisi yang ingin naik pangkat? Beri setoran bulanan yang membuat mereka buta dan tuli. Di Negeri X, Baskoro adalah raja tanpa mahkota yang bersemayam di istana beton berlapis marmer Italia, sementara rakyatnya terkencing-kencing mencari sesuap nasi di tumpukan sampah.
Kehidupan domestiknya adalah etalase kemewahan yang dipaksakan. Istrinya, Ratna, adalah definisi dari kecantikan yang dibeli. Lehernya penuh dengan berlian yang harganya setara dengan biaya pembangunan sepuluh sekolah dasar di pelosok negeri—sekolah-sekolah yang atapnya ambruk tahun lalu karena semennya dikurangi oleh perusahaan kontraktor milik Baskoro. Namun, di balik polesan bedak mahal itu, mata Ratna kosong. Ia tahu Baskoro punya "simpanan" di setiap sudut kota. Salah satunya adalah Maya, seorang model muda yang tinggal di apartemen penthouse pemberian Baskoro. Maya adalah pelarian Baskoro dari kebosanan hidup. Kepada Maya, Baskoro menghamburkan uang hasil sunat dana bantuan sosial. Maya mendapatkan tas Hermes terbaru yang kulitnya lebih halus dari kulit rakyat jelata yang terpanggang matahari saat antre sembako.
"Mas, kapan kita ke Paris lagi? Aku bosan dengan udara Negeri X yang semakin panas," rengek Maya suatu sore, jarinya yang lentik memainkan kerah kemeja sutra Baskoro.
Baskoro tertawa, tawa yang terdengar seperti gesekan logam berkarat yang dipaksakan. "Sabar, Sayang. Proyek pembangunan jembatan lintas pulau baru saja cair. Kita bisa beli satu butik di sana kalau kamu mau. Jembatannya mungkin hanya akan bertahan lima tahun karena besinya saya ganti dengan kualitas dua, tapi uangnya cukup untuk kita hidup tujuh turunan."
Ia merasa tak tersentuh. Kekuasaannya absolut. Namun, kehancuran tidak selalu datang dengan gebrakan pintu dari aparat hukum. Kehancuran datang merayap seperti rayap yang memakan fondasi rumah dari dalam tanpa suara. Dimulai dari putra sulungnya, Aditya. Aditya tumbuh dengan mentalitas bahwa dunia adalah miliknya karena ia anak Baskoro. Suatu malam, dalam keadaan mabuk karena obat-obatan terlarang yang dibelinya dengan uang haram ayahnya, Aditya menabrak sebuah keluarga kecil yang sedang pulang berdagang sayur dengan motor tua. Tiga orang tewas di tempat—ayah, ibu, dan seorang balita.
Baskoro tertawa kecil saat mendengar kabar itu di telepon. "Selesaikan segera. Beri keluarga korban satu miliar, suap saksi, ganti rekaman CCTV, dan pastikan polisi itu tutup mulut. Jangan sampai nama baikku tercemar di koran," perintahnya dingin. Uang memang bekerja. Aditya bebas. Namun, sesuatu dalam diri Aditya patah. Ia mulai dihantui bayangan wajah balita yang ia tabrak, yang matanya terbuka lebar menatapnya sebelum nyawanya hilang di aspal dingin. Uang ayahnya tidak bisa membeli ketenangan batin. Aditya semakin terjerumus dalam narkoba sebagai pelarian. Enam bulan kemudian, ia ditemukan tewas overdosis di sebuah hotel melati yang kumuh—tempat yang sangat kontras dengan kemewahan rumahnya. Ia mati sendirian, dikelilingi oleh jarum suntik yang dibeli dengan uang korupsi.
