Sungai Guadalquivir mengalir tenang, membelah tanah Andalusia dengan riak air yang seolah menyimpan ribuan rahasia peradaban. Di tepiannya yang ditumbuhi pohon-pohon zaitun dan mawar yang harumnya merayu sukma, matahari senja mulai menyepuh langit Granada dengan warna jingga keemasan. Al-Mansur, dengan jubah linen sederhana yang menyembunyikan identitasnya sebagai Putra Mahkota dari Sultan Muhammad XII, berdiri mematung di balik bayang-bayang pilar batu yang telah lumutan. Matanya tak berkedip menatap ke arah sebuah batu besar di pinggir sungai, di mana seorang gadis bernama Laila duduk dikelilingi oleh anak-anak yatim piatu yang wajahnya menyimpan duka perang.
Laila bukanlah putri bangsawan dengan perhiasan zamrud dari Maroko, namun baginya, gadis itu adalah permata paling murni di seluruh semenanjung Iberia. Dengan suara selembut hembusan angin pagi di pegunungan Sierra Nevada, Laila melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Setiap makhraj yang keluar dari bibirnya bagaikan tetesan embun yang jatuh ke atas tanah gersang. Ia tidak hanya membaca; ia sedang mengajarkan makna shabrun jamil, kesabaran yang indah, kepada tunas-tunas muda Granada di tengah kepungan tentara Isabella dan Aragon yang kian menyempit. Al-Mansur seringkali datang menyamar sebagai penuntut ilmu hanya untuk bisa berdiskusi dengannya, merasakan kedalaman tauhid dalam setiap untaian kalimat gadis itu. Baginya, Laila adalah personifikasi dari Andalusia yang sedang sekarat; tetap anggun, tetap beriman, meski maut sudah berada di depan gerbang kota.
Suatu hari, di bawah naungan pohon willow yang merunduk seolah ikut bersujud, Al-Mansur memberanikan diri mendekat. "Wahai saudariku yang dimuliakan Allah, bagaimanakah kau tetap bisa melantunkan ayat-ayat penuh ketenangan ini, sementara deru meriam Kastila sudah mulai menggetarkan dinding-dinding Al-Hambra?" tanyanya dengan nada yang sarat akan kegelisahan seorang pangeran yang merasa gagal melindungi rakyatnya. Laila menoleh, matanya jernih layaknya mata air di surga, memancarkan kedamaian yang tak mampu dibeli dengan emas manapun. "Wahai hamba Allah yang saleh," jawab Laila pelan, "kekuasaan manusia hanyalah pinjaman sekejap mata. Jika hari ini Granada jatuh, itu bukanlah akhir dari Islam. Iman tidak bersemayam pada menara-menara masjid atau marmer istana, melainkan di dalam dada yang rida pada ketentuan-Nya. Tugas kita hanyalah menjaga cahaya ini tetap menyala, meski badai inkuisisi mencoba memadamkannya."
Dialog demi dialog mereka jalani dalam naungan ilmu. Al-Mansur jatuh cinta pada keteguhan hati Laila yang luar biasa. Ia adalah tipe wanita yang dalam karya-karya sastra sering digambarkan sebagai bidadari bumi yang lebih mencintai akhirat daripada perhiasan dunia. Namun, takdir sejarah tak memberikan ruang bagi cinta untuk mekar lebih lama. Januari 1492 menjadi saksi bisu berakhirnya kejayaan Islam yang telah bertahta selama tujuh abad. Perjanjian Granada ditandatangani, dan kesedihan yang tak terlukiskan menyelimuti kota. Al-Mansur berdiri di atas balkon Al-Hambra, menatap panji-panji salib yang mulai berkibar menggantikan bendera bulan sabit. Hatinya hancur bukan hanya karena takhta yang hilang, tetapi karena ia tahu bahwa perpisahan dengan Laila adalah keniscayaan yang paling pahit.
