Lampu hijau menyala di persimpangan itu, membiarkan deru mesin kendaraan kembali mengisi ruang udara yang sempat beku oleh ketakutan. Dunia di sekitarku kembali normal seolah tidak ada darah yang baru saja tertumpah ke aspal, seolah tidak ada tulang yang baru saja beradu dengan kepal tinjuku. Namun, di dalam rongga dadaku, sesuatu telah patah dengan bunyi yang lebih nyaring dari retakan kaca. Aku berjalan pulang dengan langkah gontai, menyeret bayanganku sendiri yang tampak kusam di bawah lampu jalanan. Tangan ini masih gemetar hebat, sisa adrenalin yang berpacu dengan rasa mual yang mendesak di tenggorokan. Setiap langkah terasa seperti mendaki bukit penderitaan yang tak berujung.
Sesampainya di kost-an yang sempit, aku segera menutup pintu rapat-rapat, menguncinya seolah ingin mengunci seluruh iblis yang baru saja merasuki jiwaku di luar sana. Begitu grendel besi itu berbunyi klik, pertahananku luruh seketika. Aku jatuh terduduk, punggungku bersandar pada pintu kayu yang lapuk, dan tubuhku runtuh. Dinginnya lantai semen merayap masuk ke pori-pori kulit, namun tak mampu mendinginkan api kecemasan yang meledak hebat di dalam kepala. Anxiety yang selama bertahun-tahun kupendam di balik senyum sapa yang ramah, kini pecah berkeping-keping. Aku merasa seperti bejana tanah liat yang dihempaskan ke batu karang; hancur, tak berbentuk, dan tak berarti.
Ingatanku melayang pada wajah Zahra, wanita yang dulu kukira adalah pelabuhan terakhir dari segala lelahku. Kami berpisah bukan karena pengkhianatan yang nista, bukan pula karena orang ketiga yang merampas bahagia. Kami berpisah karena kelelahan yang menggerogoti akar-akar kepercayaan. Zahra adalah jiwa yang luka oleh masa lalunya, jiwa yang tak pernah bisa benar-benar percaya bahwa ada laki-laki yang tulus mencintainya tanpa pamrih. Selama pernikahan kami, aku merasa seperti terdakwa yang setiap harinya harus membuktikan kesetiaan di bawah mikroskop kecurigaan. "Mas, kau di mana? Dengan siapa? Mengapa kau tertawa saat menelepon?" Kalimat-kalimat itu adalah cambuk harian yang perlahan menyayat harga diriku sebagai seorang suami. Aku telah memberikan segalanya, seluruh baktiku, seluruh nafkahku, bahkan seluruh privasiku, namun di matanya, aku tetaplah sosok yang berpotensi menjadi pendusta.
Kami bercerai tanpa suara tangis bayi di rumah kami, karena rahimnya seolah ikut membeku bersama hatinya yang penuh syak wasangka. Perpisahan itu kuterima dengan dada sesak, mencoba tetap tegar layaknya lelaki yang paham akan takdir. Namun ternyata, luka itu tidak pernah mengering; ia hanya membusuk di dalam, menjadi nanah yang hari ini meledak dalam bentuk pukulan membabi buta kepada orang asing di jalanan hanya karena masalah sepele. Aku menatap bayanganku di cermin kusam di sudut kamar. Wajah di sana tampak asing, matanya merah menyala oleh penyesalan, dan buku-buku jarinya pecah-pecah berlumur darah. Apakah ini aku? Apakah hamba-Mu yang hina ini telah berubah menjadi monster karena tak sanggup memikul beban ujian-Mu?
Air mata mengalir, membasahi luka di tangan, rasa perihnya menjadi dzikir yang menyakitkan. Aku teringat pesan-pesan suci dalam kitab yang sering kubaca, tentang kesabaran yang tak bertepi dan keikhlasan yang seluas samudera. Aku menyadari bahwa selama ini aku hanya berpura-pura ikhlas, sementara di sudut hati yang paling gelap, aku masih menyimpan dendam pada takdir dan kemarahan pada Zahra yang tak pernah menghargaiku. Malam itu, di atas sajadah yang mulai berdebu, aku bersujud. Bukan sujud biasa, melainkan sujud penyerahan total. Aku membiarkan keningku lama menyentuh bumi, membiarkan seluruh egoku hancur lebur bersama tanah.
