Jam terus berdetak.
Jarum menunjukkan pukul 00.01.
“Haah, kenapa gue gak bisa tidur?" gumamku.
Aku terus berguling gelisah di atas kasur.
Kakiku tidak juga berhenti bergerak.
“Giska!" terdengar suara yang tak asing memanggilku.
“Iya" jawabku.
Aku berjalan keluar kamar.
Tapi.
“Gue kan tinggal sendiri," bisikku.
Mataku bergerak gelisah.
Bulu kudukku tiba-tiba berdiri.
“Siapa itu?" ucapku pelan.
Orang itu tak merespon.
Dia hanya duduk diam di sofa depan TV.
“Kamu siapa?" tanyaku lagi.
Aku berjalan pelan menghampirinya.
Orang itu menoleh pelan ke arahku.
Aku berdiri. Mematung.
Entah kenapa wajah itu tak asing bagiku.
Orang itu tersenyum hangat.
Tapi.
Lama kelamaan senyumnya menjadi semakin lebar. Bahkan seluruh wajahnya hampir hilang.
Mataku terbuka lebar.
Jantungku berdetak cepat.
Nafasku memburu.
Keringat dingin membasahi tubuhku.
Aku mematung.
"Kenapa gue gak bisa teriak?” batinku.
"Tubuh gue juga gak bisa gerak?.”
Semakin aku berusaha, terasa semakin sulit.
Air mataku jatuh.
Orang itu berjalan pelan mendekatiku.
Wajahnya mendekati wajahku.
"Kamu milikku!” bisiknya.
Mataku terbelalak.
Dia mengusap wajahku dengan tangannya.
Tiba-tiba seluruh duniaku menggelap.
....
Aku tersentak bangun saat alarm berbunyi.
Ku lihat sekelilingku.
"Gak ada siapa-siapa,” gumamku.
Aku menyadari sesuatu.
"Kenapa gue tidur di sofa?” batinku.
"Perasaan semalem gue tidur di kamar?!” gumamku.
Tiba-tiba hpku berbunyi.
“Halo," jawabku.
“Lu dimana?! Udah jam berapa ini!?” suara si penelpon menyadarkanku.
Aku melihat jam.
"Gila, udah jam sepuluh!” teriakku.
Aku langsung berlari ke kamar dan bersiap untuk berangkat ke kampus.
Tapi.
“Giska!" Suara tak asing itu kembali memanggilku.
“Ya," jawabku.
Aku berjalan keluar kamar.
Langkahku terhenti.
“Kenapa rasanya kaya gak asing?" gumamku.
Aku langsung menggelengkan kepala.
“Gila, gila, halu parah sih gue," ucapku tertawa.
Aku kembali ke kamar, dan duduk di depan meja rias.
"Kayanya hari ini gue pake blush coral deh,” ucapku sambil mencari blush on di laci.
Aku tersenyum saat memakai blush on itu.
Tapi.
Diriku yang berada di cermin menunjukkan ekspresi datar.
"Perasaan gue udah senyum!?” gumamku.
"Kayanya rusak deh ini cermin,” ucapku.
Dan mengambil cermin kecil di laci.
Aku tersenyum kembali.
Tapi.
Diriku yang berada di cermin itu meneteskan air mata.
Nafasku terasa berhenti.
"Aaaaaaaaaakkkk………!!!”
Aku berteriak dan langsung melempar cermin kecil itu.
Tiba-tiba aku mendengar suara tawa disampingku.
Aku melirik pelan ke arah cermin meja rias.
Diriku yang berada di cermin itu tertawa terbahak-bahak.
Aku langsung terjatuh dari tempat dudukku.
Jantungku terasa berhenti berdetak.
Tubuhku gemetar tak terkendali.
Ting!.
Bunyi hp mengagetkanku.
Aku tidak bisa bergerak.
Tubuhku membeku.
Ting!.
Ting!.
Ting!.
Bunyi hp terus berbunyi tiada akhir.
Aku duduk meringkuk.
Aku menutup telinga dengan kedua tanganku.
Mataku sudah dibasahi air mata.
Pandanganku menjadi tidak jelas karena air mataku.
Akhirnya.
Aku bergerak perlahan membuka hpku.
Ada banyak pesan masuk.
“Giska, kenapa kamu takut?.”
"Kamu adalah milikku!."
“Dan aku adalah milikmu!."
"Kenapa kamu begitu terkejut?.”