Kematian Aditya adalah retakan pertama. Ratna, sang ibu, tidak lagi bisa berpura-pura. Ia mulai menyadari bahwa setiap berlian yang ia kenakan terasa berat seperti batu nisan. Ia mulai sering histeris, berteriak bahwa rumah mereka dihuni oleh arwah-arwah orang miskin yang dikhianati suaminya. "Baskoro! Lihat anak kita! Dia mati karena uangmu berdarah!" teriaknya sebelum akhirnya ia kehilangan kewarasan sepenuhnya dan harus dibawa ke RSJ milik pemerintah yang kumuh—ironisnya, rumah sakit itu adalah proyek yang dulu dikorupsi Baskoro sehingga fasilitasnya sangat memprihatinkan. Ratna harus menghabiskan sisa hidupnya di ruangan pengap tanpa AC, tempat yang dulu ia pandang rendah.
Di tengah guncangan keluarga itu, seorang wartawan investigasi senior bernama Aris sedang duduk di serambi pesantren yang sederhana milik Abah Kyai Mansur. Aris membawa setumpuk dokumen bukti korupsi Baskoro yang paling mutakhir. Di luar pesantren, santri-santri makan dengan lauk seadanya karena harga pangan yang terus meroket, namun wajah mereka tenang, jauh berbeda dengan wajah Baskoro yang selalu gelisah meski tidur di atas kasur impor.
"Abah," Aris memulai percakapan setelah menyulut sebatang rokok, matanya lelah menatap bukti-bukti kejahatan sistematis itu. "Saya sudah membongkar semuanya. Tapi saya sangsi. Baskoro mungkin tumbang, tapi sistem di Negeri X ini sudah busuk sampai ke akar. Uang masih menjadi tuhan. Apakah negeri ini memang sudah dikutuk?"
Abah Mansur menyesap teh tawar hangatnya dengan perlahan. "Aris, kamu melihat ini sebagai kegagalan hukum. Saya melihat ini sebagai hilangnya rasa cukup. Di Negeri X, kita tidak kekurangan orang pintar, kita kekurangan orang yang merasa cukup dengan yang halal. Baskoro itu membangun menara dari pasir, Aris. Megah, tapi satu ombak kebenaran saja akan meratakannya."
"Tapi Abah, dia menyumbang miliaran untuk masjid! Dia naik haji setiap tahun!" seru Aris dengan nada getir.
Abah Mansur tersenyum sedih. "Ibadah tanpa integritas itu seperti membangun istana di atas tumpukan kotoran. Megah di luar, tapi baunya akan tetap tercium sampai ke langit. Kamu tahu kenapa hidup Baskoro tidak berkah? Karena berkah itu bukan tentang jumlah, tapi tentang ketenangan. Harta haram itu seperti air laut; semakin diminum, semakin haus. Ia tidak akan pernah merasa kenyang sampai tanah liat menyumbat mulutnya. Harta itu bersifat korosif, Aris. Ia seperti asam yang ditaruh di wadah plastik; lama-lama wadahnya akan bocor. Keluarganya hancur karena mereka mewarisi api, maka jangan heran jika mereka terbakar."
Aris terdiam, merenungi kata-kata sang ulama. "Lalu bagaimana kita membersihkan negeri ini jika semua orang punya harga?"
"Mulailah dengan memutus pasokan pupuk beracun itu," jawab Abah Mansur tegas. "Jangan biarkan koruptor merasa terhormat. Jangan puji mereka karena sedekahnya, tapi pertanyakan dari mana asal dasinya. Negeri X akan bebas KKN bukan saat semua koruptor dipenjara—karena penjara pun bisa mereka beli—tapi saat rakyatnya merasa jijik menyentuh uang yang bukan haknya. Kita butuh revolusi rasa malu."
Dialog itu menjadi api yang membakar semangat Aris. Ia menerbitkan laporan utamanya tepat saat Negeri X mengalami gejolak politik hebat. Rakyat yang selama ini lapar dan menderita mulai turun ke jalan. Mereka tidak lagi bisa dibeli dengan amplop berisi seratus ribu rupiah saat pemilu. Mereka menuntut kepala Baskoro. Rezim pelindung Baskoro tumbang dalam semalam. Orang-orang yang dulu disuapnya tiba-tiba menderita amnesia. Mereka berbalik menyerang Baskoro untuk menyelamatkan kulit mereka sendiri.