"Ya Rabb, jika Engkau mengambil duniaku, jangan Kau ambil hidayah-Mu dariku. Jika Engkau menghancurkan hatiku, susunlah kembali dengan cinta-Mu yang abadi," bisikku di sela isak tangis yang mulai mereda. Aku melepaskan Zahra sepenuhnya, memaafkan setiap tuduhannya yang melukai, memaafkan setiap kecurigaannya yang meruntuhkan mentalku. Aku mengikhlaskan statusku sebagai duda yang gagal, mengikhlaskan kesendirianku di kamar kost yang sunyi ini, dan mengikhlaskan tangan yang penuh noda ini untuk menerima hukuman-Mu atau ampunan-Mu. Keikhlasan itu mengalir seperti air zam-zam yang menyejukkan kerongkongan yang kering. Seribu, sejuta, bahkan seratus ribu persen, aku pasrahkan sisa nafasku pada skenario-Mu yang Maha Indah. Besok aku akan menyerahkan diri, menebus kesalahan atas perkelahian itu, namun malam ini, aku telah menang melawan diriku sendiri. Di bawah langit kamar yang gelap, aku menemukan cahaya itu kembali; cahaya tawakal yang membuat setiap beban terasa seringan kapas di atas hamparan kasih sayang Sang Khalik.
---
Lampu-lampu kantor polisi yang berpijar pucat di kejauhan tampak seperti mata-mata raksasa yang menuntut kejujuran. Aku berdiri di ambang pintu masuk, sementara di dalam relung batinku, sebuah ruang monolog yang luas dan gema suaranya memantul-mantul, menjadi pengadilan yang jauh lebih mengerikan daripada kursi pesakitan mana pun.
Inikah akhir dari perjalananmu, Ihsan? Suara hatiku bertanya dengan nada yang sangat tajam, layaknya sembilu yang menyayat batin. Lelaki yang dulu sujudnya panjang, kini berdiri di depan gerbang kehinaan karena kepalan tangan yang tak sanggup menahan beban amarah.
Aku memejamkan mata, membiarkan kegelapan di balik kelopak mataku menjadi layar lebar yang memutar ulang fragmen-fragmen hidupku. Aku teringat Zahra—istriku yang dulu kucintai dengan seluruh ketulusan, namun justru cintaku itu yang ia jadikan penjara kecurigaan. Setiap kali aku pulang terlambat karena mencari nafkah halal, ia menatapku seolah aku baru saja membasuh noda perselingkuhan. Ia tidak pernah percaya. Ia tidak pernah tenang.
Kenapa kau biarkan kata-katanya yang beracun itu menetap di nadimu, Wahai Hamba Allah? Suara itu kembali berbisik, kini lebih lembut, seperti usapan angin di padang pasir. Kau menceraikannya dengan lisan, tapi kau tetap memenjarakan dirimu dalam dendam yang ia tanam. Pukulanmu di jalanan tadi bukan untuk orang asing itu, melainkan luapan dari rasa tidak berdayamu menghadapi ketidakadilan yang kau terima di rumahmu sendiri. Kau memukul bayang-bayang kegagalanmu menjadi seorang pelindung yang dipercaya.
Dadaku sesak. Isak tangis yang tanpa suara itu menggetarkan seluruh sendi tulangku. Benar. Aku telah menjadi tiran bagi diriku sendiri. Aku menyalahkan Zahra atas traumaku, namun aku justru memupuk trauma itu hingga ia tumbuh menjadi monster yang liar.
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, batinku merintih, jika ini adalah jalan yang Engkau pilihkan agar aku benar-benar luruh di hadapan-Mu, maka aku terima. Aku tidak akan lagi lari. Aku tidak akan lagi bersembunyi di balik alasan bahwa aku adalah korban pernikahan yang gagal. Aku adalah pelaku. Aku adalah pendosa yang butuh ampunan-Mu.
Kurasakan beban berat yang selama ini menindih pundakku—beban berupa harga diri yang terluka dan ego lelaki yang hancur—perlahan-lahan menguap. Aku membayangkan Zahra, wajahnya yang cantik namun selalu tegang oleh was-was, dan di dalam monolog suci ini, aku berkata padanya: Zahra, aku memaafkanmu. Seratus ribu persen, aku mengikhlaskan setiap kata-katamu yang dulu merobek hatiku. Kau tidak salah, kau hanya tidak tahu cara mencintai. Dan aku tidak salah, aku hanya belum tahu cara berserah.
Ketenangan yang aneh mulai menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Rasa takut akan jeruji besi, rasa takut akan pandangan hina manusia, semua itu mendadak terasa kecil di hadapan kebesaran janji-Mu bahwa Engkau Maha Pengampun. Di dalam hati ini, ruang yang tadinya penuh dengan teriakan kecemasan, kini berganti menjadi masjid yang hening.
Tawakal bukan berarti diam tanpa usaha, tapi menyerahkan hasil akhir setelah kaki melangkah ke jalan yang benar, bisik hati nuraniku untuk terakhir kalinya sebelum aku melangkah masuk.
