Udara Ottawa di penghujung Oktober terasa seperti pisau bedah yang tipis namun tajam, menyayat pori-pori kulit siapa pun yang berani menantangnya tanpa perlindungan. Di sepanjang Rideau Canal, pepohonan maple berdiri tegak layaknya saksi bisu sejarah yang tengah berganti jubah. Daun-daunnya yang dulu hijau segar, kini berubah menjadi merah darah, oranye tembaga, dan kuning pucat, sebelum akhirnya lepas dari dahan dan menari menuju bumi.
Bagi Catherine—yang kini lebih nyaman dipanggil Khadijah—pemandangan itu bukan sekadar estetika musim. Setiap lembar daun yang jatuh adalah metafora perjalanan manusia. Hijau adalah masa muda yang sombong, merah adalah bara perjuangan dewasa, dan cokelat kering yang hancur dipijak adalah kematian yang niscaya.
"Setiap daun punya waktu untuk jatuh, Khadijah. Tak ada yang mendahului takdirnya, dan tak ada yang mampu menahannya di dahan lebih lama dari yang Allah gariskan," suara itu lembut, beraksen Sunda yang kental namun fasih berbahasa Inggris.
Khadijah menoleh. Dedi Mulyana berdiri di sampingnya, membetulkan syal rajutan yang melilit leher istrinya. Dedi adalah pria kalem dari kaki Gunung Malabar yang terdampar di dinginnya Kanada karena beasiswa penelitian. Namun, bagi keluarga besar Catherine—keluarga Anglo-Saxon ningrat yang silsilahnya bisa ditarik hingga ke bangsawan Inggris—Dedi hanyalah "pemuda asing dari negara tropis dengan agama yang mereka takuti."
Sepuluh tahun lalu, ayahnya, Sir Arthur Montgomery, menatap Dedi dengan penghinaan yang meluap. "Kau ingin menikahi putriku? Dengan apa? Kau bahkan tidak memiliki nama keluarga yang bisa kau banggakan di klub golf kami. Agama yang kau bawa hanya akan membawa kegelapan di rumah ini," ucap Arthur kala itu di ruang tamu mereka yang megah di Rockcliffe Park.
Arthur adalah penganut Islamofobia garis keras. Baginya, Islam adalah ancaman bagi peradaban Barat yang ia agungkan. Namun, Dedi hanya tersenyum simpul, sebuah senyum yang mengandung ketenangan sejuk layaknya air pancuran di desa asalnya. Ia tidak melawan dengan makian. Ia melawan dengan pengabdian.
Tahun-tahun pertama pernikahan mereka di Ottawa adalah medan juang. Dedi bekerja di laboratorium siang hari, dan malam harinya ia merawat Catherine yang sempat jatuh sakit parah akibat depresi karena dikucilkan keluarganya. Dedi tidak pernah mengeluh. Ia mencuci, memasak, dan setiap sepertiga malam, Catherine sering terbangun mendengar isakan lirih suaminya yang bersujud di atas sajadah tipis di sudut apartemen mereka yang dingin.
"Ya Allah, lembutkan hati mereka. Jika bukan karena aku, maka karena cinta-Mu pada hamba-Mu," itulah doa yang selalu didengar Khadijah.
Hingga suatu hari, sebuah badai salju hebat mengurung Ottawa. Sir Arthur Montgomery terkena serangan jantung di rumah besarnya. Ambulans terhambat salju, dan tak ada satu pun kerabat ningratnya yang berani menembus badai. Dedi, dengan mobil tua yang ban-nya hampir gundul, menembus salju setinggi satu meter. Ia menggendong mertuanya yang bertubuh besar itu di pundaknya, berjalan kaki sejauh dua blok karena jalanan tertutup total, hanya untuk mencapai pos medis terdekat.
Sejak hari itu, tembok Islamofobia di hati Arthur retak. Namun, kejutan sebenarnya belum dimulai.
Satu dekade berlalu. Kini, pepohonan maple di halaman belakang rumah Montgomery mulai berguguran. Arthur duduk di kursi roda, menatap Dedi yang sedang menyapu daun-daun kering. Khadijah berdiri di dekat jendela, memegang hasil rontgen suaminya yang baru saja keluar pagi ini. Tangannya gemetar.
Dedi didiagnosis menderita kanker paru-paru stadium akhir. Pria yang tak pernah merokok, pria yang selalu menjaga napasnya tetap bersih dengan zikir, kini sedang menghitung nafas terakhirnya seiring dengan jatuhnya daun maple terakhir.
"Dedi," panggil Arthur dengan suara parau. "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku bahwa kau sakit?"
Dedi berhenti menyapu. Ia mendekati mertuanya, berlutut di samping kursi roda. "Pohon maple tidak pernah mengeluh saat daunnya jatuh satu per satu, Ayah. Ia tahu, setelah musim dingin yang mematikan, Allah akan menumbuhkan tunas yang baru. Begitu juga hidup saya. Saya sudah meraih ridho Allah melalui pelayanan saya pada Anda dan Khadijah. Itu sudah cukup."
Khadijah keluar menemui mereka. Ia menangis sesenggukan. "Mas Dedi, kau selalu berkorban. Kenapa kau simpan ini sendiri?"
Dedi memegang tangan istrinya. "Ikhlas itu seperti akar pohon maple di bawah salju, Khadijah. Tak terlihat, kedinginan, tapi dialah yang menopang kehidupan. Aku sudah menyerahkan nafas ini pada pemilik-Nya sepuluh tahun lalu, saat aku memutuskan mencintaimu karena-Nya."