"Aku selalu bersamamu!.”
"Kita tidak pernah terpisahkan, Giska!.”
“Kenapa kamu tidak bisa mengenalku!."
“Aku…."
“Adalah dirimu!."
Aku langsung membeku membaca pesan itu.
Kepalaku sibuk bergerak kesana dan kemari.
“Lu siapa?" teriakku.
“Kenapa lu ganggu hidup gue?" histerisku.
Tapi.
Aku malah mendengar suara tawa menggema di seluruh ruangan.
Aku gemetar ketakutan.
"Kenapa suara ini gak asing di telinga gue?!” batinku.
Aku terdiam.
Tubuhku seperti kosong.
"Aku?” gumamku.
Flashback.
"Giska, lu kenapa kemarin kabur?” tanya seseorang.
Aku menatap bingung orang itu.
"Dih parah lu! Malah kek orang bingung gitu,” ucapnya sambil menepuk tubuhku dengan akrab.
Aku terperanjat kaget.
"Kamu siapa?” tanyaku.
"Kamu?! Lu kenapa tiba-tiba pake kamu!? Kamu?!” ucapnya tertawa tak percaya.
Aku mengernyit.
"Dih parah banget lu! Masa lupa ama gue!” ucapnya menamparku pelan.
Aku tidak terima, dan langsung menamparnya hingga dua kali.
Orang itu terbelalak.
"Lu kenapa Ka?" gumamnya pelan.
“saya gak kenal sama kamu! Dan juga nama saya bukan Giska!” ucapku berjalan melewatinya.
Orang itu menganga.
Ia terus memegangi pipinya yang memerah.
Aku berjalan pulang.
Saat aku akan masuk ke dalam rumah.
“Giska, semalem ibu dengar keributan di rumah kamu. Ada apa?" tanya tetangga.
Aku menatap datar ke arahnya.
“Gak ada apa-apa!" jawabku ketus.
Ibu itu terlihat kesal.
“Yeee, ditanya bener malah judes begitu!" ucapnya dengan kencang.
Aku tidak memperdulikannya, dan langsung masuk ke dalam rumah.
“Kenapa mereka terus memanggil aku Giska! Aku bukan Giska!" histerisku.
Flashback selesai.
“Ingatan siapa itu?" gumamku gemetar.
Tiba-tiba terdengar ketukan dari balik tembok.
Aku mendekat perlahan.
Tok.. tok… tok…
Aku mencoba mengetuk tembok dengan tangan gemetar.
Tembok itu terasa aneh.
Aku langsung mengetuk bagian lain.
"Kenapa bunyinya beda?” batinku.
Aku langsung berlari keluar kamar, dan bergegas menuju gudang.
Mataku mencari sesuatu.
Palu.
"Ketemu,” gumamku.
Aku langsung berlari kembali ke kamar.
Aku memukul tembok dengan palu.
Brak!.
Brak!.
Brak! Brak! Brak!.
Tanpa kusadari.
Senyum licik nampak dari wajahku.
Tiba-tiba ada yang terjatuh.
"Jasad,” bisikku.
Terdengar tawa memenuhi ruangan.
"Mirip seseorang,” gumamku.
Aku melihat ke cermin.
Aku mengedipkan mata perlahan.
Senyum lebar nampak di wajahku.
“Giska!."
“Kamu milikku!," ucapku lembut.
Aku melirik ke arah jasad itu.
Wajahku datar.
“Wajah itu milikku!.”
“Kamu mencurinya dariku!.”
"Aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku.”
"Kamu tidak pernah ada di dunia ini,"
“Kamu lah yang meminjam namaku."
“Aku…”
"Aku Giska!” ucapku datar.
"Dan kamu Inka.”
“Selama ini kamu mencuri namaku.”
“Aku kehilangan diriku.”
“Kini aku menjadi diriku seutuhnya."
"Selamat tinggal saudara kembarku.”
"Sekarang kamu bisa berlari dan berjalan dengan bebas disana.”
"Kamu pasti lelah selama ini berada di balik tembok itu,”
"Sekarang aku sudah membebaskanmu.”
“Aku Giska yang asli."
Air mataku menetes.
Tapi.
Aku tersenyum.
Jasad Inka terlihat sedikit bergerak.
Matanya terbuka.
Dan terlihat senyum di wajahnya mengembang.
Sama seperti di cermin dan di sofa malam itu.