Aku menarik napas panjang. Udara malam yang dingin terasa seperti air wudu yang menyucikan batin. Aku tidak lagi merasa sebagai pecundang yang dibuang istri. Aku adalah seorang lelaki yang telah merdeka dari penjara egonya sendiri. Dengan bismillah yang paling tulus, aku melangkah masuk ke dalam kantor polisi itu. Bukan untuk menyerah pada hukum manusia, melainkan untuk menjemput ridha-Nya dalam sebuah pertobatan yang paripurna. Aku ikhlas. Seribu, sejuta, bahkan tak terhingga persen, aku rida atas apa pun yang tertulis di Lauhul Mahfuz untukku hari ini.
---
Di balik jeruji besi yang dingin, aroma pengap dan suara gerendel besi yang beradu menjadi musik latar bagi hatiku yang kini justru merasa lebih merdeka daripada saat aku berada di luar. Aku duduk bersila, jemariku tak lagi memegang gawai yang penuh dengan pesan kecurigaan dari masa lalu, melainkan menghitung butiran tasbih imajiner dalam napas yang mulai teratur. Hari ini, mereka membawaku ke sebuah ruangan kecil yang disekat kaca buram. Di seberang meja, duduk seorang lelaki paruh baya dengan perban melingkar di kepala dan memar biru yang masih menghiasi sudut matanya—korban dari ledakan amarahku yang membabi buta.
Inilah saatnya, Ihsan, bisik nuraniku di ruang monolog yang kini terasa sejuk seperti embun pagi di pesantren. Bukan untuk membela diri dengan alasan trauma pernikahan, bukan untuk mencari pembenaran atas perlakuan Zahra yang dulu merobek harga dirimu. Tapi untuk bersujud pada kebenaran.
Lelaki itu menatapku, matanya memancarkan kemarahan yang wajar, namun ada secercah kelelahan yang sama dengan apa yang kurasakan. Aku menunduk sedalam-dalamnya, bukan karena takut pada hukum manusia, tapi karena rasa malu yang menghujam jantungku di hadapan Sang Pencipta. "Pak," suaraku bergetar, namun tenang, "saya tidak akan meminta Bapak memaklumi saya. Saya adalah lelaki yang kalah oleh egonya sendiri. Saya memukul Bapak bukan karena Bapak salah, tapi karena saya terlalu pengecut untuk menghadapi luka di hati saya sendiri. Saya mohon maaf, dari dasar jiwa yang paling hancur, saya mohon maaf."
Keheningan merayap di antara kami, mencekam namun suci. Lelaki itu, Pak Surya namanya, menghela napas panjang yang terdengar seperti beban berat yang dilepaskan. "Kau tahu, Nak?" suaranya parau, "Aku juga baru kehilangan pekerjaanku hari itu. Aku sedang kalut, dan klaksonku mungkin memang terlalu kasar. Tapi melihatmu menyerahkan diri tanpa paksaan, polisi bilang kau datang sendiri dengan wajah penuh penyesalan... itu mengubah niatku untuk menuntutmu habis-habisan."
Di dalam hatiku, sebuah gema takbir berkumandang pelan. Inilah keajaiban dari sikap pasrah yang seratus ribu persen. Ketika kita berhenti melawan takdir, takdir justru berbalik memeluk kita dengan kelembutan. Pak Surya bercerita bahwa ia butuh biaya pengobatan, namun ia tidak ingin melihat pemuda sepertiku hancur di penjara hanya karena satu kekhilafan fatal. Akhirnya, sebuah kesepakatan damai lahir dari rahim keikhlasan. Aku akan bekerja di bengkel miliknya setelah masa penahanan singkatku selesai untuk mengganti biaya pengobatannya—sebuah solusi yang tak hanya menyembuhkan luka fisiknya, tapi juga memberiku tujuan hidup baru yang jauh dari bayang-bayang kegagalan rumah tanggaku.
Terima kasih, Ya Rabb, monologku menutup percakapan batin malam itu. Zahra mungkin tidak percaya padaku, dunia mungkin sempat menganggapku monster, tapi Engkau memberiku jalan untuk memperbaiki diri.
Aku berjalan kembali ke sel dengan langkah yang ringan. Win-win solusi ini bukan sekadar tentang bebas dari tuntutan hukum, tapi tentang kemenangan atas diri sendiri. Pak Surya mendapatkan saudaranya yang baru, dan aku mendapatkan kembali martabatku yang sempat hilang di telan anxiety. Aku pasrah, aku rida, dan dalam sujud syukurku di atas ubin semen, aku merasakah keikhlasan yang mutlak. Pelangi itu ternyata muncul bukan setelah badai berlalu, tapi tepat di tengah badai saat kita memutuskan untuk berhenti mengutuk hujan. Aku telah sampai pada titik nol, dan dari sana, aku akan membangun kembali istana takdirku yang hanya bersandarkan pada-Mu.