Cover penulis: JK
Genre: Anak kerjaan putri
Team: Anak tuan raja yang malang
Di sebuah kerajaan megah bernama Arvandia, hiduplah seorang putri bernama Elvaria. Ia adalah anak satu-satunya Tuan Raja Mahendra, penguasa yang dihormati sekaligus ditakuti oleh rakyatnya.
Istana Arvandia berdiri megah dengan dinding marmer putih dan taman bunga mawar yang tak pernah layu. Namun, di balik kemewahan itu, hati Putri Elvaria terasa sepi.
Sejak kecil, ia tidak pernah merasakan pelukan hangat seorang ayah. Tuan Raja Mahendra terlalu sibuk dengan peperangan dan urusan tahta. Ibunda sang putri telah lama wafat karena sakit, meninggalkan Elvaria sendirian di tengah istana yang luas.
Orang-orang memanggilnya “Putri Emas”, tetapi hidupnya tak seindah sebutannya.
Ia tidak diizinkan keluar istana tanpa pengawal. Ia tidak boleh berteman dengan rakyat biasa. Bahkan tawanya pun sering ditegur karena dianggap tidak anggun bagi calon ratu.
Suatu malam, saat bulan bersinar pucat, Elvaria menyelinap keluar menuju taman belakang istana. Di sana, ia bertemu seorang gadis desa yang diam-diam masuk untuk menjual bunga. Namanya Liora.
"Kenapa kau terlihat sedih, Paduka Putri?" tanya Liora polos.
Elvaria terdiam. Belum pernah ada yang bertanya tentang perasaannya.
"Aku punya segalanya," bisiknya pelan.
"tapi tidak punya kebebasan."
Sejak malam itu, mereka diam-diam menjadi sahabat. Liora mengajarkan Elvaria tentang dunia luar, tentang pasar yang ramai, tentang anak-anak yang bermain di sungai, tentang tawa yang lepas tanpa aturan.
Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama.
Tuan Raja mengetahui pertemanan itu dan murka besar. Liora diusir dari kerajaan, dan Elvaria dikurung di kamarnya selama berhari-hari.
Untuk pertama kalinya, Elvaria memberanikan diri menemui ayahnya.
"Ayah," ucapnya dengan suara bergetar, "aku bukan hanya pewaris tahta. Aku juga manusia."
Tuan Raja terdiam. Ia melihat air mata yang jatuh di pipi putrinya, air mata yang selama ini tak pernah ia sadari.
Malam itu menjadi malam terpanjang bagi sang raja. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu fokus mempertahankan kerajaan, hingga lupa menjaga hati anaknya sendiri.
Keesokan harinya, Liora dipanggil kembali. Peraturan istana mulai dilonggarkan. Dan untuk pertama kalinya, Putri Elvaria berjalan keluar gerbang istana tanpa rasa takut.
Ia masih anak tuan raja.
Namun ia bukan lagi anak yang malang.
Karena kini, ia memiliki suara.
Dan seorang ayah yang akhirnya belajar mendengarkan.
Akhirnya ceritanya pun selesai dan terima kasih setelah membaca cerpen!