Hari pengusiran itu tiba. Sultan Boabdil diperintahkan meninggalkan kota menuju pengasingan di pegunungan Alpujarras. Al-Mansur, sebagai putra mahkota, harus ikut dalam rombongan penguasa yang kalah. Di tengah perjalanan yang penuh isak tangis rakyat itu, ia memacu kudanya sebentar menuju tepian Guadalquivir yang dulu menjadi saksi pertemuan mereka. Di sana, ia melihat Laila berdiri sendirian, memeluk mushaf tua peninggalan ayahnya. Tidak ada kata-kata perpisahan yang manis, tidak ada janji untuk kembali membangun rumah tangga. Al-Mansur menyerahkan sebuah cincin kerajaan ke tangan Laila, namun gadis itu menolaknya dengan lembut. "Simpanlah perhiasan ini, Pangeran. Aku tahu siapa engkau sebenarnya sejak pertama kali kau memandang sungai ini dengan mata penuh beban negara. Doaku akan selalu bersamamu melintasi lautan dan pegunungan. Tapi aku tidak akan ikut. Aku akan tetap di sini, menjaga api Al-Qur'an ini di ruang-ruang bawah tanah, meski namaku harus berganti dan identitasku harus disembunyikan."
Al-Mansur terisak, air matanya jatuh membasahi pelana kuda. Ia menyadari bahwa cinta mereka adalah risalah yang harus terputus oleh hitam putih sejarah. Saat rombongan kerajaan bergerak menjauh, Al-Mansur menoleh untuk terakhir kalinya dari bukit Sigh of the Moor. Ia melihat sosok Laila yang kian mengecil di tepi sungai, tetap tegak berdiri meski angin kencang menerpa kerudungnya. Granada telah jatuh, istana telah berpindah tangan, dan cinta paling tulus dalam hidupnya harus ia titipkan pada penjagaan malaikat. Ia melepaskan segalanya dengan keikhlasan yang mutlak, menyadari bahwa di dunia yang fana ini, pertemuan hanyalah persinggahan sebelum perpisahan yang panjang. Di atas bukit itu, ia bersumpah akan menjaga iman yang diajarkan Laila, hingga kelak mereka dipertemukan kembali di tepian sungai yang lebih indah di surga, di mana tidak akan ada lagi peperangan, pengusiran, maupun air mata perpisahan. Risalah cinta mereka berakhir sebagai catatan sunyi di antara reruntuhan kejayaan Andalusia yang agung.
---
Ratapan di Bukit Nafas Terakhir
Di atas bukit ini, Laila
Angin Alpujarras mengirimkan dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum sejarah
Aku berdiri menatap Granada yang perlahan tenggelam dalam kabut air mata
Menatap menara-menara Al-Hambra yang kini bisu, tak lagi memanggil nama-Nya
Kita adalah saksi dari sebuah zaman yang sedang disembelih
Di hadapan angkara murka dunia yang tak punya rasa iba.
Laila,
Masih terngiang di telingaku, desau Guadalquivir yang kau hiasi dengan Surah Ar-Rahman
Suaramu adalah satu-satunya benteng yang tak bisa diruntuhkan meriam-meriam Aragon
Meski hari ini jubah kebesaranku hanyalah sehelai kain duka
Dan mahkota ayahku jatuh ke lumpur pengkhianatan yang nista
Aku tidak menangis karena takhta yang dirampas paksa
Aku menangis karena risalah cinta kita kini harus ditulis di atas debu pengusiran.
Betapa menyayat hati, melihat kiblat-kiblat itu mulai berpaling wajah
Sementara kau tetap di sana, menjadi lilin di tengah kegelapan inkuisisi yang jalang
Kau memilih menetap di tanah yang kini mengutuk nama kakek-nenek kita
Demi menjaga satu titik api iman agar tak padam dihisap zaman
Wahai jiwa yang tenang, wahai mawar yang tetap harum di tengah bara
Keikhlasanmu adalah tamparan bagi aku yang sempat ragu pada takdir Sang Pencipta.
Ya Allah, di tengah amuk badai sejarah yang menyapu peradaban kami
Aku titipkan Laila pada penjagaan-Mu yang lebih kokoh dari dinding-dinding Alcazaba
Jika di bumi Andalusia ini kami tak lagi punya sejengkal tanah untuk bersujud bersama
Maka izinkanlah rindu ini menjadi jembatan cahaya menuju keabadian
Aku rida, ya Rabbi, seratus ribu persen aku rida atas pedihnya perpisahan ini
Karena aku tahu, cinta yang lahir dari rahim iman tak akan pernah tamat oleh sejarah yang fana.
Selamat tinggal, Granada yang agung
Selamat tinggal, Laila, kekasih yang mengajarkanku arti tawakal yang membahana
Sampai jumpa di tepian telaga Al-Kautsar, di mana tak ada lagi raja yang diusir
Dan tak ada lagi cinta yang dipisahkan oleh angkara murka manusia.
---