Malam harinya, di bawah sinar bulan yang memantul pada salju tipis yang mulai turun, Dedi Mulyana menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang, dengan kalimat La ilaha illallah yang nyaris tak terdengar namun menggetarkan ruangan.
Seminggu setelah pemakaman yang dihadiri oleh komunitas Muslim Ottawa dan para kolega akademisnya, Arthur Montgomery memanggil Khadijah ke ruang kerjanya.
"Ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang suamimu," kata Arthur. Ia mengeluarkan sebuah dokumen tua yang menguning. "Sepuluh tahun lalu, aku meremehkannya karena dia tak punya nama ningrat. Tapi Dedi melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh bangsawan mana pun di dunia ini."
Khadijah membuka dokumen itu. Ternyata, selama sepuluh tahun, Dedi secara rutin menyisihkan seluruh gaji penelitiannya—yang ternyata sangat besar karena penemuannya di bidang biokimia dipatenkan—untuk membiayai yayasan panti asuhan dan sekolah di pelosok Jawa atas nama Arthur & Elizabeth Montgomery.
Dedi ingin membasuh kebencian mertuanya bukan dengan kata-kata, tapi dengan pahala jariah yang dialirkan atas nama mertuanya.
"Dia membayar penghinaanku dengan surga, Catherine," Arthur menangis hebat. Pria ningrat Anglo-Saxon itu kemudian mengeluarkan sebuah kertas kecil dari sakunya. Itu adalah syahadat yang ditandatangani Arthur secara rahasia di hadapan imam masjid lokal, dua hari sebelum Dedi wafat.
"Dedi tidak hanya menyelamatkan nyawaku saat badai salju itu. Dia menyelamatkan jiwaku dari kegelapan kebencian. Dia adalah guru sejatiku dalam memahami makna tawakal."
Khadijah menatap ke luar jendela. Pohon maple itu kini benar-benar gundul. Namun, ia tidak lagi sedih. Ia tahu, di bawah lapisan salju yang dingin, akar-akar cinta Dedi telah menanamkan keimanan yang abadi di hati ayahnya. Nafas Islam di Ottawa tidak lagi terasa asing; ia hangat, ia meresap, dan ia kekal.
Khadijah memejamkan mata, berbisik pada angin musim dingin, "Aku ikhlas, Mas. Seratus ribu persen, aku rida."
---
Langkah kaki Dedi terbenam hingga ke lutut dalam timbunan salju yang membeku. Di pundaknya, tubuh Sir Arthur Montgomery yang kian mendingin terasa seberat dosa-dosa dunia yang tengah ia pikul menuju pintu ampunan. Badai di Ottawa malam itu bukan sekadar cuaca, melainkan amukan alam yang seolah ingin menguji sejauh mana napas seorang hamba sanggup bertahan.
Berikut adalah monolog batin Dedi Mulyana di tengah badai tersebut:
“Bismillah... Ya Allah, kuatkan pundak yang ringkih ini. Jika Engkau tak beri tenaga pada tulang-tulangku, niscaya aku sudah luruh bersama debu salju yang buta ini. Dingin ini menusuk, ya Rabb, namun ia tak sepedih tatapan mata Ayah mertuaku saat pertama kali aku mengucap salam di rumahnya. Ia melihatku sebagai debu, sebagai ancaman, sebagai pembawa kegelapan.
Tapi malam ini, biarkan tubuh debu ini menjadi perisainya. Biarkan langkah kaki dari kaki Gunung Malabar ini menjadi jalan keselamatannya. Aku tidak sedang menolong orang yang membenciku, aku sedang mencoba meraih rida-Mu lewat pengabdian pada manusia yang paling sulit kucintai.
Setiap tarikan napasku terasa seperti pecahan kaca yang menyayat paru-paru. Perih. Namun, bukankah Engkau yang mengajarkan bahwa cinta sejati adalah saat tangan kanan memberi dan tangan kiri pun tak tahu? Ayah Arthur, andai kau tahu, di balik jubah muslim yang kau benci ini, ada detak jantung yang mendoakan hidayah untukmu di setiap sujud yang sunyi. Aku tidak butuh namaku tercatat di silsilah keluargamu yang agung, aku hanya ingin namamu dan namaku bertemu di daftar hamba yang Kau ampuni.
Selangkah lagi... sedikit lagi... Salju ini putih, seputih kafan yang mungkin suatu hari akan membungkusku di tanah asing ini. Tapi aku rida. Jika aku harus berhenti bernapas di sini, demi menyelamatkan nyawa orang yang belum mengenal-Mu, maka biarlah kematian ini menjadi risalah dakwah yang paling jujur. Aku tak punya harta, tak punya tahta, aku hanya punya keikhlasan yang kuperas dari keringat dan air mata selama sepuluh tahun ini.
Ya Allah, jika daun maple harus gugur untuk memberi jalan bagi tunas baru, maka biarlah egoku yang gugur malam ini. Biarkan kebenciannya luruh bersama es yang mencair. Aku pasrah... 100.000 persen aku serahkan hidup dan matiku pada-Mu. Selamatkan dia, ya Rabb... selamatkan dia agar ia punya waktu untuk melihat betapa indahnya cahaya-Mu.”
Dedi terus melangkah, matanya nyaris tertutup es, namun hatinya menyala lebih terang dari lampu jalanan Ottawa yang remang.
---