Desa Kedungombo adalah desa yang hidup dari sungai. Dahulu, Sungai Brantas mengalir jernih, membawa rezeki ikan melimpah, dan suara riaknya adalah musik pengantar tidur. Namun, dalam lima tahun terakhir, perusahaan tekstil di hulu mulai membuang limbah. Sungai Brantas berubah menjadi keruh, berbau, dan sunyi.
Pak Tani (60 tahun), seorang nelayan yang kini beralih menjadi buruh serabutan, merasa kehilangan separuh jiwanya. Anak-anak di desa sering sakit kulit. Ikan-ikan mati mengambang. Warga sudah mencoba berdemonstrasi, namun perusahaan itu terlalu kuat. “Tidak ada lagi harapan,” kata sebagian warga.
Lia (15 tahun), cucu Pak Tani, adalah satu-satunya yang masih memiliki semangat. Ia membuat jurnal dan mendokumentasikan setiap perubahan warna air, setiap ikan yang mati, dan setiap penyakit yang diderita tetangganya. Ia sadar, data adalah senjata. Ia mengirim laporannya ke berbagai lembaga lingkungan, namun tak ada respons signifikan.
Suatu malam, Lia nekat menyusuri sungai ke hulu. Ia menemukan pipa besar yang memuntahkan cairan ungu pekat ke sungai. Ia segera memotretnya. Namun, saat ia berbalik, dua penjaga pabrik menangkapnya.
“Mau apa kamu di sini?!” hardik salah satu penjaga. Lia gemetar, tapi ia teringat suara riak sungai yang hilang. Ia memberanikan diri. “Saya hanya ingin sungai kami kembali jernih! Kalian merusak rumah kami!”
Penjaga itu merampas ponsel Lia, menghapus semua bukti foto. Namun, sebelum mereka menyita ponselnya, Lia telah berhasil mengirimkan satu video ke grup chat warga. Saat Lia dibawa kembali ke desa, ia melihat pemandangan tak terduga.
Seluruh warga desa, dipimpin oleh Pak Tani, sudah berkumpul di tepi sungai. Mereka tidak membawa pentungan atau spanduk; mereka membawa tanaman air dan karung berisi arang aktif. Mereka mulai menanam di sepanjang tepian sungai, memasang filter air sederhana di sekitar pipa pembuangan. Mereka melakukan aksi damai pemulihan lingkungan yang mustahil diabaikan.
Berita tentang aksi damai warga Kedungombo, yang didukung video Lia, viral di media sosial. LSM lingkungan akhirnya turun tangan. Perusahaan tekstil itu mendapat sanksi berat dan diwajibkan membangun instalasi pengolahan limbah yang layak.
Setelah beberapa bulan, dengan upaya warga yang tak kenal lelah, air Sungai Brantas perlahan berubah. Warna ungu hilang, digantikan oleh warna cokelat muda. Ikan-ikan kecil mulai muncul. Suatu sore, Pak Tani memancing lagi. Ia tidak mendapatkan ikan, tetapi ia mendengar sesuatu yang sangat dirindukannya: suara riak air sungai yang kembali bersuara. Ia tahu, alam dan manusia harus hidup berdampingan, karena kerusakan pada satu akan selalu melukai yang lain.