Baskoro mencoba cara lama. Ia menghubungi Jaksa Agung, menawarkan sepuluh kali lipat dari biasanya. Namun, sang Jaksa, yang takut akan amuk massa di depan kantornya, menolak. "Maaf, Baskoro. Kali ini uangmu terlalu panas untuk disentuh. Kamu sendirian sekarang," jawabnya singkat sebelum memutus sambungan.
Maya, sang selingkuhan, adalah orang pertama yang melarikan diri. Dengan insting parasit yang tajam, ia mencuri sisa aset yang diatasnamakan dirinya dan lari ke luar negeri bersama kekasih mudanya, meninggalkan Baskoro dengan tumpukan tagihan dan pengkhianatan. Putri bungsu Baskoro, Laras, yang sedang kuliah di London dengan uang negara yang dikorupsi ayahnya, dideportasi dan kembali ke Negeri X hanya untuk menemukan dirinya menjadi paria sosial. Tidak ada teman, tidak ada kemewahan, hanya ada nama belakang yang kini menjadi kutukan.
Puncaknya, Baskoro ditangkap bukan di istananya, melainkan di sebuah gubuk di pinggiran kota saat mencoba melarikan diri menyamar sebagai gelandangan. Ia yang dulu selalu wangi parfum mahal, kini berbau keringat, pesing, dan ketakutan. Di dalam penjara, uangnya tak lagi berkuasa karena setiap sipir diawasi oleh kamera publik yang dipasang oleh pemerintahan baru yang progresif.
Baskoro jatuh sakit—kanker prostat yang menggerogoti tubuhnya dengan cepat. Karena seluruh hartanya disita oleh negara untuk membayar kerugian rakyat, ia hanya mendapatkan perawatan medis seadanya. Ia terbaring di atas kasur tipis di bangsal penjara yang lembap. Ironi terakhir yang memilukan: obat yang dibutuhkannya adalah obat generik berkualitas rendah, hasil dari proyek pengadaan obat yang dulu ia sunat anggarannya untuk membeli perhiasan bagi selingkuhannya. Obat itu tidak bekerja. Tubuhnya menolak kesembuhan.
Di saat-saat terakhirnya, Baskoro tidak melihat wajah istri atau anaknya. Ia melihat bayangan ribuan orang yang kelaparan di pinggir jalan, ia mendengar tangisan balita yang ditabrak anaknya, dan ia mencium bau nanah dari proyek-proyek busuknya. Ia mati dalam kesunyian yang mengerikan. Tidak ada pemakaman megah. Tidak ada pejabat yang datang memberi penghormatan. Namanya dihapus dari sejarah sebagai pahlawan, dan ditulis dengan tinta hitam sebagai pengkhianat bangsa.
Hidupnya berakhir tanpa berkah. Hartanya menjadi api, kekuasaannya menjadi jerat, dan keluarganya menjadi abu. Di Negeri X, Baskoro menjadi pengingat abadi bahwa uang bisa membeli segalanya di dunia manusia yang fana, tapi tidak bisa menyuap hukum Tuhan yang bekerja lewat hati nurani dan waktu. Sejarah mencatatnya bukan sebagai manusia, melainkan sebagai peringatan: bahwa takhta yang dibangun di atas air mata rakyat, pada akhirnya akan tenggelam dalam lautan kehinaan.
Amanah dari kisah ini sangat jelas: Kekayaan tanpa keberkahan adalah kemiskinan yang menyamar. Kejujuran mungkin terasa pahit dan lambat, namun ia membangun fondasi yang tidak akan runtuh oleh badai apa pun. Sedangkan korupsi adalah racun yang tidak hanya membunuh sang pelaku, tapi juga mematikan masa depan garis keturunannya sendiri.