W.E Nian dikenal seluruh negeri.
Wajahnya ada di billboard, suaranya ada di radio, namanya selalu trending.
Orang bilang dia punya segalanya: uang, popularitas, dan ribuan penggemar fanatik.
Tapi yang orang gak tau:
hidupnya diatur jadwal, kontrak, dan kamera.
Tidak ada ruang buat jadi manusia biasa.
Viona bukan siapa-siapa.
Dia kerja di toko buku kecil dekat stasiun.
Setiap hari tangannya bau kertas tua, bukan parfum mahal.
Dia gak pernah bermimpi pacaran sama orang terkenal.
Yang dia mau cuma hidup tenang.
Pertemuan mereka bodoh dan sederhana.
Nian masuk toko buku pakai masker dan topi.
Dia cari buku filsafat, tapi Viona malah kasih novel romansa.
“Lo keliatan capek mikir,” kata Viona datar.
“Coba baca ini, biar inget rasanya jadi manusia.”
Nian ketawa kecil.
Itu pertama kalinya seseorang ngomong ke dia tanpa takut, tanpa kagum berlebihan.
Mereka mulai sering ketemu.
Di taman, di warung kopi kecil, di toko buku itu.
Viona gak pernah minta foto.
Gak pernah pamer ke siapa pun.
Dan itu justru bikin Nian nyaman.
Tapi masalahnya:
kenyamanan itu berbahaya buat orang ternama.
Suatu hari, foto mereka bocor.
Judul berita:
“W.E Nian Pacari Wanita Misterius?”
Fans ribut.
Manajemen marah.
Kontrak iklan terancam.
Manajernya ngomel: “Lo mau cinta atau karier? Pilih satu.”
Dan di sini logika diuji:
Nian bisa aja ninggalin Viona demi aman.
Atau bertahan dan siap kehilangan segalanya.
Viona bukan cewek bodoh.
Dia lihat berita.
Dia dengar hinaan.
“Cewek apaan itu?”
“Cuma numpang nama.”
“Dia gak pantas.”
Viona sadar satu hal:
Kalau dia bertahan, hidup Nian bakal lebih susah.
Dan kalau dia pergi, hidup Nian bakal lebih gampang.
Jadi dia pergi duluan.
Tanpa drama.
Tanpa nangis di depan kamera.
Cuma satu pesan:
“Lo terlalu besar buat dunia kecil gue.”
Nian kehilangan fokus.
Album tertunda.
Wajahnya sering kosong di wawancara.
Orang pikir dia capek kerja.
Padahal dia capek pura-pura gak kehilangan apa-apa.
Dan di titik ini, Nian akhirnya jujur sama dirinya sendiri: Popularitas itu bisa dicari lagi.
Tapi rasa dimengerti gak bisa dibeli.
Dia cari Viona.
Ke toko buku itu.
Ke kos kecilnya.
Viona kaget lihat dia berdiri tanpa masker.
“Lo gila?”
“Semua orang nyari lo.”
Nian jawab pelan: “Gue juga nyari diri gue sendiri. Dan ketemunya lo.”
Tapi masalah belum selesai.
Sekarang bukan cuma soal cinta, tapi realitas:
Kalau mereka bersama: ✔ Viona bakal kehilangan privasi
✔ Nian bakal kehilangan sebagian karier
✔ Mereka bakal diserang opini publik
Ini bukan kisah pangeran-putri.
Ini soal dua manusia yang harus milih mau menderita karena berpisah
atau menderita karena bertahan.
Viona tanya: “Kalau lo jatuh, lo nyesel gak?”
Nian jawab: “Kalau gue gak coba, gue lebih nyesel.”
Mereka muncul bareng di publik.
Tanpa drama.
Tanpa klarifikasi lebay.
Cuma satu kalimat:
“Dia bukan skandal. Dia rumah.”
Fans terbelah.
Sebagian pergi.
Sebagian tetap tinggal.
Kontrak berkurang.
Tapi hidup Nian lebih jujur.
Viona gak jadi putri.
Dia tetap kerja di toko buku.
Bedanya: sekarang dia pulang sama orang yang pilih dia meski dunia nyuruh ninggalin.
AKHIR
Cinta sejati itu bukan soal terkenal atau miskin.
Tapi soal siapa yang lo pilih saat pilihan itu bikin hidup lo lebih susah, bukan lebih enak.
Nian kehilangan sebagian dunia.
Viona kehilangan hidup sunyi.
Tapi mereka dapet sesuatu yang jarang: ➡ hidup tanpa pura-pura
➡ cinta tanpa topeng
➡ dan keputusan yang dibayar mahal, tapi disadari