Sandi Teguh dikenal sebagai "Arsitek Ketakutan". Buku-bukunya, mulai dari Jerit di Balik Dinding hingga Perjamuan Iblis, selalu merajai rak best-seller. Ia ahli dalam mendeskripsikan bau busuk mayat yang bangkit dari kubur atau dinginnya jemari hantu yang mencekik leher. Namun, malam ini, di ruang kerjanya yang remang-remang, Sandi menyadari satu hal yang paling mengerikan: monster paling ganas yang pernah ia temui tidak memiliki taring atau mata merah. Monster itu bernama Nia Rahmawati, wanita yang selama tiga tahun ini ia panggil sebagai kekasih.
Sandi menatap layar laptopnya yang berkedip. Kursi di seberang mejanya kosong, namun ia bisa merasakan kehadiran Nia di sana, seolah-olah aroma parfum melati kesukaan wanita itu telah menyatu dengan debu di ruangannya. Bagi Sandi, mencintai Nia adalah seperti menulis bab terakhir dalam novel horor tanpa pernah tahu kapan titik terakhir akan diletakkan. Hubungan mereka adalah labirin kaca; semakin Sandi mencoba mencari jalan keluar, semakin ia terluka oleh pantulan bayangannya sendiri yang dihancurkan oleh kata-kata Nia.
"Kau tidak akan pernah menjadi penulis hebat tanpa aku, Sandi," suara Nia bergema di kepala Sandi, mengalahkan bunyi detak jam dinding. Itu adalah kalimat yang diucapkan Nia setiap kali Sandi berhasil menyelesaikan satu draf. Nia tidak pernah memberikan apresiasi. Baginya, Sandi adalah tanah liat yang harus ia tekan, ia remas, dan ia bentuk sesuai keinginannya hingga hancur. Horor nyata dimulai ketika kecemburuan Nia berubah menjadi obsesi patologis. Nia tidak cemburu pada wanita lain; ia cemburu pada imajinasi Sandi. Ia merasa tersaingi oleh tokoh-tokoh fiksi yang diciptakan kekasihnya.
Sandi teringat kejadian bulan lalu. Ia sedang asyik mengetik adegan klimaks tentang seorang pria yang terjebak di ruang bawah tanah, ketika tiba-tiba Nia masuk dan menyiram laptopnya dengan kopi panas. "Kau lebih peduli pada hantu-hantu bodoh ini daripada aku yang berdiri di depan matamu!" teriak Nia kala itu. Wajahnya yang cantik berubah menjadi topeng kemarahan yang lebih menyeramkan daripada ilustrasi sampul buku Sandi. Sandi hanya bisa terpaku, melihat draf ribuan katanya lenyap dalam kepulan asap sirkuit yang terbakar. Itulah horor pertama: hilangnya suara dalam rumah sendiri.
Kini, Sandi mencoba mengetik lagi, namun jari-jarinya kaku. Nia Rahmawati memiliki cara unik untuk menyiksa mentalnya. Nia adalah ahli dalam gaslighting. Ia akan meyakinkan Sandi bahwa setiap kegagalan Sandi adalah kesalahan Sandi sendiri, dan setiap keberhasilan Sandi adalah berkat "bimbingan" Nia. Jika Sandi mencoba protes, Nia akan menangis histeris, mengancam akan menyakiti diri sendiri, lalu kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa dalam hitungan detik. Perubahan mood yang drastis itu bagi Sandi lebih mencekam daripada kemunculan jumpscare di film-film horor kelas teri.
Suatu malam, Sandi menemukan Nia duduk di ruang tamu dalam kegelapan total. Di tangannya ada pisau dapur kecil yang biasa digunakan untuk memotong buah. Nia tidak bicara, hanya menatap Sandi dengan tatapan kosong yang dalam. "Sandi," bisiknya lirih, "jika kau menulis tentang kematian di bukumu, apakah kau tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang benar-benar nyata?" Malam itu, Sandi tidak berani tidur. Ia terjaga sambil memegang gagang pintu kamar yang dikunci rapat, menyadari bahwa ia sedang tinggal bersama ancaman yang jauh lebih nyata daripada kutukan kuno mana pun.
Horor asmara mereka mencapai puncaknya ketika Sandi memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Ia sudah lelah menjadi hamba sahaya emosional. Namun, Nia bukanlah wanita yang mengenal kata "selesai". "Kita tidak akan pernah putus, Sandi Teguh," kata Nia dengan senyum yang tidak mencapai matanya. "Kau adalah naskahku. Dan aku belum selesai menulismu." Sejak hari itu, teror fisik dimulai. Nia mulai menguntitnya, mengirimkan pesan-pesan gelap setiap jam, dan yang paling mengerikan: Nia mulai menyusup ke dalam draf-draf tulisan Sandi di komputer, mengubah dialog-dialog tokohnya menjadi pesan ancaman pribadi.
