Sheila selalu percaya bahwa cinta adalah soal rasa. Soal degup yang tiba-tiba tak beraturan saat melihat nama seseorang muncul di layar ponsel. Dan bagi Sheila, nama itu adalah Eros.
Eros adalah lelaki yang ia cintai sejak dua tahun lalu. Sosoknya mirip seperti Eros dalam mitologi—membuat orang jatuh cinta tanpa bisa memilih. Bersamanya, Sheila belajar arti berbunga-bunga. Tertawa karena hal sepele. Menunggu balasan chat seperti menunggu hujan di musim kemarau.
Tapi mencintai Eros juga berarti belajar menunggu tanpa kepastian.
Eros selalu punya alasan. Kariernya belum stabil. Ia ingin bebas dulu. Ia belum siap bicara soal masa depan. Setiap kali Sheila menyinggung pernikahan, Eros hanya tersenyum tipis dan menggenggam tangannya tanpa janji.
Sementara di sisi lain, ada Steven.
Steven bukan tipe lelaki yang membuat jantung berdebar kencang. Ia tidak seromantis Eros. Tidak pandai merangkai kata-kata puitis. Tapi ia selalu ada. Menjemput Sheila saat hujan. Mengantar ibunya ke rumah sakit tanpa diminta. Mengingat ulang tahun Sheila bahkan sebelum jam menunjukkan pukul dua belas.
Steven mencintainya dengan cara yang tenang.
Ketika orang tua Sheila mulai mendesak soal masa depan, Steven datang dengan niat serius. Ia melamar Sheila dengan sederhana, tanpa drama, tanpa bunga berlebihan—hanya cincin dan keyakinan.
“Aku nggak janji hidup kita selalu mudah,” katanya waktu itu. “Tapi aku janji, aku nggak akan ninggalin kamu sendirian.”
Sheila terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat. Berat karena ia tahu, hati kecilnya masih menyimpan nama Eros.
Malam sebelum memberikan jawaban pada Steven, Sheila menemui Eros.
“Aku dilamar,” ucapnya pelan.
Eros terkejut, lalu tertawa kecil. “Cepat juga ya kamu.”
“Aku nunggu kamu dua tahun, Ros,” suara Sheila bergetar. “Kalau aku tetap di sini, kamu bisa kasih aku kepastian?”
Eros terdiam lama. Tatapannya menghindar. “Aku belum siap, She. Aku nggak mau janji yang nggak bisa aku tepati.”
Dan di situlah hati Sheila seperti dijatuhkan pelan-pelan.
Ia sadar satu hal. Cinta memang tentang rasa. Tapi hidup bukan hanya tentang rasa. Hidup tentang memilih siapa yang bertahan ketika rasa itu naik turun.
Beberapa hari kemudian, Sheila menerima cincin dari Steven.
Bukan karena ia tidak lagi mencintai Eros.
Tapi karena ia lelah mencintai sendirian.
Di hari pertunangannya, Steven menggenggam tangannya erat, seolah takut kehilangan. Tatapannya penuh syukur, bukan sekadar bangga.
“Terima kasih sudah memilih aku,” bisiknya.
Sheila tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan degup liar seperti saat bersama Eros. Tapi rasa hangat. Aman. Tenang.
Dan mungkin, pikirnya, cinta yang baik bukan selalu yang membuat kita terbakar. Kadang cinta yang baik adalah yang membuat kita pulang.
Beberapa bulan setelah pertunangan, Eros mengirim pesan singkat.
Kalau waktu bisa diulang, mungkin aku akan memilih siap untukmu.
Sheila membaca pesan itu tanpa air mata.
Karena kini ia tahu, dicintai dengan tulus jauh lebih menyembuhkan daripada terus mengejar seseorang yang belum tentu memilih kita.
Ia mematikan layar ponsel, lalu berjalan ke ruang tamu, tempat Steven sedang memperbaiki lampu yang rusak.
“Kenapa lihat aku begitu?” tanya Steven sambil tersenyum.
Sheila mendekat dan memeluknya dari belakang.
“Karena aku bersyukur,” jawabnya pelan.
Hari itu, Sheila akhirnya mengerti.
Memilih orang yang kita cintai mungkin membuat hati berdebar.
Tapi memilih orang yang mencintai kita… bisa membuat hati bertumbuh.
Sekian