Semua orang tahu siapa Angky.
Cowok ganteng, tinggi, kulit bersih, senyum mahal. Sudah kerja di salah satu perusahaan ternama di kota, motornya keren, bajunya selalu rapi. Namanya sering jadi bahan bisik-bisik para gadis. Tapi bukan cuma karena wajahnya.
Angky terkenal player.
Katanya, pacarnya ada di mana-mana. Hari ini jalan dengan yang satu, besok upload foto dengan yang lain. Banyak yang berharap jadi “yang terakhir”, tapi tak ada yang benar-benar berhasil mengikatnya.
Sampai suatu sore, semuanya berubah.
Bella berdiri di depan gerbang sekolahnya, masih memakai seragam SMA. Rambutnya panjang terurai, wajahnya manis dengan lesung pipi yang muncul setiap kali ia tersenyum. Ia gadis polos, lugu, dan terlalu jujur untuk dunia yang penuh drama.
Saat itu hujan turun deras. Bella kebingungan karena payungnya rusak. Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depannya.
“Naik. Nanti kamu kebasahan,” kata Angky singkat.
Bella menatapnya tanpa rasa kagum seperti gadis lain. Ia justru menyipitkan mata.
“Kakak ini siapa?” tanyanya polos.
Angky hampir tersedak. Biasanya gadis-gadis langsung tahu namanya.
“Angky.”
“Oh… yang katanya punya pacar banyak itu ya?” jawab Bella santai.
Itu pertama kalinya Angky merasa tertampar oleh kalimat sederhana.
Bukannya tersinggung, ia justru tertawa. Ada yang berbeda dari gadis ini. Tidak ada tatapan tergila-gila. Tidak ada suara dibuat-buat manja. Bella hanya menjadi dirinya sendiri.
Sejak hari itu, Angky sering datang ke sekolah Bella. Awalnya hanya ingin melihat senyum lesung pipinya. Lama-lama, ia mulai merasa gelisah kalau sehari saja tidak bertemu. Beberapa Minggu kemudian mereka jadian ternyata Bella Juga suka sama Angky. Setelah resmi pacaran Ia tidak pernah cemburu berlebihan, tidak pernah memeriksa ponsel Angky, tidak pernah menuntut ini-itu.
Suatu hari, saat Angky mencoba menggoda,
“Bella, kamu tahu nggak sih banyak cewek yang mau jadi pacar aku?”
Bella mengangguk.
“Tahu.”
“Kamu nggak takut aku selingkuh?”
Bella menatapnya lurus, lalu tersenyum kecil. Lesung pipinya muncul sempurna.
“Kalau kau selingkuh, ya berarti kau bodoh. Dasar bodoh. Idiot.”
Angky terdiam.
Seumur hidupnya, belum pernah ada cewek yang berani bilang begitu di wajahnya. Biasanya mereka memuji, memuja, atau menangis memohon.
“Kamu… berani banget ya ngomong begitu,” gumamnya.
Bella mengangkat bahu.
“Ya memang begitu. Kalau sudah punya yang baik tapi masih cari yang lain, itu namanya bodoh.”
Alih-alih marah, Angky malah tertawa keras. Entah kenapa, kata “bodoh” dari Bella terdengar seperti candaan paling manis.
Lama-lama ia terbiasa.
Setiap kali ia lupa menjemput Bella tepat waktu,
“Angky, kau ini ya… bodoh sekali sih.”
Saat ia salah pakai baju yang tak serasi,
“Idiot, warnanya tabrakan.”
Aneh, tapi justru itu yang membuatnya merasa dekat. Bella tidak pernah takut kehilangan. Ia percaya kalau seseorang benar-benar mencintai, ia tak akan pergi.
Dan untuk pertama kalinya, Angky mulai menghapus satu per satu nomor perempuan lain di ponselnya.
Teman-temannya kaget.
“Serius lu sama anak SMA itu?”
“Bro, banyak yang lebih cantik.”
“Jangan-jangan cuma sementara.”
Angky hanya tersenyum. Mereka tak tahu rasanya ditatap Bella dengan mata jujur tanpa pamrih. Tak tahu bagaimana satu lesung pipi bisa membuat jantungnya tak karuan.
Gadis-gadis yang dulu dekat dengannya mulai cemburu. Ada yang menyindir Bella polos, ada yang bilang Bella cuma anak kecil.
Suatu hari Bella mendengar itu.
“Kamu malu nggak sih punya pacar anak SMA?” tanya Bella pelan.
Angky menggeleng.
“Malu? Justru aku bangga. Kamu satu-satunya yang nggak pernah ngejar aku. Kamu bikin aku yang ngejar.”
Bella tersenyum lagi. Lesung pipinya muncul.
“Aku nggak mau jadi salah satu, Angky.”
“Kamu bukan salah satu,” jawab Angky mantap. “Kamu satu-satunya.”
Sejak bersama Bella, Angky berubah. Ia tak lagi suka pamer dengan perempuan lain. Ia pulang tepat waktu, lebih sabar, bahkan teman-temannya heran melihatnya menolak ajakan nongkrong demi menjemput Bella belajar kelompok.
Suatu malam, di bawah lampu jalan yang temaram, Bella berkata pelan,
“Angky.”
“Iya?”
“Aku beneran jatuh cinta sama kamu.”
Angky menatapnya lama. Hatinya hangat.
“Tau nggak, Bella… kamu cewek pertama yang pernah bilang aku bodoh dan idiot, tapi juga cewek pertama yang bikin aku takut kehilangan.”
Bella terkekeh kecil.
“Ya jangan bodoh lagi, berarti.”
Angky tertawa.
“Iya, Nona Lesung Pipi.”
Di antara banyak gadis yang pernah singgah, hanya Bella yang tinggal. Hanya Bella yang mampu membuat seorang player berubah menjadi lelaki yang setia.
Karena kadang, cinta tidak datang dari yang paling sempurna.
Tapi dari yang paling tulus.
Selesai