Sandi melihat layar laptopnya lagi. Tiba-tiba, kursor bergerak sendiri. Sebuah kalimat muncul di bawah paragraf yang baru ia tulis: Jangan coba-coba pergi, Sayang. Aku ada di balik pintu.
Jantung Sandi seolah berhenti berdetak. Ia menoleh perlahan ke arah pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka. Di celah sempit itu, ia melihat satu mata Nia yang tajam, menatapnya dengan penuh kemenangan. Sandi menyadari, novel horor terbaiknya tidak akan pernah diterbitkan oleh penerbit mana pun. Karena novel itu sedang ditulis oleh Nia Rahmawati, menggunakan darah dan kewarasan Sandi sebagai tintanya. Di kamar itu, di antara tumpukan kertas dan bayang-bayang, Sandi akhirnya paham: horor sejati bukan tentang apa yang ada di bawah tempat tidur, tapi tentang siapa yang tidur di samping kita.
Sandi Teguh melepaskan keyboard-nya. Ia pasrah. Ia membiarkan pintu itu terbuka lebar, membiarkan "horor" nyatanya masuk dan menyelimuti seluruh hidupnya dalam kegelapan yang tak berujung. Keikhlasannya untuk hancur di tangan Nia adalah titik balik yang paling menyedihkan. Seribu persen, ia tahu, ia tak akan pernah bangun dari mimpi buruk ini.
---
Suasana di dalam ruang kerja Sandi mendadak mencekam. Udara terasa berat, seolah oksigen telah dihisap keluar oleh keberadaan Nia yang kini berdiri tepat di ambang pintu. Ia tidak menerjang, tidak pula berteriak. Ia hanya berdiri di sana dengan gaun tidurnya yang putih, kontras dengan kegelapan lorong di belakangnya.
Nia melangkah masuk, langkah kakinya nyaris tak terdengar, seperti hantu yang bergeser di atas lantai pualam. Ia berhenti tepat di belakang kursi Sandi, lalu meletakkan tangannya yang dingin di bahu pria itu.
"Sedang menulis tentang apa hari ini, Sandi?" bisik Nia. Suaranya lembut, namun mengandung getaran yang membuat bulu kuduk Sandi berdiri.
Sandi tidak menoleh. Jemarinya kaku di atas keyboard. "Tentang seorang pria yang kehilangan jiwanya, Nia. Kau puas?"
Nia terkekeh kecil, sebuah bunyi yang lebih kering dari daun jatuh. "Kehilangan jiwa? Itu terlalu klise untuk penulis sepertimu. Kenapa tidak menulis tentang seorang pria yang mencoba lari dari satu-satunya orang yang mencintainya, lalu menyadari bahwa ke mana pun ia pergi, wajah wanita itu ada di setiap cermin yang ia temui?"
"Itu bukan cinta, Nia. Itu obsesi. Itu penjara," suara Sandi bergetar, menahan amarah yang bercampur dengan ketakutan yang mendalam.
Nia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Sandi hingga Sandi bisa merasakan napas wanita itu yang berbau melati dan logam. "Penjara adalah tempat di mana kau aman, Sayang. Di luar sana, dunia akan menertawakanmu. Mereka hanya mencintai tulisanmu, bukan kau. Tapi aku? Aku mencintai setiap retakan di mentalmu. Aku mencintai ketakutan yang kau ketik dengan tangan gemetar ini."
Nia meraih tangan Sandi, menggenggamnya dengan kekuatan yang mengejutkan. "Tahu kenapa ceritamu begitu hidup belakangan ini? Karena aku yang memberimu bumbu ketakutan yang nyata. Tanpa aku, kau hanya penulis romansa picisan yang membosankan. Kau membutuhkanku untuk tetap menjadi 'hebat'."
Sandi mencoba menarik tangannya, namun Nia mempererat cengkeramannya. Mata Nia kini menatap tajam ke arah layar laptop. "Hapus paragraf terakhir itu, Sandi. Pria di ceritamu tidak boleh mati. Ia harus tetap hidup, menderita selamanya dalam pelukan kekasihnya. Seperti kau. Seperti kita."
"Kau gila, Nia," desis Sandi.
Nia tersenyum, sebuah senyuman yang tampak retak di bawah cahaya lampu meja yang temaram. "Gila adalah kata yang digunakan orang lemah untuk mendefinisikan cinta yang totalitas. Sekarang, ketik kembali. Aku ingin melihat bagaimana kau mendeskripsikan rasa sakitmu malam ini. Ingat, aku memperhatikan setiap huruf yang kau tekan."
Sandi menunduk. Di bawah tatapan Nia yang mengintimidasi, ia mulai mengetik kembali. Setiap ketukan tombol keyboard terasa seperti paku yang menancap di peti matinya sendiri. Horor di atas kertas kini benar-benar kalah oleh horor yang tengah berdiri, membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang yang mematikan.
---